Ditawari Mengajar di Pesantren saat Bebas Nanti

0
185
TELATEN: Sugianto menulis mushaf Alquran di Lapas Banyuwangi.

Sugianto, 30, terpidana enam tahun kasus perlindungan anak asal Desa Alasrejo, Kecamatan Wongsorejo itu bersyukur bisa menikmati kehidupan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Banyuwangi. Dia merasa menemukan jati diri dan makna hidup di tempat tersebut.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

-AGUS BAIHAQI, Banyuwangi-

SUGIANTO terlihat keluar dari salah satu blok dalam penjara yang sudah didiami sejak dua tahun lalu. Pemuda berusia 30 tahun itu berjalan sambil menundukkan wajahnya menuju masjid At Taqwa, yang berada persis di tengah kompleks Lapas Banyuwangi. Dengan nada bicara yang pelan dan wajah tampak semringah, Sugianto menemui Kepala Lapas (Kalapas) Banyuwangi Krismono dan sejumlah wartawan yang sudah menunggu di masjid.

“Maaf, tadi malam me nulisnya (menulis Alquran) sampai su buh, jadi tertidur,” cetus Sugianto sambil tersenyum. Setelah berbincang beberapa saat, pemuda yang mengenakan sarung dengan baju koko warna putih dan kopiah putih itu menuju ke masjid, un tuk mengambil peralatannya menulis Alquran raksasa. “Menulisnya pakai spidol besar,” katanya.

Sambil menggenggam spidol, Sugianto menulis dengan tangannya ayat-ayat Allah pada kertas putih jenis AC. Meski tanpa diberi garis, pemuda yang merasa telah dikhianati oleh pacarnya itu tampak lancar dan lurus dalam menulis setiap kalimat. Bahkan, tulisannya juga cukup bagus dan indah. “Alhamdulillah, ini sudah sampai juz yang ke-17,” terang Sugianto.

Sebelum melanjutkan penulisannya, pemuda ini sempat membeberkan masa lalu perjalanan hidupnya yang kelam, sebelum masuk ke Lapas Banyuwangi dan menjadi santri di Pondok Pesantren At Taubah. “Setelah saya pikir-pikir, saya bersyukur bisa masuk ke tempat ini (Lapas),” katanya. Sambil menahan napas, Sugianto menyebut sebelumnya jauh dari kehidupan agama.

Dalam kehidupannya itu, berkenalan dengan seorang perempuan muda dan akhirnya bertunangan. “Saya merasa dijebak dan ditangkap saat berduaan dengan tunangan, lalu dibawa ke kantor polisi,” bebernya seraya menolak menyebut orang yang dianggap telah menjebaknya itu. Dia mengaku sempat marah dan tidak terima saat pertama menjalani kehidupan dibalik jeruji besi.

Apalagi, majelis hakim di Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi yang menyidangkan kasusnya, ternyata dalam putusannya menganggap dirinya bersalah dan memvonis enam tahun penjara. “Rasanya cukup berat,” sebutnya. Tapi setelah dua tahun berada di dalam penjara, disadari kalau jalan yang ditempuh ini merupakan yang terbaik. Apa yang telah menimpa dirinya, dianggap sebagai teguran dari Allah yang begitu sayang pada dirinya.

“Seandainya tidak ditegur oleh Allah, saya tidak tahu akan jadi apa,” katanya sambil tersenyum. Dua tahun berada di Lapas Banyuwangi, dianggap telah banyak mewarnai dalam hidupnya. Belajar agama dan keterampilan menulis kaligrafi, dirasa ilmu yang sangat tinggi. “Kalau tidak pernah hidup di penjara, saya yakin tidak akan bisa menulis kaligrafi,” ujarnya.

Kehidupan yang penuh kearaban di Lapas Banyuwangi, terkadang membuatnya bisa lupa dengan kampung halaman dan keluarga. “Dengan menulis Alquran bisa dibuat untuk kesiukan, sehingga rasa jenuh bisa hilang,” ungkapnya. Meski berada di dalam penjara, Sugianto yang memulai menulis Alquran raksasa ini sejak 7 Maret 2012 lalu. Selama itu pula, dia merasa tidak ada kendala dalam penulisan. Termasuk untuk pengadaan kertas dan spidol.

Semua ini berlangsung lancar, karena Kalapas Krismono mendukung penuh. “Kita mendukung pe-nuh,” jelas Krismono. Untuk membuat Alquran raksasa itu, biayanya memang tidak sedikit. Selain dari Lapas, pihak sponsor banyak yang membantu dalam kebutuhan bahan seperti spidol dan ker-tasnya. “Banyak donator yang telah menyumbang dalam penulisan Alquran raksasa ini,” ungkapnya.

Krismono menyebut, kegiatan warga binaannya dengan menulis Alquran telah banyak menarik perhatian. Tidak sedikit dari kalangan pesantren merasa terkagum dengan ke-terampilan Sugianto dalam menulis kaligrafiini. Di antara kiai, sudah ada yang menawari pada warga binaannya ini untuk menjadi ustad di pe-santrennya. “Sugianto diminta jadi ustad di pesantrennya,” cetusnya. Karya Sugianto bukan hanya penulisan Alquran raksasa.

Selama ini, tidak sedikit dari karyanya berupa kaligrafiyang terjual. Bersama Mahmud, warga binaan yang telah bebas dan juga gurunya Sugianto, telah banyak membuat kaligrafi dan hiasan lain di sekitar Lapas. “Kaligrafidi masjid lapas, semua karya Pak Mahmud dan Sugianto,” katanya sambil me-nunjuk hiasan kaligrafi yang memenuhi masjid. (radar)

Loading...

Kata kunci yang digunakan :