sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Rencana pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di kawasan pintu masuk Kelurahan Sobo, Kecamatan/Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, menuai penolakan keras dari warga.
Penolakan datang dari warga Perumahan Adimas Sobo Regency yang menilai lokasi TPS3R terlalu dekat dengan permukiman serta berada di wilayah yang selama ini dikenal rawan banjir.
Penolakan tersebut disampaikan warga karena khawatir keberadaan TPS3R akan berdampak langsung pada kualitas lingkungan tempat tinggal mereka.
Mulai dari potensi bau menyengat, gangguan kesehatan, hingga risiko banjir yang dinilai bisa semakin parah.
Ketua Paguyuban Perumahan Adimas Sobo Regency, Guruh Kartiko, mengatakan warga pertama kali mengetahui rencana pembangunan TPS3R saat kegiatan sosialisasi yang digelar di Kantor Kelurahan Kertosari pada 19 November 2025.
Sosialisasi tersebut dihadiri sejumlah RT, RW, serta perwakilan paguyuban warga.
“Saya sempat kaget karena belum ada konfirmasi atau pemberitahuan sebelumnya kepada warga sekitar. Tiba-tiba sudah ada sosialisasi terkait TPS3R di lingkungan Sobo,” ujarnya.
Dalam sosialisasi tersebut, Guruh menyebut warga secara tegas langsung menyatakan penolakan.
Salah satu alasan utama adalah kekhawatiran terhadap bau tidak sedap dari aktivitas pengolahan sampah dalam jumlah besar. TPS3R tersebut disebut akan mengolah sampah hingga sekitar 50 ton per hari.
“Kami menolak karena TPS3R memuat sampah dalam jumlah besar. Dampak baunya pasti akan mengganggu warga sekitar,” tegas Guruh.
Selain persoalan bau, warga juga menyoroti kondisi lingkungan perumahan yang kerap dilanda banjir saat hujan deras.
Lokasi TPS3R yang direncanakan disebut berada di tanah resapan air yang selama ini berfungsi menampung limpasan air hujan dari kawasan sekitar.
“Daerah sini sering banjir. Kalau TPS3R dibangun di tanah resapan, otomatis akan memperparah genangan dan mengganggu aliran pembuangan air. Apalagi kalau hujan, bisa dibayangkan baunya,” lanjutnya.
Upaya dialog pun telah ditempuh warga. Audiensi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banyuwangi dan PT Systemiq Lestari Indonesia digelar pada Selasa (27/1) di Kantor Kelurahan Sobo. Namun, pertemuan tersebut belum menghasilkan kesepakatan.
Page 2
Page 3
“Dalam audiensi itu belum ada titik temu. Selain bau dan banjir, warga juga khawatir nilai investasi rumah turun. Orang pasti berpikir ulang membeli rumah yang dekat dengan tempat pengolahan sampah,” kata Guruh.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menegaskan bahwa penanganan sampah merupakan salah satu prioritas pembangunan daerah. Saat ini, Banyuwangi telah memiliki 28 TPS3R yang tersebar di berbagai kecamatan.
Sekretaris Daerah Banyuwangi Guntur Priambodo mengatakan, Pemkab Banyuwangi telah menjalankan berbagai program pengelolaan sampah.
Mulai dari pengembangan bank sampah, pembangunan TPS3R, hingga penguatan regulasi berupa peraturan daerah, peraturan bupati, dan surat edaran pengurangan penggunaan plastik.
“Kami juga menetapkan pengelolaan sampah sebagai indikator penilaian dalam rapor desa dan kelurahan yang berpengaruh terhadap alokasi anggaran,” ungkap Guntur.
Sementara itu, Kepala DLH Banyuwangi Dwi Handayani menjelaskan bahwa potensi timbunan sampah di Banyuwangi terus meningkat setiap tahun.
Pada 2024, potensi sampah mencapai 306.207,96 ton, sedangkan pada 2025 meningkat menjadi 307.381,40 ton.
“TPS3R memiliki peran penting untuk mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Perlu ditegaskan, TPS3R berbeda dengan TPA,” ujarnya.
Menurut Dwi, TPS3R dirancang sebagai fasilitas pengolahan sampah skala kawasan dengan sistem tertutup dan pengelolaan yang terkontrol.
Dengan desain dan teknologi yang tepat, TPS3R diklaim tidak menimbulkan bau menyengat maupun sampah berserakan.
“Dengan teknologi dan desain yang tepat, TPS3R aman dibangun di sekitar permukiman,” tegasnya.
Pemkab Banyuwangi juga menyatakan komitmennya untuk terus memperluas jaringan TPS3R, termasuk rencana pembangunan di Karetan Kecamatan Purwoharjo, wilayah Kelurahan Sobo Kecamatan Banyuwangi, serta Kecamatan Genteng.
Pantauan Radar Banyuwangi pada Jumat (31/1), penolakan warga Adimas Sobo Regency tampak jelas dengan terpasangnya banner besar bertuliskan penolakan TPS3R di pintu masuk perumahan.
Selain itu, lokasi yang direncanakan sebagai TPS3R terlihat sangat dekat dengan rumah warga, hanya berjarak sekitar satu meter, dipisahkan oleh sebuah got kecil.
Salah satu warga, Firman, yang rumahnya berada paling dekat dengan lokasi rencana pembangunan TPS3R, mengaku sangat khawatir dampak bau akan langsung terasa hingga ke dalam rumahnya.








