Mempelai Putri Direbahkan, Passilik Baca Mantra

0
523
Tradisi Saulak. Pernikahan Suku Mandar di Temenggungan.

TIDAK salah  banyak orang yang menyebut bahwa Banyuwangi adalah replika dari Indonesia. Di Bumi Blambangan ini, masyarakat dengan berbagai suku hidup secara rukun. Ada suku Oseng, Tionghoa, Madura, Jawa, Arab, Mandar dan lain sebagainya.

Tata cara atau ritual setiap suku dalam menjalankan setiap acara pun berbeda-beda. Nah, untuk orang Mandar, Sulawesi yang bermukim di Banyuwangi juga berbeda tata caranya dalam segi upacara adat pernikahannya.

Adat pernikahan orang Mandar di Banyuwangi disebut dengan saulak. Saulak ini merupakan prosesi wajib  calon pasangan suami-istri yang salah satunya keturunan Mandar, Sulawesi. Kamis sore kemarin (27/4), pernikahan adat saulak berlangsung di jalan Sritanjung nomor 9, Kelurahan Temengguhan, Banyuwangi.

Kali ini yang dinikahkan secara adat saulak adalah Achmad fahrul Afiliawan dengan Putri Cempaka Akhir. Mempelai wanita merupakan anak keempat dari Samsul Arifin alias Sam Kribo yang merupakan keturunan dari Tuk Kapitan yang merupakan leluhur warga Mandar di Banyuwangi.

Ada banyak sajian yang dipersiapkan sebelum adat saulak ini dilangsungkan. Antara lain, bunga, sarung, kemenyan khusus, pisang, tumpeng, colok (obor kecil), sarung, bantal, tombak, keris, kemiri yang dibuat oleh wanita manapous dan sesajian lainnya.

Pada upacara adat pernikahan saulak ini sendiri dipimpin langsung oleh tukang saulak atau yang biasa dengan disebut passilik.

Passilik harus merupakan orang keturunan Mandar yang dulunya pernah menjadi tukang saulak. Setelah persiapan selesai dilakukan, Colok dari bambu yang telah diberi minyak kemiri terlebih dahulu dibakar oleh Lili Dahlia sang passilik.

Selanjutnya, setelah dirasa siap, mempelai wanita langsung diminta untuk tidur dengan keluarga dari mempelai pria dan wanita.  Di sana mempelai wanita direbahkan ke lantai dan dan tidur di atas bantal.

Untuk prosesi saulak ini,  wanita harus mengunakan sarung saja untuk menutupi tubuhnya. Passilik pun langsung membacakan sebuah mantra. Sembari mulut komat-kamit, passilik langsung mengambil satu butir telur yang kemudian diusap-usapkan ke beberapa tubuh mempelai wanita.

Prosesi belum selesai, passilik kemudian mengambil tumpukan baju dan sarung yang sudah ditempatkan dalam sebuah wadah. Wadah itu kemudian diletakkan pada muka mempelai wanita. Kemudian bunga itu dipegang secara bergiliran secara memutar sebanyak tiga kali oleh semua anggota keluarga yang datang.

Setelah baju, kemudian prosesi dilanjutkan dengan memutar bunga yang sudah ditempatkan dalam sebuah wadah sebanyak tiga kali. Selanjutnya, sebuah colok yang sudah terbakar dengan api juga diputar sebanyak tiga kali.

Nah, yang terakhir kali barulah tumpeng yang diputar kepada seluruh keluarga yang datang. Setelah tiga kali diputar tumpeng yang sudah ditempatkan dalam sebuah wadah itu diletakkan di bagian perut mempelai wanita.

Loading...

Sambil membaca mantra, passilik tampak menunjukkan ekspresi terkejut karena wadah dengan isi tumpeng itu tidak bisa diangkat alias lengket di perut. Akhirnya, passilik itu meminta Sam Kribo, ayah dari mempelai wanita mengangkat sebuah wadah yang sudah lengket di perut anaknya itu sambil membaca selawat.

Namun, ternyata tidak juga bisa dilakukan. Sam Kribo malah sempat mengerang seperti harimau entah kenapa penyebabnya. Bapaknya gagal, passilik kemudian meminta ibu kandung mempelai,  Nur Cahyo Srihartati, untuk menggeser saja wadah yang berisi tumpeng di perut anaknya tersebut.

Ternyata, ibu kandung Putri Cempaka tidak perlu tenaga banyak untuk menggeser wadah itu. Dengan diawali membaca salawat akhirnya wadah berisi tumpeng itu bisa diangkat. “Berarti Mabk Putri ini lebih sayang ke ibunya dari pada ke bapaknya,” kata passilik Lili Dahlia.

Prosesi wanita pun selesai. Saat ini giliran mempelai pria yang menjalankan ritual. Ritualnya pun sama seperti mempelai wanita. Namun, kali ini wadah berisi tumpeng yang ada pada perut mempelai pria bisa digeser langsung dengan mudah oleh bapak kandung mempelai pria.

“Alhamdulillah, berarti Fahrul (mempelai pria) selama ini lebih dekat dengan bapaknya dari pada dengan ibunya,” ujar Lili. Prosesi pun selesai. Kedua mempelai Achmad Fahrul dan Putri Cempaka pun sudah resmi secara adat saulak warga Mandar menjadi suami-istri.

“Nanti sepekan setelah acara inti dilakukan, sesajian seperti bunga, tumpeng, baju dan lain sebagainya harus dilarung ke laut. Ini juga untuk mengenang adat leluhur kami. Hukumnya wajib,” kata Sam Kribo, seorang seniman lukis yang juga sebagai Ketua Adat Suku Mandar di Banyuwangi ini.

Sam Kribo menambahkan, saulak ini tidak hanya dilakukan untuk prosesi pernikahan saja pada warga keturunan Mandar. Pada acara tujuh bulanan bayi dan melahirkan seorang bayi pun harus dilakukan ritual saulak. Tujuannya juga untuk keselamatan dari yang disaulak itu sendiri.

‘Dulu cucu saya enggak lahir-lahir karena saya tidak melakukan ritual. Setelah saya larung bunga di laut, alhamdulillah cucu saya itu lahir. Ini sudah menjadi adat kami,” tandasnya. Lebih jauh dijelaskan, sejatinya di Banyuwangi ini ada ribuan orang keturunan Mandar. Mereka tersebar di seluruh kecamatan di Banyuwangi.

“Ada mungkin kalau 500 KK. Selain di Kampung Mandar ada juga warga keturunan Mandar yang tinggal di Bulusan, Kecamatan Kalipuro dan Desa Sukojati, Kabat,” ungkap Sam Kribo. Dia menceritakan, warga keturunan Mandar di Banyuwangi merupakan keturunan dari Tan Kapitan.

Tan Kapitan itu sendiri merupakan sesepuh orang Mandar yang pernah bermukim di Banyuwangi. Dulu, selain Tan Kapitan, di Banyuwangi juga ada Tan Arab dan Tuk China. Tuk itu sendiri merupakan orang yang berkuasa dalam sukunya di Banyuwangi.

Sejatinya, ketiga tuk itu pemah bersatu. Namun, karena kepentingan Balanda yang ingin memecah belah kekuatan suku di Banyuwangi akhirnya belanda mengkontak suku tersebut sesuai dengan sukunya sendiri-sendiri.

“Tuk Kapitan itu makamnya di dekat Kantor Desa Mandar. Kalau makam Tuk Arab dan China saya kurang tahu dimana letaknya,” ungkap Sam Kribo. Sam kembali menjelaskan, sejatinya Tuk Kapitan itu merupakan seorang pedagang yang handal di Mandar, Sulawesi.

Entah bagimana caranya, akhirnya Tuk Kapitan memilih Blambangan (Banyuwangi) untuk berlabuh. Di sini akhirnya Tuk Kapitan mulai memperbesar perdagangannya hingga akhirnya memiliki keturunan yang banyak hingga saat ini.

“Berdasar sejarah yang saya gali dari orang tua saya, Tuk Kapitan meninggal di tahun 1718,” ungkap Sam Kribo mengakhiri perbincangan. (radar)

loading...


Kata kunci yang digunakan :