Berita Terkini Seputar Banyuwangi
Sosial  

Giliran Nelayan Tolak BBM Naik

TOLAK BBM NAIK: Massa nelayan Muncar menggelar poster dan berorasi di depan Gedung DPRD Banyuwangi kemarin pagi (22/3).

Demo Datangi Gedung DPRD

BANYUWANGI – Para nelayan asal pesisir Kecamatan Muncar yang tergabung dalam Forum Masyarakat Pesisir (Formasi) menggelar aksi turun ke jalan kemarin pagi (22/3). Mereka menolak rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).

Dalam aksi tersebut, para nelayan mendatangi gedung DPRD Banyuwangi. Nelayan Muncar itu memaksa para wakil rakyat menyampaikan aspirasi mereka kepada pemerintah pusat. “Kami minta DPRD bersuara. Soal kesusahan yang sering dialami nelayan Muncar, anggota dewan tidak pernah bersuara,” tukas Koordinator Formasi Muncar, Damanhuri, kemarin.

Penolakan Formasi Muncar itu dimulai sekitar pukul 10.00. Para nelayan datang ke Kota Banyuwangi mengendarai 17 unit truk, beberapa mobil pribadi, dan puluhan sepeda motor. Selanjutnya, mereka menggelar long march dari Jalan Brigjen Katamso di timur gedung DPRD hingga Jalan Adi Sutjipto, persis di depan DPRD.

“Menaikkan harga BBM hanya akan menyengsarakan rakyat,” sergah Saladi, salah satu tokoh nelayan melalui pengeras suara. Selama long march, para nelayan terus melakukan orasi di jalanan. Dari atas truk yang mengangkut alat sound system, tidak hentihentinya terdengar teriakan menolak rencana pemerintah menaikkan harga BBM “Masyarakat Muncar itu kehidupannya tergantung dari BBM,” teriak Saladi dalam orasinya.

Selain menggelar orasi, nelayan juga mengusung sejumlah spanduk dan poster. Ada yang berbunyi “BBM Adalah Urat Nadi Bagi Nelayan; Subsidi Adalah Amanah Penderitaan Rakyat; dan BBM Naik Nelayan Sengsara”. Selain itu, “Harga BBM Tidak Boleh Naik; DPR….Apa Kerjamu?; dan APBN Jeblok Karena Kamu Bertingkah!! BBM Naik… Rakyat Yang Menderita”.

Puas berorasi di Jalan Raya Adi Sutjipto, warga yang tinggal di sekitar pesisir Muncar itu meminta masuk ke halaman barat DPRD. Mereka berencana menggelar istighotsah. Mulanya, niatan nelayan itu ditolak oleh aparat kepolisian. Tapi setelah negosiasi, polisi menyerah.

“Kami hanya ingin istighotsah, dan bertemu anggota DPRD,” kata Syahroni, warga Muncar saat negosiasi dengan Kompol Agus Jatmiko, Kabag Perencanaan Polres Banyuwangi yang menemui nelayan. Setelah mendapat izin masuk gedung DPRD, para nelayan langsung memadati halaman depan.

Mereka sempat menggelar orasi secara bergantian. “BBM naik, SBY harus turun
dari jabatannya!,” teriak seorang nelayan dalam orasinya. Para nelayan yang menggelar aksi, itu mengancam akan turun ke jalan lagi. Bahkan, jumlah massanya akan lebih besar lagi, bila pemerintah tetap menaikkan harga BBM pada 1 April 2012.

“Menaikkan harga BBM, hanya membuat masyarakat menderita,” sergah Syamsu, nelayan lainnya. Usai orasi di halaman barat DPRD, nelayan menggelar istighotsah. Dipimpin tokoh masyarakat Muncar, mereka membaca kalimah toyibah dan berdoa bersama. Di tengah kegiatan istighotsah itu, 20 perwakilan nelayan diterima anggota DPRD di ruang khusus. Pertemuan itu dipimpin tiga wakil ketua DPRD, yakni Joni Subagio, Ruliyono, dan Adil Achmadiyono.

Hampir satu jam lamanya, perwakilan Formasi yang dipimpin koordinatornya Damanhuri diterima anggota DPRD dari empat komisi. Usai pertemuan, perwakilan nelayan dan anggota DPRD menyampaikan sikap bersama di hadapan para nelayan yang menunggu di halaman barat.

“Kita tadi (kemarin pagi, Red) sudah bertemu, dan kita sepakat menolak harga BBM,” tegas Ruliyono yang ditunjuk mewakili DPRD. Di hadapan para nelayan, Ruliyono membacakan pernyataan sikap, yang dihasilkan dari pertemuan DPRD dengan perwakilan nelayan. Di antara pernyataan sikap itu berisi bahwa masyarakat Banyuwangi keberatan bila harga BBM dinaikkan.

Selain itu, masyarakat Banyuwangi juga menolak kenaikan harga BBM. “Pernyataan sikap ini, akan kami sampaikan ke pemerintah pusat,” janji Ruliyono. (radar)

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE