Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Duka Keluarga Korban di Balik Pengangkatan Bangkai Tunu Pratama Jaya

duka-keluarga-korban-di-balik-pengangkatan-bangkai-tunu-pratama-jaya
Duka Keluarga Korban di Balik Pengangkatan Bangkai Tunu Pratama Jaya

detik.com

Banyuwangi

Air mata Nadia Putri Rahmawati, keluarga korban kecelakaan KMP Tunu Pratama Jaya, mengalir deras di TPU Desa Ketapang, Banyuwangi. Ia menaburkan bunga di pusara bernomor B-022 dan B-023, berharap salah satu jenazah yang dimakamkan di sana adalah suaminya yang hingga kini belum teridentifikasi.

Nadia terus merapalkan doa. Sementara itu, sebuah foto berbingkai putih ia dekap erat, matanya sembab menatap kedua nisan itu dengan lekat.

“Saya meyakini jenazah yang diketemukan terakhir itu, memakai celana cargo coklat susu seperti yang dipakai suami saya hari itu,” ungkap Nadia kepada detikJatim, Selasa (10/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Harapannya terhenti, dukanya kian dalam. Luka yang coba ia tutup kembali terbuka. Keinginannya mendapatkan informasi lebih jauh terkait identitas jenazah yang muncul ke permukaan dan dievakuasi ke RSUD Negara pada Senin (2/2/2026) dijawab dengan kebisuan.

Bahkan, pada Kamis (5/2/2026), Nadia dikejutkan kabar bahwa dua jenazah terakhir yang ditemukan saat pengangkatan bangkai KMP Tunu Pratama Jaya telah dimakamkan dalam satu liang lahat di TPU Desa Ketapang, Banyuwangi.

“Kemarin ada jenazah yang diketemukan. Dari yang pertama teridentifikasi terus yang kedua dan ketiga belum teridentifikasi kita pun tidak diberi tahu jenazah itu, tiba-tiba kemarin siang kita mendapatkan informasi bahwasanya ada pemakaman secara massal tanpa ada koordinasi kepada keluarga korban,” terang Nadia melalui sambungan telepon.

“Yang disayangkan kenapa pihak keluarga tidak diberi tahu oleh pihak terkait,” imbuhnya penuh penyesalan.

Nadia dan hampir seluruh keluarga korban yang belum menemukan anggota keluarganya berharap ada kesempatan untuk mendapatkan penjelasan dan informasi yang jelas terkait ciri serta kondisi jasad yang ditemukan. Ia masih berpikir positif bahwa pihak KSOP dan PT Buto akan memperlakukan jasad yang masih terjebak di dalam kapal secara layak.

“Kami semua berharap, kami semua yakin pada hati-hati yang bernurani bahwa jika mereka menemukan jasad di dalam sana akan diperlakukan dengan manusiawi. Itu keluarga kami, semoga mereka diperlakukan layaknya jasad manusia pada umumnya,” harap Nadia dalam duka mendalam.

Harapan terakhir Nadia seakan direnggut paksa. Kepergian suaminya, Deni Purwanto, yang tengah berjuang mencari nafkah dengan mengangkut nanas dari Kediri menuju Pulau Dewata Bali pada 2 Juli 2025, menjadi hari terakhir mereka bersua. Saat itu, usia kandungannya baru tujuh bulan. Kini, bayinya telah berusia sekitar tiga bulan.

Nadia berharap dapat memakamkan jasad yang diyakininya sebagai suaminya. Ia menduga jasad tersebut muncul ke permukaan setelah truk berkepala kuning diangkat menggunakan crane kapal yang dioperasikan PT Buto. Truk itu, menurut Nadia, serupa dengan yang dikemudikan suaminya.

“Ini harapan terakhir kita keluarga korban kita dari berjalannya hari pengangkatan ini kita berharap yang belum diketemukan ini ada kabar baik dari kita keluarga korban bahwasannya kalau tidak diberi informasi apapun kita khan bingung mau tanya kemana,” sambungnya.

Nadia dan sejumlah keluarga korban lainnya mengaku kecewa lantaran kesepakatan tertulis yang telah dibuat dinilai tidak dijalankan oleh pihak otoritas, baik PT Buto maupun KSOP. Dalam kesepakatan itu, terdapat klausul mengenai pemberian informasi secara berkala terkait perkembangan dan mekanisme pengangkatan bangkai KMP Tunu Pratama Jaya.

Nadia yang tinggal di Kediri, bersama satu keluarga korban asal Madiun, berencana menarik surat pernyataan yang telah diserahkan kepada pihak KSOP jika tidak ada informasi dan koordinasi yang jelas. Lebih dari dua pekan berlalu, keluarga korban merasa diabaikan.

“Semua keluarga korban minta keadilan, bahkan dari madiun dia mau ke Banyuwangi mencabut surat pernyataan karena tidak sesuai kesepakatan. Ada rencana sebetulnya saya juga mencabut, tapi khan saya jauh dari lokasi kejadian saya di kediri jadi mau kesana itu jadi kendala. Saya mau tanya informasi kemana, sedangkan perwakilan kami yang saya harapkan untuk dapat informasi secara detail tidak dikonfirmasi oleh pihak terkait,” tegas Nadia.

Menurut Nadia, lebih dari 30 keluarga korban menanti informasi perkembangan pengangkatan bangkai KMP Tunu Pratama Jaya. Sebanyak 20 lebih keluarga belum menemukan anggota keluarganya, sementara sisanya telah ditemukan. Selama ini, keluarga korban mencari informasi secara mandiri tanpa adanya fasilitas resmi dari pihak otoritas maupun PT Buto.

“Kenapa kok ditutup-tutupi, kami jadi semakin curiga. Tapi harapan keluarga semoga saja masih berharap ada kejelasan jika diketemukan kami diinformasikan. Ada sekitar 30 orang lebih keluarga korban dan sebagian ada yang sudah diketemukan sementara yang belum ketemu sekitar 20 lebih belum ketemu,” ungkap Nadia.

Meski telah mendatangi makam massal di TPU Ketapang, Nadia dan keluarganya tetap menunggu hasil identifikasi resmi yang dijanjikan pihak berwenang. Sebelumnya, tiga jenazah berhasil dievakuasi dari Selat Bali setelah bangkai KMP Tunu Pratama Jaya diangkat oleh PT Buto. Satu jenazah Mr X dimakamkan di TPU Griya Giri Mulya (GGM), sementara dua jasad lainnya dimakamkan dalam satu liang lahat di TPU Ketapang, Banyuwangi.

20D

(erm/hil)