”Kopi Darat” Rakyat Bertanya Bupati Menjawab

0
255

kopiPEMANDANGAN tidak biasa tersaji di kawasan Pendapa Sabha Swagata Blambangan, Banyuwangi, kemarin siang (20/6). Puluhan becak berjajar rapi di tepi jalan depan rumah dinas orang nomor satu di lingkungan Pemkab Banyuwangi tersebut. Pemandangan di dalam peringgitan pendapa tidak kalah “seru”.Di tempat itu tampak ratusan orang duduk lesehan di atas karpet berwarna cokelat.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Jika pada kegiatan umumnya mereka yang datang ke pendapa berpakaian rapi plus sepatu mengkilat. Namun, pada kegiatan kali ini, mayoritas hadirin berpakaian seadanya. Bahkan, tidak sedikit di antara mereka hanya mengenakan kaus oblong lusuh dan topi yang sudah kucel. Mereka membaur dengan  orang-orang berpakaian batik yang belakangan diketahui adalah para camat.  

Sementara itu, Bupati Abdullah  Azwar Anas didampingi Wakil Bupati (Wabup) Yusuf Widyatmoko, dan beberapa pimpinan satuan kerja perangkat daerah (SKPD), duduk menghadap ratusan masyarakat yang memadati pendapa Sabha Swagata Blambangan tersebut. Pertemuan antara rakyat dengan pemimpin daerahnya itu terasa benarbenar gayeng. Sejurus kemudian, pembawa acara dari Bagian Humas dan Protokol Pemkab membuka acara.

Setelah melontarkan kalimat pembukaan singkat, pembawa acara mempersilakan seluruh hadirin menyantap nasi kotak yang disediakan. Nasi kotak itu pulalah yang disantap bupati, wabup, dan para pimpinan SKPD. Santap siang bersama itu semakin istimewa dengan lantunan lagu-lagu rohani yang dibawakan secara langsung grup hadrah asli Banyuwangi. Usai santap siang, seorang tokoh agama memimpin pembacaan doa bagi para pahlawan dan mantan Bupati Banyuwangi terdahulu. 

Para pahlawan dan mantan bupati yang telah meninggal dunia didoakan, agar mendapat tempat yang mulia di sisi Tuhan Yang Mahaesa. Sedangkan mantan bupati yang masih hidup, juga didoakan agar selalu diberkahi kesehatan dan kemudahan dalam hidup. Begitulah sekilas gambaran kegiatan open house yang digelar di Pendapa Sabha Swagata Blamba ngan. Bukan sekadar open house, kegiatan kali ini juga dirangkai dengan acara Rakyat Bertanya Bupati Menjawab.

Jadi, Bupati tidak hanya mendengar masukan atau keluhan rakyat dari sambungan telepon dan disiarkan secara langsung di media elektronik (talk show). Serap aspirasi kali ini dilakukan orang nomor satu di lingkungan Pemkab Banyuwangi itu dengan cara bertatap muka langsung atau “kopi darat” dengan rakyat. Pernyataanpernyataan polos pun dilontarkan warga yang hadir dalam kegiatan tersebut. Seperti usul yang disampaikan Koordinator Becak Wisata Pasar Banyuwangi, Suhariyanto. 

Dikatakan, dirinya berkesempatan mengunjungi Jalan Malioboro, Jogjakarta, beberapa waktu lalu. Dia mengaku sangat terkesima saat menyaksikan becak wisata di jalan yang menjadi salah satu tempat wisata andalan Jogjakarta tersebut sangat seragam. “Maka, kami mengusulkan agar becak wisata di Banyuwangi juga dibuat seragam. Karena saat ini Banyuwangi semakin banyak dikunjungi wisatawan,” ujarnya.

Menanggapi usul tersebut, Bupati Anas mengatakan pihaknya sudah menganggarkan seragam becak wisata melalui APBD tahun ini. Bukan sekadar anggaran, Bupati mengaku telah menyiapkan beberapa desain untuk penyeragaman becak wisata tersebut. “Setelah Pemilihan Presiden (Pilpres) penyeragaman becak wisata akan kita lakukan. Desain sudah kita siapkan. Kalau sekarang diseragamkan, nanti malah diganti dengan seragam calon presiden (capres) jagoan masingmasing,” cetus Bupati Anas disambut tepuk tangan puluhan tukang becak.  

Uniknya, setelah mendengar jawaban bupati, para tukang becak tersebut langsung berdiri. Rupanya mereka berniat meninggalkan Pendapa Sabha Swagata Blambangan. Mendapati hal itu, Camat Banyuwangi, Abdul Aziz Hamidi yang bertindak sebagai moderator meminta para tukang becak agar bersedia duduk kembali. Namun, dengan isyarat tangan, Bupati Anas justru meminta Camat Aziz mempersilakan para tukang becak tersebut untuk kembali melanjutkan kerja mengayuh becak.

“Saya persilakan para tukang becak kembali bekerja. Sebab usul mereka sudah disampaikan dan sudah kami jawab,” kata Bupati Anas. Berbeda dengan Suhariyanto yang cenderung blak-blakan dalam menyampaikan usul, Ketua RT 3/RW 2 Lingkungan Karanganyar, Kelurahan Karangrejo, Suardi punya trik khusus sebelum menyampaikan aspirasi agar insentif bagi para ketua RT diperhatikan. “Soal kependudukan, para ketua RT adalah ujung tombak  untuk memutakhirkan data kependudukan. 

Ini berarti tugas kami bertambah. Padahal banyak ketua RT yang tidak punya pekerjaan tetap. Maka kami memohon insentif ketua RT diperhatikan,” kata dia. Bupati Anas menimpali, Suardi adalah ketua RT yang pintar. Sebab, sebelum mengutarakan aspirasi, Suardi menyampaikan alasanalasan yang mendasari aspirasinya tersebut. “Maka doakan agar pendapatan asli daerah (PAD) Banyuwangi meningkat, sehingga tahun depan insentif bagi para ketua RT bisa kami tambah,” cetus bupati berusia 41 tahun tersebut.

Sementara itu, kepada wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi, Bupati Anas mengatakan, kegiatan open house tidak harus dilakukan pada hari raya Idul Fitri. Dia mengatakan, kegiatan serupa akan digelar secara berkala di Pendapa Sabha Swagata Blamba ngan. “Ini penting untuk semakin mendekatkan pemimpin dengan rakyat. Kami ingin berdialog langsung dan mendengar aspirasi rakyat,” pungkasnya. (radar)

Loading...