BANYUWANGI, KOMPAS.com – Di sebuah sudut Desa Rejoagung, Kecamatan Srono, Banyuwangi, suasana di salah satu rumah sederhana tampak berbeda.
Duwi Pratama, seorang anak laki-laki, duduk dengan raut wajah gugup. Di sampingnya, sang ibu yang bekerja sebagai asisten rumah tangga berusaha menenangkan.
Hari itu, Duwi tidak perlu mengantre di puskesmas atau rumah sakit. Harapan justru datang mengetuk pintu rumahnya dalam sosok sepasang suami istri yang membawa tas medis dan senyum menyejukkan.
Mereka adalah Aiptu Setyo Budi Bijaksana dan dr. Khusnul Imama. Di balik seragam polisi dan jas dokter yang mereka kenakan sehari-hari, pasangan ini mendedikasikan waktu luang mereka untuk menggeber program “Sunat On The Road”.
Ya, mereka melakukan aksi ini secara door to door alias dari pintu ke pintu.
Baca juga: Perawat Puskesmas yang Diduga Malapraktik Sunat Laser di Jambi Jadi Tersangka
“Sunat On The Road” merupakan gerakan jemput bola yang menyasar anak-anak dari keluarga kurang mampu, anak yatim, hingga mereka yang terkendala ekonomi.
Konsepnya sederhana namun bermakna. Tindakan khitan dilakukan langsung di rumah pasien. “Kami ingin membantu anak-anak yang kurang beruntung,” ujar Setyo di Banyuwangi, Rabu (4/2/2026).
Dengan mendatangi rumah warga, pasangan ini menghapus beban biaya transportasi hingga rasa minder yang kerap dialami keluarga prasejahtera saat harus datang ke fasilitas kesehatan.
Ide ini lahir dari keprihatinan mereka melihat banyak anak yang sudah waktunya dikhitan, namun terpaksa menunda, karena keterbatasan biaya atau situasi keluarga, seperti tinggal bersama nenek atau berasal dari keluarga broken home.
Meski bersifat sosial, Khusnul memastikan seluruh proses tindakan dilakukan secara profesional dengan standar medis tinggi.
“Ini dikerjakan oleh tim, ada dokter dan perawat. Teknik yang kami gunakan adalah kombinasi laser dan konvensional untuk meminimalkan risiko perdarahan dan pembengkakan,” kata Khusnul.
Baca juga: Dugaan Malapraktik Sunat Laser Bocah di Jambi, Polisi Periksa Pihak Klinik
Tak hanya berhenti di meja tindakan, pendampingan dilakukan hingga anak benar-benar pulih.
Selama satu minggu, kondisi luka, konsumsi obat, hingga asupan gizi anak dipantau melalui koordinasi dengan kader kesehatan setempat.
“Kalau gizinya kurang, kita bantu. Yang penting anak sehat dan pulih dengan baik,” tambah dia.
Menjalankan misi kemanusiaan bukan tanpa hambatan. Setyo mengungkapkan, tantangan terbesar terkadang datang dari stigma sosial.
Page 2
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app






