PASURUAN, KOMPAS.com – Musa Alan Nuril (22) tampak khusyuk. Di jemarinya, sebuah angklung bambu digenggam erat. Ketika aba-aba dimulai, dia menggoyangkan alat musik itu dengan ritme yang terjaga, menciptakan harmoni nada yang jernih di udara sore di Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, Rabu (21/1/2026).
Sore itu istimewa karena Musa dan kawan-kawannya tampil di depan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, yang meresmikan gedung baru UPT Rehabilitasi Sosial Bina Laras (RSBL) Pasuruan.
Namun, bagi Musa, penampilan itu lebih dari sekadar seremoni. Setiap getaran angklung yang dihasilkan adalah cara pemuda asal Banyuwangi ini merayakan “kemenangan” atas suara-suara aneh yang sempat menjajah pikirannya setahun terakhir.
Setahun lalu, hidup pemuda asal Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi ini berubah menjadi labirin yang membingungkan. Telinganya kerap menangkap bisikan-bisikan yang tak didengar orang lain.
Baca juga: Update Banjir Pasuruan, Ratusan KK di Rejoso dan Winongan Masih Terendam hingga 60 Cm
Suara itu begitu nyata, mengajak Musa bercakap, berdebat, hingga dia tak lagi bisa membedakan mana realitas dan mana halusinasi.
“Orang-orang melihat saya bicara sendiri. Awalnya saya tidak sadar, ya saya ladeni saja (suara itu),” kenang Musa lirih.
Adalah sang nenek yang pertama kali menyadari ada yang “patah” dalam diri cucunya. Teguran demi teguran diberikan, hingga akhirnya kesadaran medis mengetuk pintu keluarga mereka.
Pada Desember 2024, Musa dibawa ke RSJ Lawang untuk menjalani perawatan intensif selama 20 hari.
Meski suara-suara itu tak lantas hilang sepenuhnya, perawatan medis memberi Musa “senjata” baru yakni kesadaran.
“Setelah ditangani medis, suara itu kadang masih ada, tapi saya sekarang sadar kalau itu hanya halusinasi. Saya tidak lagi meladeninya,” katanya.
Baca juga: Update Banjir Pasuruan, Winongan dan Grati Masih Terendam hingga 1 Meter
Memulihkan Martabat Lewat Kerajinan
Setelah melewati masa krisis di RSJ, Musa dirujuk ke UPT RSBL Pasuruan. Di sinilah, dia memulai babak baru sebagai penyandang disabilitas mental yang produktif.
Bukan hanya angklung, Musa kini terampil membatik dan menganyam keranjang bambu.
Kesibukan ini menjadi terapi ampuh untuk mengacuhkan sisa-sisa halusinasi yang sesekali masih mampir. Baginya, produktivitas adalah jembatan untuk kembali menjadi “manusia utuh”.
Namun, perjalanan pulang tak selalu semulus nada angklung yang dimainkannya. Di balik rencana kepulangan Musa ke Banyuwangi pada bulan Februari mendatang, terselip realita pahit yang dialami rekan-rekannya sesama penghuni panti.
Maghfirah, petugas UPT RSBL Pasuruan, mengungkapkan tantangan terbesar bagi eks ODGJ bukanlah penyakitnya, melainkan penerimaan sosial.
Page 2
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app







