Kangkung Bisa Dikreasi Jadi Brownies, Mi, dan Dawet

0
559

kangkungKANGKUNG. Siapa yang tak kenal dengan sayuran yang satu ini. Diakui atau tidak, kangkung merupakan salah satu jenis sayur yang paling populer di mata masyarakat. Mulai mereka yang tinggal di desa terpencil, hingga warga yang hidup di tengah kota, hampir dapat dipastikan pernah menyantap kangkung atau sekadar mendengar nama sayuran tersebut.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Ya, harganya yang tergolong murah meriah membuat kangkung menjadi salah satu sayuran yang dapat dijangkau dan dinikmati seluruh lapisan masyarakat. Ironisnya, tanaman kangkung yang harganya sangat murah, itu justru menjadi salah satu sumber penghasilan utama masyarakat Kelurahan Penataban, Kecamatan Giri. Bayangkan, rata-rata produksi kangkung Kelurahan penataban mencapai 20 ribu ikat per hari. 

Puluhan ribu ikat kangkung segar, itu pun tidak hanya diserap pasar lokal Banyuwangi. Kangkung Penataban juga sukses merambah pasar Pulau Dewata, Bali. Di sisi lain, puluhan atau bahkan ratusan warga setempat menggantungkan penghasilan dari sayuran yang satu ini. Bahkan, lantaran tak ada pekerjaan lain, tidak sedikit perempuan berusia lanjut di kelurahan yang berlokasi tak jauh dari pusat Kota Kopi, ini terpaksa menjadi buruh ikat kangkung dengan penghasilan yang tidak seberapa.

Bayangkan saja, upah mengikat kangkung itu hanya sebesar Rp 150 per sepuluh ikat. Jadi, jika dalam sehari nenek-nenek itu mampu menyelesaikan 200 ikat kangkung, mereka hanya mendapat upah sebesar Rp 3 ribu. Prihatin dengan kondisi tersebut, Heni Wahyuti, 34, warga Lingkungan I, RT 03/ RW 01, Kelurahan Penataban, mencoba mencari terobosan untuk mengoptimalkanpotensi sayuran yang menjadi sumber mata pencarian utama sebagian masyarakat Kelurahan Penataban tersebut.  

Tujuannya, nilai ekonomis kangkung meningkat. Jika nilai jual kangkung meningkat, penghasilan mereka yang bekerja sektor tersebut ikut terkerek naik. Singkat cerita, sekitar tahun 2010, Heni menemukan ide mengkreasi beberapa masakan berbahan dasar sayuran yang biasanya hanya dijadikan bahan baku tumis, cah, atau sayur lalapan tersebut. Mulai brownies, cake, mi, bakpao, nasi goreng, hingga dawet berhasil dia buat dari bahan kangkung.

Bahkan bukan hanya makanan “basah”, di tangan Heni, kangkung pun berhasil dikreasi menjadi makanan kering seperti bagiak dan kerupuk. Nah, Jumat lalu (11/4), wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi berkesempatan mencicipi beberapa macam makanan berbahan kangkung tersebut. Usai mengikuti kerja bakti bersih-bersih sungai jurusan Kalilo, kami dipersilakan mampir ke kantor Kelurahan Penataban untuk mencicipi hidangan berupa cake, mi, dan dawet kangkung karya Heni. 

Rasanya? jangan ditanya. Cake-nya lembut dan legit. Sedangkan mienya berasa gurih. Dawetnya lembut dan dingin saat ditelan. Pokoknya enak. Saking lezatnya, saya habiskan dua potong cake, setengah mangkuk mi, dan segelas dawet kangkung. Belakangan diketahui, Heni ternyata merupakan sekretaris Kelompok Wanita Tani (KWT) Kangkung Setingkes sekaligus pengelola Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) PKK Kelurahan Penataban.

Tak heran, begitu berhasil menemukan resep beragam makanan lezat berbahan kangkung, Heni langsung mendapat gerojokan dana sebesar Rp 500 ribu dari UP2K untuk mengembangkan “temuannya” tersebut. Dia lantas bekerja sama dengan KWT Kangkung Setingkes untuk memasarkan makanan berbahan kangkung hasil kreasinya tersebut. Ironisnya, hingga kini pemasaran brownies, cake, mi, dawet, dan beragam makanan berbahan kangkung, itu seolah jalan di tempat. 

“Terus terang, kami butuh pelatihan cara produksi agar menghasilkan produk yang baik dan cara pemasaran yang baik pula. Sebab, baik proses produksi maupun pemasaran, semua kami lakukan secara tradisional,” ujarnya. Perempuan berjilbab ini menambahkan, dia juga perlu mendapat pelatihan dan pengetahuan cara mengemas produk yang dihasilkan tersebut dengan baik.

Sebab Heni sadar, seenak apa pun produk makanan, jika kemasan maupun tampilan produk makanan tersebut kurang menarik, maka tidak akan “dilirik” konsumen. “Mungkin karena tampilannya kurang menarik, pemasaran makanan karya kami selama ini baru di seputar Kota Banyuwangi. Itu pun tidak setiap hari kami produksi karena kami hanya berproduksi jika ada  pesanan,” ungkapnya. Sementara itu, kenyataan cukup mengejutkan terungkap menjelang akhir pembicaraan kami dengan Heni. 

Usut-punya usut, Wilujeng Esti Utami yang baru beberapa bulan lalu menjabat sebagai Lurah Penataban, ternyata sudah lama menjadi pelanggan makanan berbahan kangkung karya Heni. Tepatnya, sejak Lurah Wilujeng masih bertugas di Kelurahan Sobo. “Bu Lurah (Wilujeng) sering pesan makanan berbahan kangkung buatan saya sejak beliau masih menjabat Lurah Sobo dulu. Nyaris setiap ada kegiatan di Kelurahan Sobo yang membutuhkan hidangan untuk undangan, beliau selalu pesan makanan berbahan kangkung kepada saya,” cetus Heni.

Kepada wartawan, lurah yang karib disapa Bunda, itu menganggap perpindahan tugas dari Sobo ke Penataban bukan sekadar kebetulan. “Mungkin ini takdir Allah. Dari dulu saya sangat ingin membantu mengembangkan produk makanan berbahan kangkung ini. Makanya, saat ditugaskan di Penataban, saya ingin menggandeng instansi terkait untuk memberi pelatihan agar produk ini terus berkembang yang ujungujungnya dapat meningkatkan kesejahteraan warga kami,” bebernya. (radar)

Loading...

JUAL KAYU MURAH BERBAGAI JENIS & UKURAN

JUAL KAYU MURAH BERBAGAI JENIS & UKURAN

"JUAL KAYU MERANTE-KAMPER-BORNEO-DLL.ASAL SUMATRA" "UKURAN KAYU BORNEO" 1).KAYU BORNEO RENG RENG: 3 x 4 x 400 cm = Rp. 2.000.000…
10/10/2018
JAKARTA

Kata kunci yang digunakan :