Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Fakta di Balik Pembacokan Mahasiswi UIN Suska, Kemenkes Ungkap Peran Erotomania

fakta-di-balik-pembacokan-mahasiswi-uin-suska,-kemenkes-ungkap-peran-erotomania
Fakta di Balik Pembacokan Mahasiswi UIN Suska, Kemenkes Ungkap Peran Erotomania

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) merespons kasus pembacokan terhadap mahasiswi di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim II (UIN Suska) Pekanbaru, Riau, dengan menyediakan layanan konseling jangka pendek bagi korban, saksi, dan komunitas kampus.

Jika diperlukan, rujukan ke psikiater juga akan difasilitasi.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menjelaskan bahwa peristiwa ini menyoroti peningkatan perilaku berisiko di kalangan anak muda yang berkaitan erat dengan kesehatan mental, lingkungan sosial, serta keterbatasan akses layanan.

Menurutnya, fenomena ini harus dipandang sebagai isu kesehatan masyarakat.

Di media massa, pelaku diduga mengidap erotomania, yaitu delusi bahwa seseorang, seringkali figur dengan status lebih tinggi, jatuh cinta kepadanya tanpa bukti nyata.

Erotomania termasuk gangguan delusi dalam spektrum psikotik, yang dapat berdiri sendiri atau muncul bersama skizofrenia maupun gangguan mood dengan gejala psikotik.

Kemenkes melihat adanya interaksi antara kerentanan individu, seperti riwayat keluarga gangguan psikotik atau mood dan penyalahgunaan zat, dengan faktor pemicu seperti putus hubungan, tekanan akademik, dan isolasi sosial.

Peran media serta konflik interpersonal juga dinilai dapat memperburuk kondisi individu yang rentan secara psikis.

Sebagai respons, Kemenkes memobilisasi tim krisis dari Dinas Kesehatan, melatih pendamping kampus dalam manajemen trauma dan rujukan, serta berkoordinasi dengan pihak kampus dan aparat untuk menjamin keselamatan korban dan menjaga kerahasiaan pasien.

Korban sebelumnya mendapat pertolongan di RS Bhayangkara Pekanbaru dan direncanakan dirujuk ke RSUD Arifin Achmad.

Data nasional menunjukkan masalah kesehatan mental pada remaja dan mahasiswa masih signifikan, sementara skrining belum merata.

Karena itu, Kemenkes mendorong skrining sistematis di sekolah dan kampus untuk deteksi dini dan pencegahan kekerasan.