Nova Kehilangan Adik dan Ibu

0
81

Nova-Kehilangan-Adik-dan-Ibu

“BAPAK, sepeda motor kita tergenang!” teriak Nova Sari, 7, warga Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, kepada sang ayah, Januri, 51. Seketika itu suasana di dalam Kapal Motor (KM) Rafelia  2 yang semula relatif tenang menjadi gempar.

Penumpang kapal yang tengah mengarungi Selat Bali, tepatnya dari Pelabuhan Gilimanuk menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, panik. Kepanikan juga dialami Januri dan sang istri yang saat itu tengah bermain bersama anaknya  yang lain yang masih berusia 1,5 tahun.

Januri dan para penumpang lain berusaha mencari tahu kebenaran ucapan gadis kecil yang kala itu mengenakan seragam olah raga SDN  Olehsari tersebut. Situasi semakin mencekam ketika para penumpang mengetahui saat itu air  laut sudah menggenangi dek kapal tersebut.

Para penumpang pun berupaya menyelamatkan diri. Oleh kru kapal, seluruh penumpang diarahkan ke emergency station. Sejumlah kru kapal bahu-membahu membagikan pelampung dan mengarahkan penumpang keluar kapal.

Tak lama berselang, sekitar pukul 12.50, KM Rafelia oleng dan akhirnya tenggelam di selat yang menghubungkan Pulau Jawa dan Bali tersebut. Singkat cerita, Januri berhasil dievakuasi ke Rumah Sakit Islam Banyuwangi.

Ketika berada di RS yang berlokasi di jalan Basuki Rahmat, Banyuwangi, tersebut dia masih tampak shock. Betapa tidak, saat dirinya sudah menjalani perawatan, dia belum mendengar kabar keberadaan sang istri, Nova, dan adik Nova.

Namun, sekitar 30 menit berselang, mobil ambulans yang belakangan diketahui mengangkut Nova tiba di RS Islam Banyuwangi. “Anak bapak sudah sampai RS ini. Istri dan bayi bapak masih dalam perjalanan,” ujar seorang petugas SAR kepada Ianuri.

Setelah mendengar kabar tersebut, kondisi Januri mulai membaik. Apalagi, ketika Nova sudah sampai di sisinya dan dirawat di ruang perawatan yang sama dengan dirinya. “Anak saya ini (Nova) awalnya melihat televisi (di geladak kapal, Red). Tetapi, tiba-tiba dia turun ke dek.

Sejurus kemudian dia naik lagi sambil berlari dan mengatakan sepeda motor saya tergenang. Gara-gara ucapan anak saya, penumpang langsung heboh,” ujarnya. Sejurus kemudian ekspresi sedih kembali diperlihatkan Januri. Rupanya dia menyadari bahwa istrinya dan satu anaknya yang masih balita belum ditemukan.

“Istri dan bayi saya belum ditemukan,” pungkasnya. Sementara itu, kisah memilukan lain juga menimpa Ribut Hariyono, 51, warga Dusun Krajan, Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro. Pria yang juga satu ini sempat berupaya menyelamatkan satu balita penumpang kapal nahas tersebut.

Sayang, balita yang nyaris berhasil dia gapai saat berada di atas laut itu tiba-tiba menjauh. Itu diduga akibat tersedot arus bodi kapal yang tenggelam. Tak heran, ketika menjalani perawatan di RSI Banyuwangi, ekspresi wajah ribut tampak seperti orang yang tengah terguncang.

Dengan kondisi hidung yang terhubung dengan tangki oksigen, tatapan matanya kosong mengarah ke langit-langit RS tersebut. “Ayah saya sempat sadar. Dia menanyakan balita yang coba dia selamatkan. Tetapi, setelah itu ayah saya kembali tidak sadar lagi,” kata Sofyan, 30, putra Ribut.

Sementara itu, versi lain diungkapkan Martha Tri Handoko, salah satu ABK. Pria yang bertugas sebagai kelasi di kapal milik PT. Bahari Dhanna Utama tersebut mengatakan, dirinya sempat melihat kapal tersebut aver draft (melebihi batas ketinggian normal air) di bagian haluan dan buritan kapal.

Ternyata saat itu penumpang sudah berkumpul di emergenzy station. Martha dan rekan-rekannya sesama ABK sudah membagikan pelampung kepada para penumpang. “Tidak lama kemudian kapal oleng,” pungkasnya. (radar)

Loading...