Pria Stres Bantai Bocah dan Kakek Hingga Tewas

2
357

Suwarni-alias-Bancet-diamankan-petugas-Polsek-Muncar-berikut-sebilah-celurit-yang-digunakan-membabat-kedua-korban-kemarin.

MUNCAR – Aksi pembunuhan sadis menggemparkan warga Desa Sumberberas, Kecamatan Muncar, kemarin siang (15/3). Suwarni alias Bancet, 68, warga Dusun Sidomulyo Barat, RT 6/RW 2, Desa Sumberberas, tiba-tiba mengamuk.

Dua warga  yang ditemui langsung dibabat dengan sebilah celurit hingga tewas.  Belum diketahui penyebab Suwarni mengamuk. Namun, informasi yang beredar menyebutkan Suwardi sedang stres. Yang jelas, kedua korban meninggal dengan  luka cukup parah.

Keduanya adalah Ficky Ramadani, 10, tetangganya sendiri, dan Sidiq, 60, warga Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar. Aksi pembunuhan di dua lokasi yang terpisah itu terjadi pukul  13.15. Awalnya, Ficky bermain  sepeda pancal di sebelah barat rumahnya atau jalan setapak  menuju rumah Suwarni.

“Suwarni keluar dari rumah sambil membawa celurit,” ujar warga yang minta namanya tidak dikorankan. Tidak jelas apa yang ada di  pikiran Suwarni kala itu. Kakek  yang sedang ditinggal istrinya  menjadi TKI itu berjalan mendekati Ficky.

Saat posisinya berada di dekat korban, celurit yang dia genggam langsung diayunkan  hingga mengenai leher bocah  berusia 10 tahun tersebut.  Mendapat serangan mendadak, Ficky langsung tersungkur ke tanah. Tetapi, saat itu sempat bangun dan berjalan menuju rumahnya dengan tubuh bersimbah darah.

Nahas, begitu sampai di teras rumahnya, bocah kelas III SD itu langsung ambruk dan meninggal. Ibu kandung Ficky, Indrowati, 40, yang sedang nonton televisi di rumahnya langsung keluar dan  menjerit sambil mendekap putranya  yang sudah tidak bernyawa itu.

Loading...

“Tubuh Ficky penuh darah. Saya bopong ke puskes as,” cetus Gunawan, 45, tetangga korban. Menurut Gunawan, Ficky yang tubuhnya penuh darah itu mengalami luka cukup parah di bagian leher. Saat dibopong, kondisinya  sudah meninggal.

“Luka di leher cukup lebar. Saat itu Suwarni sudah tidak ada,” terang Gunawan  kepada Jawa Pos Radar Genteng.  Berita Suwarni mengamuk dengan membabat Ficky dalam  waktu cepat tersebar. Puluhan  warga berdatangan ke lokasi kejadian, termasuk anggota Polsek Muncar.

Saat polisi sedang melakukan oleh TKP (tempat kejadian perkara), ada laporan pembunuhan terjadi di simpang  empat Dusun Sumberayu, Desa Sumberberas, tepatnya di depan Toko Joyo yang lokasinya di samping  kantor Desa Sumberberas.

Tragisnya, pelaku pembunuhan di lokasi yang berjarak sekitar tiga kilometer dari lokasi pertama itu juga Suwarni. “Anggota kita bagi, sebagian di TKP pertama, yang lain meluncur ke TKP ke dua,” cetus Kapolsek Muncar,  Kompol Agus Dwi Jatmiko.

Di lokasi yang kedua itu korbannya adalah Sidiq, 60, warga Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar. Saat kejadian, korban sedang naik sepeda pancal. Setiba di lokasi kejadian, oleh Suwarni dihentikan dan langsung dibabat menggunakan celurit.

Akibat sabetan celurit itu, korban mengalami luka cukup parah di dada. Oleh warga dilarikan ke Puskesmas Sumberberas lalu dirujuk ke RSUD Genteng. Sayang, korban meninggal di perjalanan. “Pak Sidiq meninggal  saat akan dibawa ke RSUD Genteng,” terang kapolsek.

Warga yang melihat aksi sadis Suwarni di simpang empat Dusun  Sumberayu, Desa Sumberberas, langsung menangkapnya. Selanjutnya, Suwarni diserahkan kepada polisi untuk diproses hukum. “Tersangka normal. Kita periksa nyambung,” cetus kapolsek.

Sebagai dijadikan barang bukti (BB), polisi mengamankan celurit yang digunakan pelaku membacok  kedua korban. Selain itu, sepeda BMX milik Ficky, sepeda milik Sidiq, dan pakaian korban yang penuh  darah juga diamankan di polsek. “Tersangka masih kita periksa. BB  kita amankan,” ungkapnya.

Informasi yang berhasil dikumpulkan Jawa Pos Radar Genteng, Suwarni alias Bancet selama ini tinggal sendiri di rumahnya di Dusun Sidomulyo Barat, RT 6/RW 2, Desa  Sumberberas, Kecamatan Muncar. Rumahnya itu berada di belakang rumah orang tua Ficky.

Suwarni yang tinggal di rumah seorang diri itu karena ditinggal istrinya bekerja di luar negeri. Istrinya sengaja menjadi tenaga kerja  Indonesia (TKI) karena tidak tahan  dengan suaminya yang terkenal temperamental dan kerap melakukan penganiayaan kepada istrinya.

“Sudah keterlaluan, patut dihukum mati,” ujar Ponimin, salah seorang warga Dusun Sidomulyo Barat, Desa  Sumberberas. (radar)

loading...


Kata kunci yang digunakan :