Diminta Info, Warga Sekitar Lokasi Bungkam

0
411
BB: Barang bukti tampar dan cobek yang digunakan membunuh korban diamankan di Mapolsek Genteng.

Mengungkap kasus pembunuhan bukan perkara mudah. Namun dalam kasus pembunuhan ibu- anak di Dusun Pandan, Desa Kembiritan, polisi hanya butuh waktu empat hari untuk menangkap pelaku.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

-ABDUL AZIZ, Genteng-

PEMBUNUHAN yang menimpa juragan kerupuk di Dusun Pandan, Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng, baru diketahui warga Selasa (22/5) sekitar pukul 23.00. Itu pun baru diketahui setelah ada seorang sopir yang akan meminta nota penjualan kerupuk ke Pulau Bali. Dia datang selama dua hari berturut-turut ke rumah korban.

Selama dua hari itu, si sopir tidak bisa bertemu korban. Sebab, rumah juragan kerupuk tersebut selalu terkunci rapat, sehingga sopir tersebut memilih lapor kepada ke- tua RT setempat dan diteruskan ke Polsek Genteng. Hasilnya, setelah polisi datang ke tempat kejadian perkara (TKP) dan membuka paksa pintu rumah, juragan kerupuk, Jane Ariswati alias Yeni, dan anaknya, Sherly Kurniawati, ditemukan sudah tidak bernyawa dengan posisi tubuh menggantung.

Tali tampar warna biru menjerat leher kedua korban. Sherly ditemukan dengan kondisi kedua kaki dan tangan terikat tali rafia. Mulut korban juga dijerat tali serupa. Sementara itu, sang ibu hanya lehernya yang dijerat tali tampar. Anus perempuan tua itu mengeluarkan darah. Tentu saja kasus pembunuhan tersebut menggemparkan warga sekitar TKP. Sebab, melihat mayat yang digantung dan dijerat menggunakan tampar, serta berlumuran darah, tentu pelaku sangat keji.

Kehebohan tidak hanya dirasakan warga sekitar. Aparat kepolisian, baik Polsek Genteng maupun Polres Banyuwangi, harus bekerja ekstra keras demi mengungkap kasus tersebut. Malam itu juga polisi melakukan evakuasi kedua mayat korban lalu membawanya ke RSUD Blambangan untuk diotopsi. Pagi harinya (23/5) polisi melakukan sejumlah kegiatan; olah TKP, pengumpulan bahan, dan menggali informasi dari masyarakat.

Nah, selama proses tersebut, sejumlah kendala mulai ditemukan aparat. Salah satunya yang cukup menonjol adalah sikap kurang proaktif masyarakat sekitar TKP ketika dimintai informasi petugas. Entah apa sebabnya. Ketika polisi berusaha meminta informasi, kebanyakan warga memilih bungkam dan menjawab tidak tahu apa-apa. “Kita sebenarnya tahu, bahwa ada masyarakat yang tahu tentang informasi kasus tersebut, tapi mereka memilih bilang tidak tahu,” kata Kapolsek Genteng, Kompol Heru Kuswoto.

Kondisi tersebut tentu sangat menghambat kerja keras aparat Polsek Genteng. Di sisi lain, Kapolres Banyuwangi AKBP Nanang Masbudi sangat menaruh atensi terhadap kasus tersebut. Selain datang langsung ke TKP, kapolres juga tak henti-hentinya memerintahkan anak buahnya agar bekerja ekstra mengungkap kasus tersebut. “Siang malam bahkan pagi hari, beliau telepon terus. Bahkan sampai datang ke Polsek Genteng menanyakan kasus itu,” kata Heru.

Hal ini tentu membuat jajaran Polsek Genteng semakin merasa termotivasi untuk bekerja ekstra keras mengungkap kasus tersebut. Meski masyarakat masih pelit memberikan informasi, mereka tak mau menyerah begitu saja. Rabu itu juga polisi mengerahkan polisi desa, intel, dan reserse mobil (resmob). Keesokan harinya atau Kamis siang, sejumlah informasi mulai didapat.

Salah satu dari beberapa opsi informasi itu menguatkan bahwa pelakunya adalah Dimas, Bayu dan Yazid. Salah satu informasi yang menguatkan bahwa pelakunya adalah ketiga anak tersebut, karena pada Senin malam itu, Dimas, Bayu, dan Yazid, terlihat tak seperti biasanya. Malam itu, mereka bertiga terlihat lebih gagah dan bergaya seolah memegang banyak uang. Teman-temannya di kampung sempat diajak makan-makan di sebuah warung di Genteng. Bahkan dipersilakan makan sepuasnya.

Nah, usai mengajak teman-temannya makan di warung tersebut, berdasar informasi yang diperoleh polisi, ketiganya lalu pesta pora ke lokalisasi Sumberloh, Desa Benelan Kidul, Kecamatan Singojuruh. Dari sini, kemudian polisi langsung mengecek kebenaran informasi tersebut melalui kamera closed circuit television (CCTV) yang dipasang Pemkab Banyuwangi di lokalisasi terbesar di Bumi Blambangan itu.

Hasilnya, melalui CCTV tersebut polisi memang melihat ketiganya masuk ke lokalisasi Sumberloh. Sebagaimana informasi yang disampaikan rekan-rekan ketiga tersangka. Semua informasi dari warga yang diperkuat dengan rekaman CCTV tersebut disampaikan oleh Kapolsek Heru Kuswoto kepada Kapolres Banyuwangi AKBP Nanang Masbudi. Rupanya, ketika menyampaikan informasi tersebut, sejumlah petunjuk disampaikan kapolres kepada anak buahnya.

Saat itu, kapolres menyampaikan bahwa pelaku lari ke arah Malang. Saat itu juga, polisi melakukan pengejaran ke arah kota Malang sebagaimana petunjuk kapolres. “Dari Malang, kapolres ngasih petunjuk lagi bahwa pelaku lari ke arah timur. Sampai akhirnya Sabtu (26/5) pelaku berhasil ditangkap di sebuah hotel di Kota Mataram, NTB,” tuturnya. Dari mana kapolres bisa mendeteksi keberadaan tersangka? Heru mengaku kurang tahu secara pasti. Yang jelas, semua itu tak lepas dari saling memberi informasi antara tim dari Polsek Genteng dan tim dari Polres Banyuwangi.

“Selain itu, kapolres mungkin punya ilmu tersendiri mendeteksi pelaku. Kalau ilmu-ilmu mendeteksi seperti itu kelasnya sudah Mabes Polri,” ungkapnya, sambil tersenyum. Anehnya, setelah kedua pelaku berhasil ditangkap dan dimintai keterangan, masyarakat sekitar TKP yang sebelumnya sempat pelit memberikan informasi, belakangan mulai terbuka. Beberapa pengakuan Dimas dan Bayu kepada penyidik juga dibenarkan warga.

Bahkan, pengakuan kedua tersangka yang menyebutkan sempat membeli dua batang rokok di sebuah warung dekat TKP juga dibenarkan warga. “Setelah tersangkanya kita tangkap, warga mulai berani terbuka,” tuturnya. Bagaimana dengan Yazid yang sampai kemarin belum tertangkap? Berdasar keterangan sementara, yang bersangkutan sempat ikut naik bus bersama Dimas dan Bayu dari Kota Malang menuju Jember.

Bahkan, dari Stasiun Jember, Yazid juga ikut naik kereta api ke bersama dua tersangka yang kini sudah dijebloskan ke ruang tahanan tersebut menuju Stasiun Banyuwangi Baru. Ketika sampai di Stasiun Kalisetail, Kecamatan Sempu, Yazid memilih turun dan balik lagi ke Genteng. Saat itu, kepada dua temannya dia sempat bilang akan menyusul ke Sumbawa. Namun, saat kontak terakhir dengan kedua pelaku, Yazid membatalkan niatnya untuk menyusul ke Sumbawa dan memilih balik lagi ke Malang. “Yang jelas, Yazid akan terus kita cari. Kita mengimbau agar dia menyerahkan diri,” imbaunya. (radar)