Dimediasi, Ortu Ridho Tak Puas

2
427

Kasus Cumit Masal Teman Sekelas Berakhir Damai

BANYUWANGI – Kasus dugaan penganiayaan yang menimpa Ridho Aji Pramudya, 15, siswa kelas X Jurusan Nautika Kapal Penangkap Ikan (NKPI) SMKN 1 Glagah akhirnya dituntaskan dengan penandatanganan perdamaian antara orang  tua siswa dan pihak sekolah, kemarin.

Bertempat di Ponpes Muhamamd Cengho, Kelurahan Sumberejo, kedua  belah pihak dimediasi oleh sang  pengasuh Ponpes, Achmad Wahyudi. Berdasarkan keterangan dari Anita  Ratna Sari, ibunda Ridho, dirinya  sempat dibujuk sampai tiga kali sebelum mau menandatangani perjanjian damai dan bersedia mencabut  laporan ke polisi. Sebab, dia mengaku  belum rela peristiwa yang menimpa  anaknya hanya disikapi dengan  permohonan maaf.

Sampai akhirnya Anita luluh karena sang pengasuh Ponpes Muhamamd  Cengho yang akan menjamin kesepakatan di dalam mediasi tersebut. Mediasi diikuti Kepala SMKN 1 Glagah, guru matematika SMKN 1 Glagah, serta beberapa guru dan wakil kepala sekolah.

Usai menandatangani surat  penjanjian damai itu, awalnya Anita sempat merasa tenang. Begitu dibawa ke kantor Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Banyuwangi, Anita mengaku kembali merasa jengkel. Sebab, jawaban dari Cabang Dispendik Jatim dianggap tidak  memberikan solusi dan malah  menyalahkan dirinya.

“Saya merasa disepelekan, apa karena  saya orang kecil. Tapi saya sudah  terlanjur mencabut laporan, padahal kalau saya teruskan ini masuk pidana. Sekolah menawarkan pindah jurusan, tapi masih saya pikir ulang,” terang Anita. Kepala SMKN 1 Glagah Bekti  Afianto yang ditemui Jawa Pos Radar Banyuwangi di kantor Dispendik, tidak terlalu banyak berkomentar. Dia hanya menyampaikan jika masalah sudah usai  dan sekolah sudah berdamai  dengan orang tua siswa.

“Kita berikan solusi pindah jurusan, untuk guru yang dilaporkan juga akan kami tindak sesui dengan prosedur kami. Intinya sudah selesai masalahnya,” kata Bekti. Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur wilayah  Banyuwangi, Istu Handono  menambahkan, pihaknya sudah berupaya melakukan yang terbaik  untuk menuntaskan masalah  ini. Termasuk meminta guru dan  perwakilan sekolah menemui keluarga siswa agar permasalahan  tidak berlarut-larut.

Istu mengaku memperoleh laporan yang versinya berbeda dengan apa yang disampaikan  oleh orang tua siswa di media  masa. Yang pasti, masalah tersebut sudah tuntas meski saat dibawa ke kantornya orang tua  siswa masih tampak belum puas  dengan tindakan yang diambil instansinya.

“Kita sesuai prosedur saja. Kita sudah tegur dari awal kepada gurunya, kemudian setelah surat perjanjian ini guru juga akan kami bina. Sama seperti  ketika siswa bermasalah, kan tidak serta-merta kita keluarkan. Tapi kita bina dulu,” tegas mantan  Kepala SMAN 1 Banyuwangi itu.

Istu meminta kepala Kepala  SMKN 1 Glagah untuk bisa melakukan tindakan preventif agar tidak ada lagi peristiwa semacam  ini. Bagaimana pun juga, program pemerintah saat ini terutama untuk program daerah untuk  pendidikan mengedepankan welas asih.

“Tanpa diperingatkan terlalu keras sebenarnya ini sudah  menjadi hukuman tersendiri bagi guru yang bersangkutan. Dinas dalam hal ini hanya membina, bukan memberikan hukuman yang keras,” pungkasnya. Sebelumnya diberitakan, peristiwa  kekerasan terjadi di jurusan pelayaran  SMKN 1 Glagah, Kamis kemarin  (26/1). Ridho Aji Pramudya, siswa  kelas X jurusan Nautika Kapal  Penangkap Ikan (NKPI) kampus 2  SMKN 1 Glagah, mengaku dicubit keroyokan oleh teman sekelasnya.

Ironisnya, aksi ‘’pencubitan’’ masal yang mengaki batkan bekas lebam di dada siswa itu diduga dilakukan  atas perintah oknum guru.  Akibat aksi cubit masal itu, siswa asal Desa Gambiran, Kecamatan  Gambiran itu melapor ke Polres  Banyuwangi kemarin.

Dia lapor  didampingi kedua orang tuanya terkait beberapa bekas cubitan  yang diterimanya.Saat wartawan  Jawa Pos Radar Banyuwangi menemui Ridho bersama orang tuanya, pasangan Kristriyanto dan Anita Ratna Sari di SMKN 1 Glagah  siang kemarin, siswa berpotongan cepak itu tampak cukup serius  menceri takan peristiwa yang menimpa dirinya.

Ridho mengaku kesal karena peristiwa ini sudah  terjadi dua kali. Anak dari pasangan  Kristri yanto dan Anita Ratna Sari itu menceritakan, bahwa pengeroyokan itu berawal saat dirinya berbicara dengan temannya di tengah pelajaran matematika  berlangsung Rabu lalu (25/1).  (radar)

Loading...


Kata kunci yang digunakan :