Minum Air Batu Pecah Bisa Awet Muda

0
233

minnumTIDAK terasa waktu semakin senja. Padahal, ekspedisi masih belum berakhir. Ada beberapa lokasi yang menjadi jujugan berikutnya. Usai usai blusukan hutan bambu (arboretum), tim ekspedisi tidak membuang waktu dan langsung bergerak ke arah barat.Cuaca masih bersahabat. Tidak ada hujan yang mengguyur. Sinar matahari pun mulai menyingsing ke arah barat.Pohon pinus tetap tumbuh subur di kawasan tersebut. Embusan angin membuat napas semakin lepas dan benar-benar menghirup udara bebas.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Medan jalan yang ditempuh juga cukup rumit. Mengendarai sepeda motor off road lebih menantang. Tapi, menggunakan mobil dengan tipe khusus juga seru. Hanya saja, menggunakan roda dua lebih gesit dan lebih cepat untuk melintasi jalan yang keras. Rombongan tim ekspedisi masih sangat asing dengan Gua Kedung Bagus. Sebab, gua itu dinilai masih belum populer di Banyuwangi. Meski belum dikenal luas, ternyata gua tersebut memiliki banyak keistimewaan jika dibandingkan dengan gua pada umumnya.  

Rasa penasaran untuk melihat kondisi gua akhirnya terbayar. Gua itu berada di tepi sungai di bawah tebing. Untuk menjangkau lokasi, tim ekspedisi harus turun dari tangga berbatu. Beruntung, daya jangkau tebing tidak seberat di air terjun Lider, di Dusun Lider, Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon. Meski hanya tebing yang pendek, tapi tim ekspedisi tidak bisa menyembunyikan rasa letih dan lelah. Namun, semua rasa itu terpaksa dihilangkan. Motto semangat pantang menyerah menjadi dasar dalam menaklukkan setiap medan.

Loading...

Turunan tebing seperti undak- undakan. Sehingga, mempermudah pengunjung untuk menjangkau lokasi tersebut. Kesan mistik sangat terasa di kawasan itu. Selembar kain dengan corak hitam-putih melingkar di batu besar. Meski berada di pinggir sungai, kawasan itu sangat bersih. Ternyata lokasi tersebut dikenlola dengan baik. Umat  indu yang menjadi pelopor dan merawat dengan baik lokasi tersebut. Sebuah gubuk juga berdiri di lokasi itu. 

Sedangkan, lokasi gua berada di sisi selatan gubuk persis di bawah tebing sisi barat. Setelah mendapatkan petunjuk, tim ekspedisi langsung melihat gua. Merasa penasaran, sebagian personil tim masuk ke dalam gua. Bahkan, tim sempat mengabadikan momen itu di dalam gua yangdilengkapi dengan mata air itu. Selain gua, kawasan itu juga memiliki keistimewaan lain. Salah satunya batu pecah. Yang menarik, di sela-sela batu pecah itu keluar air yang sangat jernih dan dingin. Konon, air tersebut banyak dikonsumsi pengunjung yang datang.

Usut punya usut, dengan mengonsumsi air batu pecah itu bisa menambah awet muda. Selain itu, fungsi yang tidak kalah penting adalah bisa segera menemukan jodoh bagi yang belum punya pasangan hidup. Mendapatkan kabar itu, para tim ekspedisi langsung menenggak air tersebut. Percayaatau tidak, yang jelas air tersebut jernih. Dengan demikian, air tersebut layak untuk dikonsumsi. Tempat itu tampaknya masih belum lama ini dikelola. Hal itu diakui Mantri RPH Gunungsari, Sunardi saat mendampingi tim ekspedisi hingga tiba di lokasi. ‘’Masih setahun ini dibangun,’’ terangnya.Adalah umat Hindu yang berperan besar yang mengelola tempat tersebut. 

Dijelaskan, tempat tersebut memang sering kali dikunjungi warga Hindu dengan berbagai macam tujuan. Meditasi dan mendekatkan diri kepada Tuhan yang Maha Esa. ‘’Biasanya umat Hindu datang ke sini untuk kepentingan rohani,’’ jelasnya. Dia mengatakan, jika gua kedung bagus itu juga dikenal dengan gua manten. Karena, tidak sedikit warga yang kesulitan mencari jodoh, setelah mengunjungi gua, akhirnya sukses mendapatkan pasangan. Sehingga, warga lebih mengenal dengan sebutan gua manten. (radar)

Loading...