Berita Terkini Seputar Banyuwangi
Sosial  

Belasan Lansia di Satu Desa Kehilangan Kartu BLSM

puluhanPembagian Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) tahap kedua sudah dilaksanakan di berbagai desa di Banyuwangi. Tasmi, salah satu warga miskin di Kecamatan Genteng, gagal mendapat uang Rp 300 ribu tersebut. Berikut ceritanya.

MASIH ada persoalan yang tersisa terkait BLSM. Bagaimana tidak, ada warga miskin yang seharusnya layak mendapatkan kompensasi tapi gagal mendapatkan bantuan yang di kucurkan pemerintah pusat itu. Sejak BLSM dikucurkan tahap pertama, tidak ada perubahan data hingga pembagian tahap kedua. Padahal, pada tahap pertama itu, banyak warga miskin yang tidak menerima bantuan tersebut. Tentu saja, hal itu menimbulkan kesenjangan sosial.

Selain BLSM kurang tepat sasaran, sejumlah warga miskin yang menerima BLSM juga terpaksa gagal mendapatkan bantuan. Gara-garanya, mereka tidak bisa menunjukkan kartu BLSM kepada petugas. Padahal, mereka sudah tercatat dalam data penerima. Masalah tersebut terjadi di Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, kemarin. Sejumlah warga miskin terpaksa gigit jari karena ti dak mendapatkan bantuan .

Gara-ga ranya, mereka tidak membawa kar tu BLSM. Mayoritas kartu BLSM yang me reka miliki ternyata sudah hilang. Salah satu warga yang gagal mendapatkan ban tuan itu adalah Tasmi. Perempuan berusia 80 tahun tersebut harus pulang dari kantor desa dengan tangan hampa. ‘’Saya gak dikasih uang, karena saya gak bawa kartu,’’ ujarnya di rumahnya di Dusun Kopen, Desa Genteng Kulon, kemarin.

Saat mendatangi kantor desa, Tasmi dian tar tetangganya. Dia hanya membawa bekal kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu keluarga (KK). ‘’Kartu saya hilang. Gak tahu saya taruh di mana, saya lupa. Saya lupa ditaruh di mana. Saya cari-cari sampai mumet kepala ini,” keluhnya seraya tangan kanannya memegang kepala. Karena tidak membawa kartu BLSM, dia tidak bisa mendapatkan bantuan seperti yang pernah diterima pada tahap pertama be berapa bulan lalu.

Meski sudah tercatat, tapi bantuan tersebut tidak bisa diterima. “Saya susah sekali,” kata nenek yang sudah tidak bisa bekerja selama beberapa tahun terakhir itu. Selama ini, kebutuhan sehari-hari di penuhi oleh putranya bernama Sumardi, 35. Janda tersebut memang hidup serumah dengan putranya yang belum menikah. ‘’Saya sakit-sakitan sudah lama, jadi ya gak bisa kerja. Jalan saja susah,” tuturnya.

Sore itu, sejumlah warga mengaku prihatin melihat kondisi Tasmi. Nenek tersebut ter lihat gusar. Beberapa kali tangannya memegang kepala. ‘’Saya cari gak ketemu-ketemu. Kepala saya masih pusing, gak tahu hilang di mana,” terangnya. Janda tersebut memang masuk kategori miskin. Pemerintah sudah siap mengucurkan bantuan kepada dia.

Tetapi, garagara kartunya hilang, Tasmi terpaksa tidak bisa menerima bantuan tersebut. Pemerintah desa setempat berusaha agar warga miskin yang sudah terdata bisa men dapatkan bantuan tersebut, meskipun kartu BLSM yang diterima warga  miskin ter sebut hilang. “Ada belasan warga yang kar tunya hilang,” tutur Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Genteng Kulon, Rudi Hartono.

Menurut Rudi, mayoritas kartu BLSM yang hilang itu kalangan berusia lanjut. Mereka tidak begitu paham bahwa kartu BLSM tersebut sangat penting. ‘’Tapi, walau hilang, pemerintah desa sebenarnya siap memberikan surat keterangan miskin,” tegasnya. Pemerintah desa juga mempunyai saran lain, yakni warga miskin yang kehilangan kartu itu melapor kepada pihak berwajib.

Sayang, langkah tersebut tetap ditolak. Menurut petugas PT. Pos Indonesia, kartu BLSM itu sudah menjadi ketentuan dari pemerintah pusat. ‘’Petugas kantor Pos gak bisa berbuat apa-apa,’’ terang pria berkacamata itu.

Sejauh ini, pemerintah desa setempat se ring menerima keluhan dari masyarakat. ‘’Ini memang menjadi masalah,” kata Rudi. Bantuan tersebut memang berdasar data BPS. Tetapi, pembagiannya belum merata. ‘’Contohnya, di satu RT ada sekitar 20 warga miskin. Yang mendapatkan BLSM hanya 10 orang. Akhirnya, bantuan sembako digilir bergantian supaya rata,” tandasnya. (radar)

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE