Menangis Saat Cerpen Dimuat di Media Hongkong

0
252
AKTIF MENULIS: Penulis (kiri) bersama rekan-rekan buruh migran Indonesia di salah satu pantai di Hongkong.

Para TKW tidak hanya melulu menjadi babu di rumah milik majikan. Mereka juga aktif menulis. Bahkan, tulisan-tulisannya sering dimuat di surat kabar lokal Hongkong. Indira Margareta salah satunya. Berikut catatan cewek yang besar di Desa Kesilir, Kecamatan Siliragung, tersebut.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

MENJADI Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Hongkong merupakan berkah yang tiada terkira bagiku. Bukan satu kesialan yang patut disesali. Meskipun, menjadi TKW bukan salah satu dari sekian cita- cita yang pernah ternoktah dalam benak kecilku. Bahkan, kini semua yang aku lalui telah mengubah banyak hal dalam diriku yang sebelumnya sedikit pun tidak pernah terbayangkan.

Menepak jejak di Hongkong pada 2006, aku mulai bekerja pada majikan sebagai pengasuh anak kecil, dua balita yang kala itu masih berumur 2 tahun dan 8 bulan. Sangat bersyukur lagi, majikanku sungguh baik. Meski, pada saat itu aku baru bisa mendapatkan libur setelah enam bulan bekerja. Ketika mendapatkan libur pertama kali, Hongkong dalam pandanganku merupakan negara yang hebat dan beragam.

Dan, di Hongkong ini pula aku menemukan diriku dalam bentuk lain. Menulis. Ya, menulis. Kesukaan corat-coret sejak kecil, tetap aku bawa hingga dewasa, di mana pun berada. Menulis buku harian atau sekadar menulis ulang resep masakan aku lakukan demi mengusir rindu akan menulis. Meskipun, tulisanku pada saat itu tidak lebih dari sekadar coretan biasa.

Keseringanku menulis di buku harian tentang banyak hal, juga nya, tulisanku cukup menarik dan lain daripada pengirim SMS yang masuk ke HP-nya. Kemudian, aku disarankan untuk ikut bergabung pada salah satu organisasi kepe- nulisan Forum Lingkar Pena (FLP) Hongkong, salah satu cabang FLP yang ada di Indonesia. Resmi menjadi anggota FLP sejak 2009. Dari situ, kegiatan menulisku lebih fokus.

Saban Minggu aku berkumpul dengan para calon penulis lainnya untuk sharing ilmu dan berbagi info. Pada saat itu, aku merasa hari lebih berarti. Pulang libur mendapatkan kepuasan tersendiri. Bila sedang bekerja, aku membawa catatan kecil ke mana-mana. Mengantar anak sekolah, berbelanja, atau saat memasak di dapur. Menurut seniorku di FLP, tulis semua yang berkelebat di benak.

Tak hanya itu, kadang aku merampungkan cerpenku berlembar-lembar pada buku saku terseberkirim SMS pada teman yang berisi puisi dan kata-kata mutiara, berbuah hasil. Temanku begitu getol menyemangatiku. Menurutbut. Kemudian, malamnya baru aku salin pada komputer. Komputer yang aku miliki sendiri, dengan cara sembunyi-sembunyi.

Saking takut ketahuan, aku me- ngetik sambil rebahan. Berun- tung, kasur tempatku tidur berada di atas, sehingga pandangan ibu majikan yang cerewet terhalang pembatas kasur yang terbuat dari kayu. Aku rasa keberuntungan berada padaku. Waktu terus bergulir, keseriusanku berbuah manis. Tulisan tanganku banyak menghiasi media lokal Hongkong yang berbahasa Indonesia.

Aku masih ingat, cerpen pertama yang dimuat oleh Tabloid Apakabar berjudul ’Di Ujung Pagi’ Kala itu, aku sempat meneteskan air mata, betapa indah lembaran-lembaran yang aku pegang berisi bait-bait kata yang teruntai hingga menjadi satu cerita utuh. Dari situlah, semangat menulisku terus mengalir dan me- ngalir bagai mata air . Tapi, tak ada bangkai yang tak tercium.

Akhirnya, nenek majikan yang biasa aku panggil ‘Lampir’ karena saking cerewetnya, tahu aku memiliki komputer. Bagi mereka, ini suatu pemborosan tingkat tinggi. Aku merasa tamat sudah riw yat menulisku jika tuan marah dan menyuruhku pulang. Beberapa hari aku selalu dilanda kesedihan. Tapi, Tuhan berkata lain. Justru dorongan dan semangat hadir dari nyonyaku. Dia memelukku dan selalu ingin mendengar ceritaku seusai pulang liburan. Dan, ia selalu mengucapkan selamat bila mengetahui tulisanku dimuat media meskipun dia sama sekali tak bisa membacanya karena berbahasa Indonesia.

Dorongan dari keluarga majikan dan teman-teman semakin membuat bara tulisku memerah. Menyala-nyala. Apalagi setelah aku mengenal beberapa penulis senior baik di Hongkong maupun yang ada di Indonesia. Seperti, Kuswinarto (Redaktur Berita Indonesia), Mega Vristian (Penulis), Bonari Nabonenar (Penulis dan Sastrawan Jawa Timur), dll. Mereka semua ini mengispirasiku dengan selalu memberi semangat serta cambuk luar biasa. (bersambung) *) Lahir di Desa Kalisetail, Kecamatan Sempu. Kini berkerja sebagai buruh migran di Hongkong. (@ radar)

Loading...