Gandrung Populerkan Berkuda

0
561
SAMA-SAMA LINCAH: Para joki menunggang kuda sambil mengitari dua penari gandrung dengan kecepatan lumayan tinggi di Desa Gombolirang bulan lalu.

BANYUWANGI – Persatuan olahraga ber kuda seluruh Indonesia (Pordasi) ter masuk organisasi yang baru di Banyuwangi. Meski baru berumur enam bu lan, organisasi tersebut sudah mulai menunjukkan eksistensi. Semangat memperkenalkan olahraga ber kuda ke masyarakat terus dilakukan.

Beragam cara ditempuh untuk menggalakkan dan memasyarakatkan olahraga berkuda. Di antaranya menggunakan pendekatan budaya dalam bentuk keikut sertaan Pordasi dalam seni paju gandrung. Setidaknya ini tampak dengan kesungguhan tekad pengurus Pordasi Banyuwangi yang turut andil dalam gelaran budaya paju gandrung di Desa Gombolirang, Kecamatan Kabat, beberapa waktu lalu.

Sebagai media sosialisasi organisasi berkuda, kegiatan tersebut menjadi awal atas keinginan pemilik dan joki kuda memiliki payung sendiri sebagai salah satu perkumpulan. “Di langkah awal, kita ingin mendekati pemilik kuda dulu sebagai ang gota. Lewat kesenian paju gandrung ini, kami mencoba sebagai tahap awal mengenalkan Pordasi. Selanjutnya,baru ke arah olah raganya,” beber Ali Hamzah, ketua umum Pordasi Ba nyuwangi. Kenapa dipilih k esenian paju gandrung?

Ali Hamzah menyatakan, kesenian ini lah yang dipandang cocok untuk memperkenalkan Pordasi. Dalam kesenian paju gandrung ada beberapa keuntungan yang bisa di petik. Kelincahan joki dalam mengendalikan kuda, di sandingkan dengan gemulainya penari gandrung. Perpaduan ini menjadi daya tarik dari kesenian tersebut. Selepas dari kebudayaan yang melibatkan kuda di dalamnya, Pordasi juga konsen dengan keberadaan target utama yakni pengembangan prestasi. Lewat berkumpulnya pemilik dan joki kuda ini, muncul atlet berkuda. Modal kuda tunggangan dan kepiawaian joki dalam “menyetir “ kuda tentu harus terus diasah.

Lewat kesenian paju gandrung, da patdi ketahui bahwa potensi untuk berpresasi di dunia olahraga berkuda sebenarnya cukup besar. Ali Hamzah ini pun menyebut, dibutuhkan keterampilan khusus joki dalam memainkan peran kuda yang ditunggangi di kesenian paju gandrung tersebut. “Kita ini sebetulnya kaya akan potensi joki hebat. Di paju gandrung ini kita bisa lihat bagai mana joki mengendalikan kuda dan memadukannya dengan gerak tarian dari gandrung itu sendiri. Ke depan, Pordasi ingin itu berlanjut di arena lomba,” cetus pria asal Desa Badean, Kecamatan Kabat, itu Ali mengakui, bahwa ada prinsip yang berbeda dalam menjalankan kuda un tuk kesenian dan kejuaraan. Meski ada perbedaan, tentu masih ada sisi persamaan, salah satunya mengenai tujuan mencetak kuda dan joki yang andal dan berprestasi.

Sebab kuda yang di harapkan tersebut tentu tidaklah mudah dan butuh perawatan, perhatian, keuletan, dan latihan yang cukup keras. Bila di arena paju gandrung, kuda mungkin dipacu tidak terlalu kencang. Maka untuk dalam sebuah even kejuaraan, kuda diharapkan dapat di pacu tidak kurang dari 70 Kilometer perjam. Alhasil, lomba kuda pacu tidak hanya memerlukan kekuatan dan kecepatan. Di sisi lain, ada juga strategi untuk menjadi yang tercepat mencapai garis finis. “Ya mungkin itu akan dilakukan secara bertahap. Selain memiliki kuda kencak untuk paju gandrung, suatu saat mereka mungkin mulai berpikir untuk memiliki dan kembangkan kuda khusus untuk perlombaan,” pungkas Ali Hamzah. (radar)