sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Sesi tanya jawab dalam Pengajian Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang digelar di Jakarta, Jumat (13/2), berlangsung dinamis.
Sejumlah peserta melontarkan pertanyaan kritis terkait implementasi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), terutama mengenai potensi perbedaan awal Ramadan dengan pemerintah maupun metode penentuan kalender Islam lainnya.
Forum ilmiah yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu menyoroti perubahan pendekatan yang kini digunakan organisasi tersebut dalam menentukan awal bulan hijriah.
Peserta mempertanyakan perbedaan metode hisab Muhammadiyah dengan kriteria imkanur rukyat pemerintah, serta dampak penggunaan sistem kalender global terhadap keseragaman ibadah umat Islam.
Perbedaan Awal Ramadan Masih Mungkin Terjadi
Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Maesyarah, menjelaskan bahwa Muhammadiyah kini telah meninggalkan metode lama hisab hakiki wujudul hilal dan beralih menggunakan KHGT berbasis kriteria astronomis global.
Menurut dia, metode wujudul hilal sebelumnya hanya mensyaratkan terjadinya ijtimak dan posisi hilal berada di atas ufuk saat matahari terbenam, berapa pun ketinggiannya.
Sementara dalam KHGT, standar yang digunakan jauh lebih ketat, yakni tinggi hilal minimal 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat.
“Kalau kriteria itu terpenuhi di mana pun di dunia, selama ijtimak terjadi sebelum pukul 24.00 UTC, maka dihitung sebagai awal bulan hijriah,” jelasnya, seperti dilansir dari laman muhammadiyah.or.id.
Meski demikian, Maesyarah menegaskan perbedaan dengan pemerintah tetap berpotensi terjadi.
Hal itu karena pemerintah menggunakan pendekatan wilayah lokal atau wilayatul hukmi, sedangkan KHGT menggunakan prinsip matlak global.
“Karena kita global, sementara pemerintah lokal. Jadi tidak selalu bertemu,” ujarnya.
Peserta juga menyoroti alasan penggunaan wilayah tertentu seperti Selandia Baru sebagai acuan awal bulan.
Maesyarah menjelaskan bahwa ijtimak memang fenomena global, tetapi KHGT memperhitungkan lokasi pertama munculnya fajar di bumi setelah ijtimak terjadi.
Dalam kondisi tertentu, wilayah tersebut menjadi rujukan karena memenuhi parameter kalender global.
Sumber: muhammadiyah.or.id
Page 2
Page 3
Ia menambahkan bahwa perbedaan bukan hal baru bagi Muhammadiyah. Bahkan sebelum KHGT diterapkan, organisasi tersebut beberapa kali berbeda dengan pemerintah dalam penentuan awal Ramadan maupun hari raya.
Keunggulan metode hisab, lanjutnya, terletak pada kepastian waktu yang dapat dihitung jauh ke depan. Kalender hijriah bahkan dapat disusun puluhan tahun sebelumnya karena berbasis perhitungan astronomis yang pasti.
“Kalender 1450 Hijriah sudah bisa diakses sekarang karena kita menggunakan hisab,” katanya.
Dalam penjelasannya, Maesyarah juga menyinggung praktik rukyat yang terkadang tidak sepenuhnya konsisten dengan hasil hisab astronomi.
Ia mencontohkan laporan terlihatnya hilal di Aceh pada Ramadan sebelumnya, padahal secara perhitungan posisi hilal belum memenuhi kriteria visibilitas.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa faktor nonteknis kadang turut memengaruhi keputusan penetapan awal bulan.
Muhammadiyah Dorong Internasionalisasi KHGT
Sementara itu, anggota Majelis Tarjih dan Tajdid lainnya, Arwin Juli Rakhmadi Butar-butar, menjelaskan strategi Muhammadiyah memperkenalkan KHGT ke tingkat internasional.
Menurut dia, setelah konsep tersebut dirumuskan dan ditanfidzkan, pekerjaan besar berikutnya adalah membangun penerimaan global melalui dialog akademik dan jejaring internasional.
Upaya tersebut dilakukan dengan menjalin komunikasi dengan para pakar di berbagai negara seperti Malaysia, Mesir, dan Suriah.
Muhammadiyah juga memanfaatkan jaringan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) di luar negeri untuk sosialisasi kalender global.
“Konsep kita global, jadi tidak boleh menjadi katak dalam tempurung. KHGT harus diperkenalkan ke dunia internasional,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya edukasi internal agar warga Muhammadiyah sendiri memahami konsep tersebut sebelum dikenal luas secara global.
Arwin menambahkan bahwa perbedaan tanggal puasa secara internasional sebenarnya relatif berimbang.
Umat Islam yang memulai puasa pada tanggal berbeda jumlahnya hampir sama di berbagai negara karena perbedaan metode penentuan awal bulan.
Komunitas Muslim minoritas di Eropa dan Amerika justru merasakan manfaat besar dari kalender global karena memberikan kepastian administratif, termasuk dalam pengajuan cuti kerja saat hari raya.
Sumber: muhammadiyah.or.id








