sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Pembangunan Jalan Tol Probolinggo–Situondo-Banyuwangi (Prosiwangi) menjadi salah satu proyek strategis nasional yang masuk dalam jaringan besar Tol Trans Jawa.
Ruas tol ini dirancang untuk menghubungkan wilayah tapal kuda Jawa Timur, mulai dari Probolinggo, Situbondo, hingga Banyuwangi, sekaligus memperkuat konektivitas logistik menuju Pulau Bali.
Ketika Tol Prosiwangi tersambung penuh hingga Banyuwangi, arus kendaraan dan distribusi barang dari Jawa ke Bali diproyeksikan semakin lancar dan cepat.
Tak hanya mendukung mobilitas masyarakat, kehadiran tol ini juga diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan timur Jawa Timur.
Namun di balik manfaat tersebut, pembangunan Tol Prosiwangi juga memunculkan sejumlah isu krusial, terutama terkait dampaknya terhadap kawasan lingkungan, khususnya Taman Nasional (TN) Baluran yang berada di wilayah Kabupaten Situbondo.
Melintasi Wilayah Strategis Tapal Kuda
Secara geografis, Kabupaten Situbondo berada di antara Probolinggo di sisi barat dan Banyuwangi di sisi timur.
Di wilayah inilah berdiri Taman Nasional Baluran, kawasan konservasi yang dikenal luas sebagai “Africa van Java” karena bentang savananya yang khas.
TN Baluran memiliki kekayaan ekosistem yang sangat beragam, mulai dari savana, hutan musim, hutan tropis, mangrove, hingga pesisir pantai.
Kawasan ini juga menjadi habitat penting bagi berbagai satwa liar, seperti banteng jawa, macan tutul, rusa, kijang, serta ratusan jenis burung endemik dan migran.
Tahapan Pembangunan Tol Prosiwangi
Saat ini, pembangunan fisik Tol Prosiwangi telah berlangsung di sejumlah titik. Di wilayah Probolinggo, pekerjaan telah memasuki kawasan Gending, Kraksaan, hingga Paiton.
Sementara di Kabupaten Situbondo, pembangunan sudah mulai terlihat di Kecamatan Banyuglugur dan Kecamatan Besuki.
Adapun pembagian seksi Tol Probowangi meliputi:
-
Seksi 4: Besuki – Situbondo
-
Seksi 5: Situbondo – Asembagus
Page 2
Seksi 6: Asembagus (Situbondo) – Gerbang Tol Bajulmati (Banyuwangi)
Ruas seksi 6 inilah yang menjadi sorotan karena direncanakan melintasi kawasan hutan yang berada di sekitar Taman Nasional Baluran.
Belum Ada Kejelasan Jalur di Sekitar Baluran
Hingga saat ini, belum ada rilis resmi mengenai jalur pasti Tol Prosiwangi seksi Asembagus–Bajulmati, khususnya terkait lahan sisi mana yang paling dekat dengan kawasan TN Baluran.
Ketidakjelasan ini memicu kekhawatiran akan potensi dampak lingkungan yang bisa ditimbulkan.
Ruas tol yang melintasi kawasan hutan konservasi berpotensi menyebabkan fragmentasi habitat, yakni terbelahnya wilayah jelajah satwa liar akibat infrastruktur jalan.
Kondisi ini bisa mengganggu pola migrasi satwa dan keseimbangan ekosistem.
Dua Sisi Dampak Lingkungan
Meski demikian, pembangunan jalan tol di sekitar kawasan Baluran tidak sepenuhnya berdampak negatif.
Kehadiran akses jalan yang lebih baik justru dapat mempercepat penanganan jika terjadi kebakaran hutan.
Selama ini, TN Baluran memang kerap dilanda kebakaran hutan, terutama saat musim kemarau.
Tumpukan daun jati kering di kawasan savana dan hutan musim sering menjadi pemicu utama kebakaran yang sulit ditangani karena keterbatasan akses menuju lokasi.
Dengan adanya tol atau jalan akses yang lebih dekat, mobilisasi petugas pemadam, peralatan, serta logistik penanganan kebakaran diyakini bisa lebih cepat dan efisien.
Perlu Keseimbangan Pembangunan dan Konservasi
Tol Prosiwangi menjadi simbol kemajuan infrastruktur di Jawa Timur bagian timur.
Namun, proyek besar ini juga menuntut kehati-hatian ekstra agar pembangunan tidak mengorbankan kelestarian lingkungan, khususnya kawasan konservasi sekelas Taman Nasional Baluran.
Ke depan, publik berharap pemerintah dan pengelola proyek mampu merancang jalur tol dengan pendekatan ramah lingkungan, dilengkapi terowongan satwa (wildlife crossing), pagar pengaman, serta kajian amdal yang komprehensif.
Dengan demikian, manfaat ekonomi dan konektivitas dari Tol Prosiwangi dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga kekayaan alam Baluran yang menjadi warisan ekologis nasional. (*)
Page 3
sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Pembangunan Jalan Tol Probolinggo–Situondo-Banyuwangi (Prosiwangi) menjadi salah satu proyek strategis nasional yang masuk dalam jaringan besar Tol Trans Jawa.
Ruas tol ini dirancang untuk menghubungkan wilayah tapal kuda Jawa Timur, mulai dari Probolinggo, Situbondo, hingga Banyuwangi, sekaligus memperkuat konektivitas logistik menuju Pulau Bali.
Ketika Tol Prosiwangi tersambung penuh hingga Banyuwangi, arus kendaraan dan distribusi barang dari Jawa ke Bali diproyeksikan semakin lancar dan cepat.
Tak hanya mendukung mobilitas masyarakat, kehadiran tol ini juga diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan timur Jawa Timur.
Namun di balik manfaat tersebut, pembangunan Tol Prosiwangi juga memunculkan sejumlah isu krusial, terutama terkait dampaknya terhadap kawasan lingkungan, khususnya Taman Nasional (TN) Baluran yang berada di wilayah Kabupaten Situbondo.
Melintasi Wilayah Strategis Tapal Kuda
Secara geografis, Kabupaten Situbondo berada di antara Probolinggo di sisi barat dan Banyuwangi di sisi timur.
Di wilayah inilah berdiri Taman Nasional Baluran, kawasan konservasi yang dikenal luas sebagai “Africa van Java” karena bentang savananya yang khas.
TN Baluran memiliki kekayaan ekosistem yang sangat beragam, mulai dari savana, hutan musim, hutan tropis, mangrove, hingga pesisir pantai.
Kawasan ini juga menjadi habitat penting bagi berbagai satwa liar, seperti banteng jawa, macan tutul, rusa, kijang, serta ratusan jenis burung endemik dan migran.
Tahapan Pembangunan Tol Prosiwangi
Saat ini, pembangunan fisik Tol Prosiwangi telah berlangsung di sejumlah titik. Di wilayah Probolinggo, pekerjaan telah memasuki kawasan Gending, Kraksaan, hingga Paiton.
Sementara di Kabupaten Situbondo, pembangunan sudah mulai terlihat di Kecamatan Banyuglugur dan Kecamatan Besuki.
Adapun pembagian seksi Tol Probowangi meliputi:
-
Seksi 4: Besuki – Situbondo
-
Seksi 5: Situbondo – Asembagus







