BANYUWANGI, KOMPAS.com – Seorang pelajar perempuan bernama Devi Rahmadani (17) asal Jember dievakuasi tim SAR gabungan dari Pos 3 pendakian Gunung Ranti Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (3/1/2026). Devi dievakuasi setelah posko pendakian menerima laporan pendaki lainnya yang menyebut adanya dugaan pendaki kesurupan di jalur pendakian.
Laporan tersebut segera ditindaklanjuti oleh petugas dengan melakukan kajian medis. Berdasarkan gejalanya, kondisi yang dialami korban bukan disebabkan oleh hal mistis, melainkan murni gangguan kesehatan akibat cuaca ekstrem.
“Pendaki yang turun melapor ke posko bahwa ada pendaki kesurupan. Namun berdasarkan kajian dan logika kita, pendaki tersebut terkena hipotermia atau kedinginan akut,” kata Kepala Perhutani KPH Banyuwangi Barat, Muklisin, Minggu (4/1/2026).
Baca juga: 6 Pendaki Ilegal Diamankan di Gunung Ranti saat Libur Nataru
Evakuasi Menggunakan Tandu
Petugas posko segera menginformasikan laporan tersebut ke satuan tugas (satgas) Gunung Ranti yang langsung melakukan penjemputan ke titik pendaki berada. Satgas juga menghubungi pemangku kepentingan terkait seperti SAR Gunung Ijen, Basarnas, serta pemadam kebakaran untuk membantu upaya evakuasi korban dari pos 3.
Tim penyelamat memastikan terlebih dahulu kondisi fisik korban sebelum memulai proses penurunan medan yang cukup berat. Mengingat kondisinya yang melemah, petugas memutuskan untuk mengevakuasi korban menggunakan tandu.
“Sebelum proses turun, petugas memastikan lebih dulu kekuatan fisik pendaki apakah bisa dievakuasi dengan ditandu,” ujar Muklisin.
Setelah pengecekan, petugas mengangkat pendaki tersebut menggunakan tandu dan memberinya alat penghangat kaki selama perjalanan. Saat proses turun, tim SAR gabungan membantu evakuasi hingga ke bawah. Setelah dilakukan penanganan medis di basecamp, kondisi pendaki perlahan mulai pulih.
Peralatan Memadai namun Terkendala Suhu
Meskipun mengalami hipotermia, Muklisin menjelaskan bahwa secara kelengkapan pendaki tersebut sebenarnya membawa peralatan yang memadai untuk pendakian. Namun, diduga korban tidak kuat menahan terpaan udara yang terlalu dingin di lokasi tersebut.
Devi juga tercatat sebagai pendaki resmi. Namun, saat kejadian ia belum sempat menggunakan aplikasi SOS karena mengira masih mampu untuk turun sendiri, hingga akhirnya pendaki lain yang memberikan laporan ke petugas posko.
“Pendakinya juga resmi, namun saat kejadian belum menggunakan aplikasi SOS karena mengira masih mampu untuk turun, hingga akhirnya ada pendaki lain yang melapor,” jelasnya.
Kasubsi Operasi dan Siaga Kansar Banyuwangi, Novix Heryadi, menambahkan bahwa pihaknya menerima laporan kondisi membahayakan pendaki hipotermia pada Sabtu petang. Proses evakuasi berlangsung dengan tantangan cuaca yang kurang bersahabat.
“Saat proses evakuasi, kondisi cuaca hujan dengan intensitas rendah, suhu 14 derajat Celsius dan kecepatan angin 2 km/jam,” urai Novix.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang







