Menang Gara-gara Pemuda Kebo-keboan

0
512

Ledy Matmirah, 12, tampil mengesankan dalam Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLSSN) di Surabaya pada 8-12 Mei 2012 lalu. Dia meraih juara pertama lomba cipta cerita pendek (cerpen) tingkat Jawa Timur. Gelar itu dia sabet berkat judul unik “Pemuda Kebo-keboan” .


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

-NIKLAAS ANDRIES, Srono-

AROMA kemenyan menyeruak lepas sesaat setelah muncul beberapa pemuda dengan tubuh berbaur arang hitam pekat dengan tanduk, juga rambut palsu mereka. Mereka berkubang dan menari layaknya seekor kerbau. Tak merasa malu walaupun banyak orang yang menyaksikan tingkah laku mereka. Akan tetapi, di antara “kerbau-kerbau” tersebut terdapat seseorang yang entah mengapa, ia mau melakukan hal yang belum ia lihat dan lakukan sebelumnya.

Itulah cuplikan cerpen yang ditulis Ledy. Sebuah perpaduan imajinasi dan kekayaan budaya masyarakat Banyuwangi. Bukan kebetulan siswi kelas VIII SMPN 2 Srono itu menuangkan tradisi kebo-keboan dalam karya cerpennya yang dilombakan dalam FLSSN di Surabaya 8-12 Mei lalu. Tradisi yang dimiliki Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, dan Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, diceritakan Ledy dalam bentuk karya sastra yang menarik.

Bukan kebetulan pula putri pasangan Sukamat dan Muryani itu menceritakan kebo-keboan dalam cerpen yang dilombakan. Sebab, sejak dulu Ledy sangat tertarik dengan tradisi yang menurutnya masih mempertahankan unsur tradisional itu. Beberapa bagian adat dan budaya tersebut masih tersimpan keasliannya. Kini, setidaknya ada dua desa di Rogojampi dan Singojuruh yang masih mempertahankan budaya kebo-keboan.

Awalnya, Ledy ingin menceritakan ikhwal gandrung dalam cerpennya. Namun, setelah melalui berbagai pertimbangan, dia mengurungkan niatnya. “Kayaknya gandrung sudah umum dan rumit. Makanya aku pilih kebo-keboan,” bebernya. Saat lomba di Surabaya, dia hanya diberi waktu empat jam untuk menulis cerpen yang akan dilombakan. Langsung saja terlintas tradisi kebo-keboan sebagai bahan cerita. Siapa nyana, cerpennya berjudul ‘’Pemuda Kebo-keboan” itu mendapat sambutan baik juri.

Berlatih di bawah bimbingan guru pelajaran bahasa Indonesia, Mashudi, dan Kepala SMP 2 Srono, Samsudin Ali, Ledy mempersiapkan diri dengan baik sejak jauh hari sebelum lomba digelar. Tujuannya, agar dirinya bisa tampil maksimal di ajang tersebut. Dalam masa persiapan itu, dara kelahiran 14 Juni 1998 itu digembleng menulis cerpen dengan baik. Bukan hanya cara menulis cerpen yang dia pelajari, tapi juga harus mempelajari bahan dan tema yang akan dia tuangkan dalam cerpennya.

Susah-susah gampang, itulah perasaan yang dirasakan Ledy saat berlatih menulis cerpen. Sebab, seni tulis-menulis bagi dirinya masih merupakan hal baru. Mudah bagi Ledy, karena dia imajinasinya kuat. Bermodal daya imajinasinya yang kuat, menulis cerpen akan terasa mudah dan cepat. Selama ini, kemampuannya berimajinasi memang jarang tersalurkan. Dia jarang menuangkan apa yang terlintas di benaknya dalam bentuk tulisan.

Imajinasinya jarang tersalurkan dalam bentuk tulisan bukan tanpa sebab. Penyebabnya, Ledy memang tidak begitu menyukai dunia tulis-menulis. Namun, bukan berarti Ledy miskin karya tulis. Di usianya yang masih belia ini, dia sudah punya empat hingga lima buah cerpen. Nah, bakat alami yang dimiliki siswi berambut pendek itu terbaca oleh Mashudi. Dalam penjaringan siswa proyeksi lomba cerpen, guru pelajaran bahasa Indonesia SMP 2 Srono itu menyadari bakat luar biasa yang dimiliki anak didiknya itu.

“Persiapan hanya dua jam, dia sudah mampu menyelesaikan satu buah cerpen,” terangnya. Di usia yang masih belia, Ledy memiliki potensi menjadi penulis. Cerpen karyanya memiliki gaya bahasa yang menarik, dan alur yang sudah tertata dengan rapi. Tokoh dan karakter tokoh sangat kuat. Yang menjadi pekerjaan rumah Mashudi kini adalah membiasakan Ledy menulis. Menurut Ledy, menulis memang membutuhkan konsentrasi dan waktu yang pas.

Bila mood sedang bagus, maka tulisan bisa berkembang dan sesuai yang diharapkan. Bila suasana hati sedang tidak mendukung, aktivitas menulis akan dihentikan. Sementara itu, keberhasilan Ledy menggondol trophy FLSSN Jawa Timur membuatnya harus bersiap tampil di ajang yang sama tingkat nasional. Ujian berikutnya adalah lomba tingkat nasional yang akan dihelat di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, pada 18 hingga 24 Juni mendatang.

Kepala SMPN 2 Srono, Samsudin Ali, sangat bangga dan berterima kasih kepada  Ledy atas capaian yang telah diperoleh. Menurutnya, FLSSN merupakan kegiatan yang bisa menjadi sarana pembentukan dan peningkatan karakter anak bangsa, terutama dalam menghayati nilai-nilai budaya di masyarakat. “Ternyata tidak ada sesuatu yang sulit selama kita mau berusaha,” katanya. (radar)