Manisnya Beternak Entok di Tengah Kepunahan

0
1172

mannisLagi Naik Daun, Restoran Jakarta Banyak yang Pesan
BUDIDAYA entok alias itik manila di Banyuwangi termasuk jarang diminati kalangan peternak unggas. Padahal, unggas satu itu sedang naik daun karena banyak restoran atau rumah makan berkelas yang membuat menu berbahan dasar mentok alias entok. Selain memiliki daging yang tebal, bau daging entok juga tidak menyengat seperti daging ayam dan itik.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Melihat peluang itu, Mahmud, 56, warga Dusun Lajang Surat, Desa Karangbendo, Kecamatan Rogojampi, mengembangbiakkan entok di pekarangan belakang rumahnya. Keputusan membudidayakan entok itu tidak asal-asalan. Sebelum menekuni budi daya entok, pria yang juga berprofesi sebagai petani itu membuat testimoni tentang entok secara online. Hasilnya, banyak yang menanyakan dan siap memesan entok.

“Padahal, dia hanya pura-pura. Saya mengaku siap menjadi penyuplai entuk, banyak yang tanya. Dari luar daerah semua. Ada yang dari Bandung, Jogja, Surabaya, dan Jakarta,” terang Mahmud. Semenjak itu, ia berniat menciumi profesi sampingannya itu. Meski tidak melakukan pengembangbiakan secara intensif. Mahmud mengaku cara tradisional seperti yang dia lakukan sekarang itu lebih efektif. Dengan pekarangan seluas 8×10 meter, la bisa merawat 46 entok saat ini.

Cara tradisional dinilai Mahmud memang lebih efektif. Sebab, di dusun ini banyak limbah sayuran. “Entok itu pemakan segala, maka saya manfaatkan kondisi itu untuk membiarkan entok keluaran. Tidak hanya dirawat dalam kandang. Jadi, biaya pengeluaran bisa di minimalkan.” jelasnya. Untuk memberi makan 46 entok yang dimilikinya, Mahmud hanya menghabiskan dana sekitar Rp 30.000. itu untuk 25 kilogram pakan dan cukup di konsumsi sebulan. Satu ekor cntok dewasa yang slap dipanen dihargai Rp 75.000.

Pada hari- hari besar keagamaan. harga seekor entok dijual lebih tinggi karena permintaan meningkat. Nah, kalau hari-hari besar harga entok jantan dewasa bisa mencapai Rp 100.000 lebih,” katanya. Diakui Mahmud. cara tradisional sedikit menghambat waktu panen. Jika menggunakan cara tradisional seperti itu. masapanen bisa mencapai enam bulan. Jika menggunakan cara budi daya intensif, dalam kurun 1,5 hingga 2 bulan,entok sudah siap dipanen.

“Tapi juga membutuhkan biaya pengeluaran besar, butuh kombinasi sentrat dan dedak untuk makanannya, ”jelas Mahmud. Bagi seorang petani sepertinya, harga sentrat sebesar Rp 8.000 per kilogram dianggap sangat mahal. Ia telah mengalkulasi biaya pengeluaran hingga pemasukan jika menggunakan cara perawatan intensif. “Tidak masalah begini dulu. Perlahan saya akan mengembangkan budi daya ini dengan cara intensif,” harapnya.

Selama ini Mahmud memasarkan entoknya ke beberapa tengkulak dan masyarakat yang berminat. Konsumennya selalu antre memesan entuk jika masa panen tiba, terutama di hari- hari besar keagamaan. “Kalau masa panen bisa sampai 35 entok terjual. Kalau hari-hari besar bisa mencapai 75 ekor yang terjual,” ungkapnya. Pria tiga anak itu mengaku, pada Hari Raya Idul Fitri dia bisa meraup untung Rp 3 hingga Rp 4 juta.

Bertambah bergembira saat seorang kawannya dari Jakarta yang membuka usaha restoran terus mendesaknya mengembangkan budi daya entok. Dikatakan Mahmud, kawannya tersebut siap memesan entok 100 ekor jika sudah entok yang dia pelihara sudah besar. “Dia siap memesan entok 100 ekor per hari,” terang Mahmud. Beberapa relasi yang di kenainya melalui media sosial juga siap memesan entok dalam jumlah banyak. Peluang memberdayakan entok itu tidak hanya dia manfaatkan sendiri. la mengajak beberapa tetangganya agar melakukan hal yang sama.

Selain untuk menyejahterakan diri sendiri, Mahmud ingin peluang emas membudidayakan entok itu juga menyejahterakan masyarakat Banyuwangi. Dia berharap nanti kabupaten berjuluk sunrise of Java ini menjadi salah satu wilayah penyuplai entok terbesar nasional. ‘Melihat pasar yang menjanjikan, peternak unggas Banyuwangi memiliki peluang emas menyejahterakan diri dan pastinya turut menggerakkan perekonomian daerah,” harapnya.

Ketua Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (Himpuli) Banyuwangi, Mujiono, membenarkan pernyataan Mahmud bahwa peluang pasar entok sangat menjanjikan. “Saat ini permintaan entok di dunia usaha kuliner sedang tinggi. terutama dari Bali,” terang Mujiono. Meski diBanyuwangi tempat peternak entok. tapi belum ada yang melakukan budi daya entok secara insentif. Padahal jika mau melakukan budi daya intensif. untung yang di dapat lebih besar” pungkasnya. (radar)

Loading...

Kata kunci yang digunakan :