Batik Produksi UMKM Banyuwangi Tembus Pasar Asia dan Eropa

0
82
Produk batik UMKM di Banyuwangi yang tembus pasar internasional. FOTO : timesindonesia.co.id

Berawal dari industri rumahan sederhana, Kerajinan Batik Usaha Mikro Kecil Menegah (UMKM) milik Suhaeri (52) warga Dusun Krajan, Desa Tamanagung, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi mampu menembus pasar Asia dan Eropa.

Hal ini bermula pada tahun 2016 lalu. Dengan memanfaatkan alat sederhana dan memakai rumah pribadi menjadi pabrik produksi kecil-kecilan. Dirinya mampu meraup untung hingga Rp 50 juta dalam sebulannya.

Dengan dibantu oleh 4 orang karyawan, Berbagai motif batik mampu Ia produksi. Mulai dari batik tulis hingga batik dengan metode di stampel atau lebih dikenal sebagai batik cap.

“Seluruh motif batik Banyuwangi kita produksi dan dikembangkan disini, serta kita kombinasikan dengan motif batik lainnya.” Ucap Suhaeri, Rabu (28/4/2021).

Untuk pangsa pasar dari produksi batik miliknya, selain menyuplai ke berbagai pusat oleh-oleh di Kabupaten Banyuwangi dan seluruh Indonesia. Dirinya juga mengirim produk hingga ke mancanegara, mulai dari Taiwan, Saudi Arabia, Singapura, hingga ke Amerika Serikat.

Sementara untuk menyasar pasar kalangan anak muda. Dirinya turut menggandeng para selebgram sebagai daya pikat kaum millenial. Selain itu dirinya juga terus mengkombinasikan beberapa motif batik menjadi lebih kekinian.

Lanjutnya, Ia menjelaskan tentang keunggulan produk kerajinan batik yang dimiliki. Menurutnya, batik yang Ia produksi lebih kaya akan motif.

“Untuk disini motifnya banyak sekali, dengan warna yang lebih menggigit. Hal ini karena hampir setiap bulan kita mendesain motif baru, hingga kelebihan kita bisa memanjakan konsumen dengan motif itu,” ungkap pria yang juga lulusan IKIP PGRI Banyuwangi tersebut.

“Selain itu kita juga memakai teknik yang jarang di pakai oleh orang lain, sehingga Galeri Mustika Batik milik kita selalu tampil berbeda,” imbuhnya.

Harga per potong yang dipatok pun cukup ramah dikantong, dengan satuan pis atau 2 meter dihargai mulai dari Rp 80 Ribu sampai Rp 150 Ribu untuk batik cap. Sementara untuk batik tulis mulai dari Rp 350 Ribu hingga Rp 2 Juta Rupiah.

Meskipun pendapatan sempat merosot hingga 40 persen dikarenakan adanya Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia. Dirinya tetap memaksimalkan produksi dan strategi pemasaran untuk memulihkan kembali omzet pada setiap bulannya.

Ia berharap dengan Pandemi Covid-19 ini, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bisa lebih memperhatikan para pelaku UMKM dan perajin batik. Yakni dengan mendirikan pasar seni untuk industri kecil. Hingga bisa lebih mendorong pertumbuhan perekonomian secara langsung kepada masyarakat. (*)

Sumber : https://www.timesindonesia.co.id/read/news/344361/batik-produksi-umkm-banyuwangi-tembus-pasar-asia-dan-eropa