Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Getirnya Penolakan Ressa Rizky Disebut Pansos Gugat Denada Rp 7 M

getirnya-penolakan-ressa-rizky-disebut-pansos-gugat-denada-rp-7-m
Getirnya Penolakan Ressa Rizky Disebut Pansos Gugat Denada Rp 7 M

detik.com

Banyuwangi

Al Ressa Rizky Rossano akhirnya muncul kembali ke hadapan publik usai absen selama tiga hari dari rutinitasnya sebagai penjaga toko kelontong 24 jam di Banyuwangi. Kemunculannya di PN Banyuwangi dalam rangka mediasi dengan pihak Denada itu menjadi momentum baginya untuk memberikan klarifikasi pernyataan warganet.

Tidak sedikit warganet yang menudingnya panjat sosial atau hanya mencari keuntungan melalui gugatan pengakuan anak biologis Denada yang dia layangkan. Dengan mata yang tampak sayu ia menepis keras anggapan bahwa dirinya sengaja mencari panggung atau pansos.

Ressa menekankan bahwa dirinya bukan sosok yang berniat mengambil keuntungan dari popularitas Denada melainkan hanya ingin mengungkap kenyataan hidup yang selama ini harus ia jalani.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menegaskan tidak pernah hidup berpangku tangan sejak lulus dari sekolah menengah atas (SMA) dan selama ini dirinya juga tidak pernah menerima sokongan biaya hidup dari sang artis.

“Saya tidak perlu itu, saya bukan pansos tapi ini kenyataan hidup yang harus saya lewati,” tegas Ressa dengan nada bicara yang mantap.

Kemandirian itu ia buktikan lewat berbagai pekerjaan kasar yang digelutinya demi menyambung hidup, mulai dari menjadi tukang ojek online, penjaga toko, hingga menyuplai barang ke distributor demi mendapatkan uang tambahan atau ‘ceperan’.

“Mulai dulu saya sudah Bekerja, dari dulu saya makan cari sendiri. Apapun pekerjaannya mulai dari jaga toko, ojek online, nyupir juga,” ungkapnya.

Ressa bahkan membeberkan bahwa ia pernah menjadi sopir pribadi Emilia Contessa pada masa kampanye dengan gaji Rp 2.500.000 per bulan dan kerap mengerjakan tugas-tugas lain dari keluarga tersebut demi mendapatkan upah.

Kenyataan pahit yang dirasakannya adalah selama ini semua kebutuhannya dipenuhi secara mandiri oleh orang tua yang merawatnya, bukan dari pihak Denada.

“Setahu saya, yang saya rasakan, saya tidak pernah menerima apapun dari Mbak Denada. Semua biaya hidup saya dari Mama dan Papa (orang tua yang merawat Ressa), yang mengurus semua kebutuhan saya setahu saya adalah Papa dan Mama,” tambahnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Namun, perjuangan Ressa untuk mendapatkan pengakuan di meja hijau masih harus menemui jalan terjal. Agenda mediasi pertama di PN Banyuwangi berakhir buntu tanpa membuahkan kesepakatan apa pun.

Pihak Denada, melalui kuasa hukumnya Muhammad Ikbal, menolak klausul ganti rugi sebesar Rp 7 miliar yang diajukan dalam gugatan nomor perkara 288 tersebut. Denada sendiri dipastikan absen dalam mediasi itu karena alasan jadwal syuting yang tidak bisa ditinggalkan. Hal ini disesalkan oleh tim kuasa hukum Ressa karena dianggap memperlama penyelesaian masalah.

Hingga saat ini, belum ada pengakuan tegas dari pihak Denada mengenai status Ressa sebagai anak kandung, sementara Ressa tetap pada pendiriannya bahwa kemunculannya bukan untuk mencari popularitas, melainkan bentuk perjuangan atas nasib hidupnya.

20D

(ihc/dpe)