sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Kementerian Agama (Kemenag) terus menguatkan komitmen moderasi beragama sebagai fondasi kehidupan sosial yang harmonis di tengah masyarakat majemuk.
Di Banyuwangi, semangat itu tidak berhenti sebagai jargon, tetapi diwujudkan melalui beragam kegiatan nyata yang menyentuh langsung kehidupan umat lintas agama.
Di bawah kepemimpinan Kepala Kemenag Banyuwangi Dr Chaironi Hidayat, program moderasi beragama dijalankan secara berkesinambungan melalui pendekatan sosial, edukatif, hingga kultural.
Mulai dari senam bersama, bazar, dialog lintas iman, hingga aksi kemanusiaan, seluruh kegiatan dirancang sebagai ruang perjumpaan yang memperkuat rasa saling percaya.
Moderasi Beragama sebagai Kerangka Sosial
Chaironi menegaskan, moderasi beragama tidak boleh dipahami sekadar sebagai slogan normatif. Lebih dari itu, moderasi harus menjadi kerangka kerja sosial yang menjamin rasa aman dan keadilan bagi seluruh pemeluk agama.
“Harmoni sosial hanya dapat terwujud apabila semua umat beragama merasa terlindungi, dihargai, dan bebas dari diskriminasi,” ujarnya.
Menurutnya, sikap moderat dalam beragama justru berangkat dari penguatan akidah. Keyakinan yang kokoh akan melahirkan sikap terbuka, inklusif, dan penuh tanggung jawab sosial.
Penyuluh Agama sebagai Garda Terdepan
Dalam implementasinya, Chaironi mendorong para penyuluh agama untuk terus berinovasi dan berkarya.
Penyuluh tidak hanya berperan sebagai penyampai ajaran keagamaan, tetapi juga agen perdamaian dan penguat kohesi sosial di tengah masyarakat.
Dorongan tersebut sejalan dengan program prioritas Menteri Agama yang dirangkum dalam tagline “Kemenag Berdampak”.
Program ini menitikberatkan pada tujuh fokus utama, yakni peningkatan kerukunan dan kemanusiaan, penguatan ekoteologi dan pelestarian lingkungan, layanan keagamaan yang inklusif, pendidikan unggul, pemberdayaan ekonomi umat, sukses penyelenggaraan haji, serta digitalisasi tata kelola.
Ekoteologi, Agama dan Lingkungan Menyatu
Salah satu perhatian khusus Kemenag Banyuwangi adalah penguatan ekoteologi, yakni kesadaran menjaga lingkungan yang berlandaskan nilai-nilai agama.
Chaironi menilai, hampir semua agama mengajarkan relasi harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.
Dalam Islam dikenal konsep khalifah, sementara dalam tradisi Hindu terdapat Tri Hita Karana. Keduanya menekankan tanggung jawab manusia dalam menjaga keseimbangan alam sebagai bagian dari pengabdian spiritual.
Page 2
“Kesadaran ekologis berbasis agama menjadi sangat penting di tengah tantangan krisis lingkungan saat ini,” kata Chaironi.
Implementasi Nyata di Lapangan
Sebagai wujud konkret moderasi beragama, Kemenag Banyuwangi menggelar berbagai kegiatan lintas iman. Salah satunya berlangsung di Kecamatan Muncar pada 9 Desember 2025.
Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Chaironi Hidayat, jajaran kepala seksi dan penyelenggara Kemenag, unsur Forkopimca Muncar, serta lebih dari 200 penyuluh agama dari seluruh kecamatan di Banyuwangi.
Rangkaian acara diawali dengan pembagian paket sembako kepada kaum dhuafa di sekitar Pura Agung Blambangan, menjadi simbol kuat solidaritas lintas iman dan kepedulian sosial.
Selain itu, dialog lintas agama juga digelar melalui Focus Group Discussion (FGD) Kampung Moderasi Beragama yang diselenggarakan Seksi Bimbingan Masyarakat Islam pada 22 Agustus 2025.
Diskusi tersebut menghadirkan tokoh-tokoh dari Islam, Kristen, Hindu, Buddha, serta unsur pemerintah, sebagai ruang dialog terbuka dan setara.
Moderasi Beragama dalam Ruang Publik
Semangat moderasi juga dihadirkan dalam ruang publik. Pada rangkaian peringatan Hari Amal Bhakti (HAB) Kemenag ke-80, digelar senam bersama dan bazar moderasi beragama di Taman Blambangan pada 5 Januari 2025.
Kegiatan ini menjadi ajang perjumpaan lintas komunitas yang memperlihatkan wajah moderasi beragama yang ramah dan membumi.
Menjaga Banyuwangi Tetap Harmonis
Melalui pendekatan dialog, aksi sosial, dan penguatan nilai keagamaan yang inklusif, Kemenag Banyuwangi terus berupaya menjaga harmoni di tengah keberagaman.
Bagi Chaironi Hidayat, moderasi beragama bukan tujuan akhir, melainkan proses panjang yang harus dirawat bersama.
“Moderasi beragama adalah ikhtiar kolektif. Negara, tokoh agama, dan masyarakat harus berjalan beriringan,” tegasnya.
Dengan komitmen tersebut, Banyuwangi diharapkan terus menjadi contoh daerah yang mampu merawat kerukunan, kemanusiaan, dan keberagaman dalam bingkai persatuan. (aif)
Page 3
sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Kementerian Agama (Kemenag) terus menguatkan komitmen moderasi beragama sebagai fondasi kehidupan sosial yang harmonis di tengah masyarakat majemuk.
Di Banyuwangi, semangat itu tidak berhenti sebagai jargon, tetapi diwujudkan melalui beragam kegiatan nyata yang menyentuh langsung kehidupan umat lintas agama.
Di bawah kepemimpinan Kepala Kemenag Banyuwangi Dr Chaironi Hidayat, program moderasi beragama dijalankan secara berkesinambungan melalui pendekatan sosial, edukatif, hingga kultural.
Mulai dari senam bersama, bazar, dialog lintas iman, hingga aksi kemanusiaan, seluruh kegiatan dirancang sebagai ruang perjumpaan yang memperkuat rasa saling percaya.
Moderasi Beragama sebagai Kerangka Sosial
Chaironi menegaskan, moderasi beragama tidak boleh dipahami sekadar sebagai slogan normatif. Lebih dari itu, moderasi harus menjadi kerangka kerja sosial yang menjamin rasa aman dan keadilan bagi seluruh pemeluk agama.
“Harmoni sosial hanya dapat terwujud apabila semua umat beragama merasa terlindungi, dihargai, dan bebas dari diskriminasi,” ujarnya.
Menurutnya, sikap moderat dalam beragama justru berangkat dari penguatan akidah. Keyakinan yang kokoh akan melahirkan sikap terbuka, inklusif, dan penuh tanggung jawab sosial.
Penyuluh Agama sebagai Garda Terdepan
Dalam implementasinya, Chaironi mendorong para penyuluh agama untuk terus berinovasi dan berkarya.
Penyuluh tidak hanya berperan sebagai penyampai ajaran keagamaan, tetapi juga agen perdamaian dan penguat kohesi sosial di tengah masyarakat.
Dorongan tersebut sejalan dengan program prioritas Menteri Agama yang dirangkum dalam tagline “Kemenag Berdampak”.
Program ini menitikberatkan pada tujuh fokus utama, yakni peningkatan kerukunan dan kemanusiaan, penguatan ekoteologi dan pelestarian lingkungan, layanan keagamaan yang inklusif, pendidikan unggul, pemberdayaan ekonomi umat, sukses penyelenggaraan haji, serta digitalisasi tata kelola.
Ekoteologi, Agama dan Lingkungan Menyatu
Salah satu perhatian khusus Kemenag Banyuwangi adalah penguatan ekoteologi, yakni kesadaran menjaga lingkungan yang berlandaskan nilai-nilai agama.
Chaironi menilai, hampir semua agama mengajarkan relasi harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.
Dalam Islam dikenal konsep khalifah, sementara dalam tradisi Hindu terdapat Tri Hita Karana. Keduanya menekankan tanggung jawab manusia dalam menjaga keseimbangan alam sebagai bagian dari pengabdian spiritual.








