Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Reaktivasi Jalur Kereta Api Jember-Bondowoso-Situbondo Digaungkan Sejak 2011, Dishub Kota Tape Perkuat Koordinasi Lintas Daerah

reaktivasi-jalur-kereta-api-jember-bondowoso-situbondo-digaungkan-sejak-2011,-dishub-kota-tape-perkuat-koordinasi-lintas-daerah
Reaktivasi Jalur Kereta Api Jember-Bondowoso-Situbondo Digaungkan Sejak 2011, Dishub Kota Tape Perkuat Koordinasi Lintas Daerah

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Rencana reaktivasi jalur kereta api di 3 kabupaten, yakni Jember, Bondowoso, dan Situbondo, bukanlah wacana baru.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Bondowoso, Sigit Purnomo, mengungkapkan bahwa gagasan menghidupkan kembali jalur rel tersebut telah disuarakan sejak tahun 2011.

Bahkan, hingga saat ini, rencana tersebut telah masuk dalam dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan tercantum sebagai bagian dari program induk perkeretaapian nasional.

Hal ini menunjukkan bahwa reaktivasi jalur kereta api Bondowoso memiliki dasar perencanaan yang kuat dan berkelanjutan.

“Jadi kami juga terus melakukan koordinasi dengan pusat tentunya,” kata Sigit, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk memastikan rencana tersebut tidak berhenti di atas kertas.

Saat ini, Pemerintah Kabupaten Bondowoso tengah mematangkan langkah-langkah strategis agar reaktivasi jalur kereta api tersebut dapat segera terealisasi.

Prosesnya memasuki fase penguatan koordinasi lintas daerah dan lintas lembaga, mengingat proyek ini termasuk dalam agenda strategis nasional.

Menurut Sigit, salah satu langkah krusial yang terus didorong adalah agar reaktivasi jalur kereta api masuk ke dalam rencana kerja PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Dengan masuknya program tersebut ke agenda resmi KAI, proses perencanaan teknis hingga pelaksanaan di lapangan dapat segera dilanjutkan.

“Kalau sudah masuk rencana kerja KAI, tahapan berikutnya bisa lebih jelas, mulai dari perencanaan teknis sampai eksekusi,” jelasnya.

Upaya percepatan reaktivasi jalur kereta api juga dilakukan melalui kolaborasi lintas daerah.

Tiga kabupaten di kawasan Tapal Kuda, yakni Bondowoso, Situbondo, dan Jember, telah menjalin koordinasi intensif untuk menyatukan visi dan kepentingan bersama.

Kerja sama ini dinilai penting mengingat jalur kereta api yang direncanakan akan menghubungkan wilayah-wilayah strategis di kawasan tersebut.

Dengan konektivitas berbasis rel, distribusi barang dan mobilitas masyarakat diharapkan menjadi lebih efisien.


Page 2

Selain memperkuat koordinasi antarpemerintah daerah, Dishub Bondowoso juga mulai melakukan pendekatan langsung kepada masyarakat.

Sosialisasi dilakukan khususnya kepada warga yang saat ini menempati lahan milik PT KAI.

Sigit menjelaskan bahwa sebagian besar lahan tersebut dimanfaatkan masyarakat melalui mekanisme sewa yang telah diatur dalam perjanjian resmi.

Oleh karena itu, pemerintah daerah merasa perlu memberikan pemahaman sejak dini terkait rencana reaktivasi jalur kereta api.

“Aset-aset yang selama ini disewakan memang memiliki dasar perjanjian. Kami sudah melakukan rapat dan juga turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi di area PT KAI,” ujarnya.

Dari hasil sosialisasi tersebut, Dishub mencatat respons masyarakat relatif positif.

Mayoritas warga memahami bahwa lahan yang mereka tempati sewaktu-waktu akan kembali difungsikan sesuai peruntukannya sebagai jalur perkeretaapian.

“Masyarakat pada prinsipnya mendukung. Mereka sadar bahwa ini untuk kepentingan yang lebih besar,” kata Sigit.

Ia berharap, dukungan masyarakat serta sinergi lintas daerah yang telah terbangun dapat menjadi modal utama dalam mempercepat realisasi reaktivasi jalur kereta api.

Menurutnya, kehadiran kembali moda transportasi berbasis rel akan membawa dampak signifikan bagi peningkatan konektivitas wilayah.

Tak hanya itu, reaktivasi jalur kereta api juga diyakini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, membuka peluang investasi, serta memperkuat posisi Bondowoso dalam jaringan transportasi regional di Jawa Timur.

“Kereta api bukan hanya soal transportasi, tapi juga pengungkit ekonomi dan pembangunan wilayah,” pungkas Sigit. (*)


Page 3

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Rencana reaktivasi jalur kereta api di 3 kabupaten, yakni Jember, Bondowoso, dan Situbondo, bukanlah wacana baru.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Bondowoso, Sigit Purnomo, mengungkapkan bahwa gagasan menghidupkan kembali jalur rel tersebut telah disuarakan sejak tahun 2011.

Bahkan, hingga saat ini, rencana tersebut telah masuk dalam dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan tercantum sebagai bagian dari program induk perkeretaapian nasional.

Hal ini menunjukkan bahwa reaktivasi jalur kereta api Bondowoso memiliki dasar perencanaan yang kuat dan berkelanjutan.

“Jadi kami juga terus melakukan koordinasi dengan pusat tentunya,” kata Sigit, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk memastikan rencana tersebut tidak berhenti di atas kertas.

Saat ini, Pemerintah Kabupaten Bondowoso tengah mematangkan langkah-langkah strategis agar reaktivasi jalur kereta api tersebut dapat segera terealisasi.

Prosesnya memasuki fase penguatan koordinasi lintas daerah dan lintas lembaga, mengingat proyek ini termasuk dalam agenda strategis nasional.

Menurut Sigit, salah satu langkah krusial yang terus didorong adalah agar reaktivasi jalur kereta api masuk ke dalam rencana kerja PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Dengan masuknya program tersebut ke agenda resmi KAI, proses perencanaan teknis hingga pelaksanaan di lapangan dapat segera dilanjutkan.

“Kalau sudah masuk rencana kerja KAI, tahapan berikutnya bisa lebih jelas, mulai dari perencanaan teknis sampai eksekusi,” jelasnya.

Upaya percepatan reaktivasi jalur kereta api juga dilakukan melalui kolaborasi lintas daerah.

Tiga kabupaten di kawasan Tapal Kuda, yakni Bondowoso, Situbondo, dan Jember, telah menjalin koordinasi intensif untuk menyatukan visi dan kepentingan bersama.

Kerja sama ini dinilai penting mengingat jalur kereta api yang direncanakan akan menghubungkan wilayah-wilayah strategis di kawasan tersebut.

Dengan konektivitas berbasis rel, distribusi barang dan mobilitas masyarakat diharapkan menjadi lebih efisien.