Kisah Tragis Fadilah yang Meninggal Disambar Bus Bersama Istri dan Anaknya

0
655


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Baru Pulang Hadiri Selamatan Adiknya di Probolinggo

SUASANA duka masih menyelimuti rumah duka Fadilah di Lingkungan Kaliasin, Kelurahan Karangrejo, Banyuwangi. Sanak saudara dan teman  korban silih-berganti untuk mengucapkan rasa duka akan kepergian bapak, istri, dan anak  tersebut.

Meski masih diliputi duka, namun pihak keluarga sudah menerima kepergian dari satu keluarga ini dengan ikhlas. ”Paman, bibi dan sepupu saya sudah dimakamkan kemarin (8/3) di TPU Setro Penganten pukul  10.00,” ujar Ahmad Hariyadi, 34,  keponakan Fadilah Dia mengungkapkan, sosok almarhum Fadilah semasa hidup  merupakan sosok yang kerja   keras.

Kesehariannya, Fadilah memang sering keliling dengan menggunakan sepeda motor untuk berdagang HP. Di mata Hariyadi, Fadilah merupakan sosok paman baik hati. ”Dia seperti bapak saya sendiri. Teman-teman komunitas HP jadul  kehilangan sosok almarhum yang kerja keras,” ungkapnya.

Dia membenarkan sebelum  musibah terjadi, tiga kerabatnya tersebut baru saja dari Probolinggo  untuk menghadiri selamatan  dua tahun meninggalnya adik dari istri Fadilah. Mereka tidak pergi sendiri saat perjalanan  pulang menuju Banyuwangi,  melainkan bersama-sama dengan saudaranya. Perjalanan jauh itu ditempuh  menggunakan sepeda motor.

”Sama saudara juga, jadi naik dua sepeda motor. Saudara saya yang tidak terlibat kecelakaan  itu berada di belakang almarhum,”  kata Hariyadi saat ditemui Jawa  Pos Radar Banyuwangi di rumah  duka kemarin.  Meski berjalan beriringan, namun saudara dari Fadilah yang sama-sama bersepeda motor itu  mengaku tidak mengetahui secara persis bagaimana kronologi  kecelakaan.

Hanya, saat melintas di depan Ponpes Mifathul Ulum, Desa Bengkak kerabatnya yang  lain itu melihat ada sebuah kecelakaan.  Awalnya dia tidak mengira kalau   yang terlibat kecelakaan itu adalah saudaranya. ”Saudara saya yang lain itu baru sadar setelah   dia turun dari sepeda motor untuk  melihat korban yang tergeletak di jalan raya,” tandas Hariyadi.

Meski kematian dari ketiga korban ini bisa dikatakan tidak sewajarnya, namun dari keluarga mengaku bisa menerima. ”Kita  sudah ikhlas. Ini sudah takdir  Allah SWT. Paman saya itu punya  anak tiga, yang ikut meninggal anak yang terakhir. Dua anak lainnya ada yang sudah bekerja ada juga yang masih sekolah. Semuanya laki-laki,” jelasnya.

Ditanya apakah ada tanda-tanda  bahwa keluarganya ini akan pergi untuk selamanya, Hariyadi mengungkapkan sama sekali tidak ada firasat. Tentu kenyataan ini membuat kaget dari keluarga dan kerabat dari ketiga almarhum. ”Tidak ada tanda-tanda maupun firasat apa pun kepada keluarga,” kata Hariyadi.

Selain terkenal sebagai sosok  yang pekerja keras, Fadilah termasuk sosok yang alim. Saat masih muda pernah menjadi seorang guru mengaji di lingkungannya. Bahkan, hingga saat ini almarhum Fadilah juga masih menyempatkan diri mengajar  mengaji di sela kesibukannya   menjadi pedagang HP.

Saat ini, sosok Fadilah sudah  tidak ada lagi. Kerabat dan saudara sudah tidak bisa lagi melihat  semangat dari Fadilah salam soal dagang. Keluarga juga tidak bisa lagi melihat sosok almarhum  Jumaseh yang sehari-harinya menjaga toko di rumahnya. Sosok lucu dari Muhammad Fendra, 10, juga tidak terlihat   lagi pasca musibah kecelakaan tersebut.

”Meski mereka tidak  ada, tapi kebaikan dari mereka  pasti akan terus kami ingat.  Doanya saja semoga semua almarhum mendapatkan tempat  di sisi Allah SWT,” pungkas Hariyadi yang juga Ketua Komunitas HP Jadul Banyuwangi tersebut.

Sebelumnya diberitakan, jalur  maut di Jalan Raya Situbondo,  tepatnya di depan Ponpes Miftahul Ulum, Desa Bengkak,  Wongsorejo kembali memakan korban. Kali ini melibatkan kecelakaan lalu lintas antara bus  dengan sepeda motor yang ditumpangi bapak, ibu, dan anak.

Sang bapak meninggal di lokasi kejadian, sedangkan ibu dan  anaknya mengembuskan napas terakhirnya di Puskesmas Wongsorejo. Korban tewas adalah sekeluarga asal Lingkungan Kaliasin, Kelurahan Karangrejo, Banyuwangi. Informasi yag diperoleh Jawa Pos Radar Banyuwangi, kecelakaan maut ini bermula saat sepeda motor Yamaha Fino warna hitam  putih bernopol P 3648 YE yang  dikendarai Moh Fadilah dengan  keluarganya melaju dari arah  utara ke selatan.

Belakangan diketahui, Fadilah  dan keluarganya dalam perjalanan  pulang nyambangi kerabatnya  di Probolinggo. Sampai di jalan raya depan Ponpes Miftahul Ulum, Desa Bengkak sepeda motor ini mendahului truk dengan menggunakan bahu jalan  sebelah kanan.

”Kecepatan sepeda motor itu sangat tinggi saat  mau nyalip truk,” ujar saksi mata di lapangan. Nahas, saat menyalip truk yang  tidak diketahui identitasnya itu,  dari arah selatan melaju Bus Hino  bernopol N 7507 UA. Seketika  itu, karena sopir bus tidak sempat   menghindar akhirnya terjadi tabrakan yang begitu sangat keras.

Ketiga korban yang terjatuh ke   arah kanan jalan ini pun terseret dan terlindas bus yang melintas.  Kanit Laka Polres Banyuwangi,  Iptu Budi Hermawan mengatakan,  dari hasil penyelidikan di tempat kejadian perkara, kelalaian terletak pada pengendara sepeda  motor itu sendiri.

Diduga kuat, pengendara motor tidak mengindahkan markah jalan yang  bergaris lurus di mana tempat dia menyalip truk. Seharusnya jika markah jalan  lurus, setiap pengendara dilarang  keras menyalip kendaraan di depannya. ”Korban tewas satu keluarga. Anaknya bonceng di tengah diapit bapak dan ibunya,” ungkapnya. (radar)

Loading...

Kata kunci yang digunakan :