sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Program pembinaan kepribadian di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuwangi kembali menorehkan prestasi membanggakan.
Tiga orang warga binaan berhasil menyelesaikan penulisan Al-Qur’an berukuran jumbo yang kini digunakan sebagai sarana tadarus selama bulan suci Ramadan di lingkungan lapas.
Al-Qur’an raksasa tersebut memiliki ukuran sekitar satu meter dan ditulis langsung oleh warga binaan melalui program pembinaan berbasis pondok pesantren yang dijalankan pihak Lapas Banyuwangi.
Karya monumental itu menjadi bukti bahwa proses pembinaan di dalam lapas tidak hanya berfokus pada kedisiplinan, tetapi juga pengembangan kepribadian, spiritualitas, serta keterampilan seni.
Menariknya, tiga warga binaan yang terlibat dalam proyek penulisan Al-Qur’an tersebut awalnya tidak memiliki latar belakang atau kemampuan dalam bidang kaligrafi maupun penulisan mushaf Al-Qur’an.
Kemampuan tersebut mereka pelajari dari nol melalui proses pembinaan dan pendampingan intensif yang difasilitasi oleh pihak lapas.
Kepala Lapas (Kalapas) Banyuwangi, I Wayan Nurasta Wibawa, menjelaskan bahwa penulisan Al-Qur’an jumbo tersebut membutuhkan waktu cukup panjang hingga akhirnya dapat diselesaikan dengan baik.
Menurutnya, proses pengerjaan berlangsung sekitar 10 bulan.
“Penulisan Al-Qur’an ini dimulai sejak momentum Ramadan tahun lalu dan diselesaikan sekitar sepuluh bulan kemudian dengan penuh ketelitian,” ujarnya.
Wayan menjelaskan, dalam proses pembinaan tersebut pihak lapas bekerja sama dengan pengrajin kaligrafi profesional untuk memberikan bimbingan kepada warga binaan.
Melalui pendampingan tersebut, para warga binaan secara bertahap belajar memahami teknik penulisan huruf Arab, seni kaligrafi, hingga tata cara penulisan mushaf Al-Qur’an yang benar.
“Meskipun para penulisnya berangkat dari nol tanpa keahlian kaligrafi, berkat ketekunan serta bimbingan dari pengrajin yang kami hadirkan, mereka mampu menghasilkan karya yang luar biasa,” jelasnya.
Dalam proses penulisan tersebut, aspek ketelitian dan keakuratan ayat menjadi perhatian utama.
Page 2
Page 3
Untuk memastikan kesesuaian dengan kaidah penulisan Al-Qur’an, mushaf tersebut terlebih dahulu melalui proses tashih atau pemeriksaan mendalam oleh pihak Pondok Pesantren Nur Cahaya Tarbiyatul Qur’an.
Proses tashih dilakukan untuk memastikan setiap huruf, ayat, dan harakat yang tertulis sudah sesuai dengan standar mushaf Al-Qur’an.
Setelah pemeriksaan selesai, dilakukan pula sejumlah perbaikan pada beberapa bagian yang dianggap perlu disempurnakan.
“Setelah proses tashih dan pemeriksaan ulang, dilakukan pembetulan pada beberapa bagian. Kemudian mushaf dijilid kembali untuk kedua kalinya agar kualitas fisik dan kerapiannya lebih baik,” terang Wayan.
Menurutnya, keberadaan Al-Qur’an raksasa tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat besar bagi warga binaan lainnya, khususnya dalam meningkatkan kegiatan keagamaan selama bulan Ramadan.
Ia juga berharap karya tersebut dapat menjadi inspirasi bagi warga binaan untuk terus berkarya dan memperbaiki diri.
“Kami berharap karya ini membawa manfaat, berkah, sekaligus memotivasi warga binaan lain untuk terus berkarya dan memperbaiki diri,” ungkapnya.
Lebih jauh, Wayan menegaskan bahwa Al-Qur’an jumbo tersebut kini menjadi salah satu pusat kegiatan keagamaan di Lapas Banyuwangi.
Keberadaannya tidak hanya menjadi simbol kreativitas, tetapi juga mencerminkan semangat perubahan dan proses hijrah para warga binaan menuju kehidupan yang lebih baik.
“Al-Qur’an ini nantinya akan terus digunakan secara rutin untuk kegiatan tadarus maupun pengajian di Masjid Lapas,” tegasnya.
Salah satu penulis utama Al-Qur’an tersebut, Moch Chanafi, mengaku sangat bangga bisa terlibat dalam proses penulisan mushaf berukuran besar tersebut.
Bagi Chanafi, pengalaman selama 10 bulan menulis kalam Ilahi menjadi perjalanan spiritual yang sangat berharga dalam hidupnya.
Ia mengaku memulai semuanya dari nol tanpa kemampuan menulis kaligrafi.
Namun melalui proses belajar dan latihan yang panjang, ia akhirnya mampu menyelesaikan tugas tersebut bersama dua rekan warga binaan lainnya.
“Saya sangat bangga bisa menyelesaikan Al-Qur’an raksasa ini. Apalagi saya memulainya dari tidak bisa sama sekali,” ungkapnya.








