Dibangun secara Manual selama Dua Pekan

0
383
JATUH BANGUN: Pembalab berjibaku di sirkuit dekat GOR Tawang Alun.

Ketiadaan fasilitas memadai bagi cabang olahraga bersepeda bukan halangan untuk sebuah even kejuaraan. Setidaknya itu tampak dalam seri pertama dari dua seri kejuaraan balap sepeda bertajuk Bupati Banyuwangi Cup 2012 yang digelar Minggu (4/11) kemarin.

CUACA cerah menghiasi langit kawasan GOR Tawang Alun sepanjang Minggu (4/11) kemarin. Suasana tersebut tentu saja membuat semangat masyarakat yang biasa rutin melaksanakan olahraga pagi di sana. Ragam olahraga, mulai senam, renang, tenis, bulu tangkis, dan lain-lain, bisa ditemui di sana dengan mudah.

Dan itulah yang tampak di areal yang bakal menjadi kawasan olahraga terpadu di Banyuwangi ini. Setidaknya ada sedikit yang berbeda di sekitar GOR Tawang Alun Minggu pagi itu. Pemandangan itu tampak jelas di sekitar stadion yang ada di sisi timur bangunan utama.

Tali berbahan plastik berwarna kuning kombinasi hitam tampak terpasang di beberapa sudut tempat yang ada di sisi luar lapangan bola. Beberapa umbul-umbul juga berkibar mempertegas kesan di sana sedang berlangsung sebuah even kejuaraan. Ya, pagi itu Dinas Pemuda dan Olahraga bersama ISSI Banyuwangi sedang punya hajat bersama.

Even bersama itu sepakat diberi nama dengan kejuaraan balap sepeda memperebutkan piala Bupati Banyuwangi 2012 Selama sehari penuh, lokasi yang biasanya menjadi tempat muda-mudi pacaran, lapangan parkir, hingga anak-anak kecil bermain bola itu berubah menjadi sirkuit balap sepeda. Beberapa bagian dari lahan GOR Tawang Alun disulap menjadi sirkuit balap.

Ini tampak jelas dengan kehadiran bebe rapa rintangan yang sengaja dibuat pa nitia. Gundukan tanah dan karung goni berisi pasir menghiasi sirkuit dengan pan jang satu kali putaran mencapai 2.000 meter tersebut. Selebihnya kondisi tanah yang ada menjadi rintangan yang diubah menjadi tantangan yang wajib ditaklukkan oleh para peserta. Bukan perkara mudah untuk menyulap kawasan GOR Tawang Alun menjadi arena balap sepeda.

Setidaknya panitia penyelenggara yang dimotori oleh pengurus ISSI Banyuwangi membutuhkan lebih dari seminggu dari mendesain hingga menggarap areal yang ada menjadi track balap se peda. Persoalan utama yang sempat menjadi ganjalan adalah luas lahan yang dimiliki. Dengan lahan yang tidak terlalu luas, panitia mencoba menyiasati lintasan lomba dengan beragam cara. Di antaranya dengan mencoba set satu lap dalam jarak 1.000 meter.

Namun jarak ini kemudian dirasakan terlalu pendek. Dengan jarak sepanjang itu, pembalap akan lebih banyak dibuat berputar-putar da lam hitungan lap. Dengan menggunakan jasa konsultan asal Jogjakarta, akhirnya panjang lintasan untuk satu putaran ditambah. Hasilnya dengan sedikit merekayasa lahan yang ada dengan kebutuhan jarak minimal ideal yang diperlukan, diperoleh jarak tempuh sepanjang 2.000 meter.

Di samping itu pengerjaan sirkuit pun  di lakukan secara manual. Panitia turun lang sung untuk membangun sirkuit yang diinginkan dengan durasi waktu lebih kurang dua minggu. Tidak ada peralatan  berat seperti backhoe atau ekskavator sekadar mengeruk tanah. Yang di pergunakan justru adalah pacul, linggis, dan sekop. Bahkan untuk tanah atau pasir yang dipergunakan semua harus dibeli dengan merogoh kocek pribadi panitia.

“Ya semua anak-anak ISSI yang bekerja termasuk persiapan sirkuit mulai pem bangunan sampai uji coba,” beber Bambang Su trisno salah satu panitia penyelenggara. Capek dan lelah tentunya dalam mem persiapkan kejuaraan ini. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat panitia dalam memberikan yang terbaik di ajang ini. Semuanya seolah terbayar lunas manakala seri pertama dari dua seri balapan ini sudah terlaksana Minggu kemarin.

Meski terkesan sederhana ternyata semua pembalap memberikan apresiasi atas sirkuit dan gelaran even ini. Bahkan beberapa pembalap harus rela mencium tanah dan terjun bebas dari sepedanya saat berlaga di ajang ini. Ditambah lagi dengan kondisi cuaca yang panas membuat sirkuit ini menjadi neraka bagi pembalap berpengalaman sekalipun. “Sirkuitnya biasa saja. Track berdebu dan berkerikil menjadi ancamannya. Tetapi cuaca panas membuat persaingan men jadi seru dan sengit antar pembalap,” ujar Renoza, juara Men Under 19 tahun pada ajang balap sepeda Minggu kemarin. (radar)