Era Bupati Samsul Dapat Job 16.000 Seragam PNS

0
630
Meski usianya mendekati 70 tahun, Joko Supriyadi, masih terus menekuni pekerjaannya sebagai penjalit di kiosnya Kampung Pecinan, Karangrejo.

KISAH Forkapen mungkin memang kurang popular di kalangan masyarakat luas. Masih kalah pamor dengan komunitas pencinta hewan atau forum penghobi olahraga ekstrim. Namun, ada sekelumit kisah yang cukup menarik saat Jawa Pos Radar Banyuwangi berhasil menemui salah satu dari penasehat Forkapen.

Dia adalah Joko Supriadi, 69, penjahit yang membuka kios tak jauh dari Kampung Pecinan, Kelurahan Karangrejo. Joko merupakan orang pertama dari organisasi penjahit di Banyuwangi.

Dia menceritakan, Forkapen dibentuk sekitar tahun 1991. Saat itu bersama delapan orang penjahit lain berkumpul di rumah Sumarjo, salah seorang penjahit senior di Banyuwangi. Berbekal rasa persaudaraan dan sama-sama ingin menimba ilmu masalah ilmu jahit-menjahit, mereka sepakat mendirikan Forkapen.

“Waktu itu saya, Pak Sumarjo, Rosiadi, Dana Karya, Abdul Hanan, Husnan dan Almarhum Miftaho Arifin yang mencetuskan. Kita hanya ingin tukar ilmu saja. Waktu itu banyak jahitan dari pemkab. Kita sering saling belajar dari para penjahit lainnya,” beber Joko.

Setelah Forkapen berdiri, perlahan para penjahit di Banyuwangi mulai masuk ke dalam paguyuban tersebut. Mereka pun menggunakan wadah itu untuk saling berkomunikasi jika ada teknik baru dalam menjahit pakaian atau ada job-job yang kelebihan dari para penjahit lainnya. Tak jarang, mereka juga membuat kegiatan pelatihan bagi para penjahit lainnya.

Loading...

“Awal berdiri anggota kami 22 orang. Ada beberapa penjahit kita yang sukses menggarap pesanan pemkab. Jadi banyak yang tanya caranya bisa masuk ke pemkab juga,” ujar alumni SMAK Santo Paulus Jember itu.

Puncaknya sekitar tahun 2002, Forkapen memperoleh job untuk menggarap seluruh seragam milik pegawai Pemkab Banyuwangi. Semua pengadaan seragam-baik pegawai maupun guru-digarap oleh anggota Forkapen. Jumlahnya sekitar 16 ribu potong sekali musim pengadaan.

Pengurus Forkapen juga mempunyai hak untuk menentukan penjahit mana yang mendapat tugas untuk menjahitkan pakaian-pakaian. “Waktu itu di eranya Pak Syamsul Hadi, kita dapat job menggarap semua pakaian pegawai di Banyuwangi. Karena hal itu juga anggota kita jadi banyak, sampai 89 orang. Ya kita membagi sesuai wilayah saja. Rata-rata per anggota waktu itu mendapat antara 200-300 potong pakaian kalau ada job,” ujar kakek empat cucu itu.

Lambat-laun jumlah anggota Forkapen semakin menurun. Terlebih sejak tahun 2008, job dari pemkab untuk menggarap pakaian pegawai nyaris tidak ada. Terakhir hanya job pakaian THL yang diberikan oleh pemkab ke Forkapen, setelah itu tidak ada sama sekali.

“Jumlah anggota sekarang tinggal 12 orang, saya, Dana Karya, Sumarjo, Abdul hamid, Mustafa, Jamaliyah, Untung, Nugraheni, Hanan sama beberapa penjahit perempuan saya lupa namanya. Yang lainnya tidak ada yang ikut lagi, mungkin karena tidak ada job dari Pemkab lagi. Padahal dulu calon-calon bupati selalu menjanjikan ke kita untuk masalah itu,” imbuhnya.

Saat ini, aktivitas Forkapen tak lebih hanya melakukan silaturahmi saja dengan para anggota lainnya. Selain itu, secara para individu para anggota juga perlahan mencoba melakukan regenerasi penjahit. Sebab, jumlah penjahit saat ini sudah jarang yang berusia muda. Jika dirata-rata mungkin usia para penjahit ini seluruhnya di atas 40-50 tahun.

Joko secara rutin menerima siswi-siswi PSC dari beberapa SMK di kios jahitnya. Meski frekuensinya kecil, dia tetap berharap nantinya ada salah satu dari siswi yang datang ke tempatnya mau bekerja sebagai penjahit.

Sekarang jumlah anggota sedikit, mungkin karena tidak ada job lagi. Dari pemkab masih ada, tapi sifatnya individu. “Sekarang ketuanya Pak Mustafa, yang muda. Tapi ya tidak muda sekali, anak muda sekarang mana mau jadi penjahit,” pungkas Joko sambil terkekeh. (radar)

loading...


Kata kunci yang digunakan :