Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Sambut Hari Raya Nyepi 2025, Warga Selorejo Genteng Banyuwangi Gotong Royong Buat Ogoh-Ogoh Buto

sambut-hari-raya-nyepi-2025,-warga-selorejo-genteng-banyuwangi-gotong-royong-buat-ogoh-ogoh-buto
Sambut Hari Raya Nyepi 2025, Warga Selorejo Genteng Banyuwangi Gotong Royong Buat Ogoh-Ogoh Buto

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Umat Hindu di Dusun Selorejo, Desa Kaligondo, Kecamatan Genteng, mulai menyambut Hari Raya Nyepi yang jatuh pada Kamis (19/3).

Suasana religius sekaligus penuh semangat gotong royong tampak di lingkungan Pura Sandya Dharma, tempat warga mulai menyiapkan ogoh-ogoh untuk diarak pada malam sebelum Nyepi.

Sejak Rabu (25/3), para pemuda bersama warga setempat sudah bergotong royong merakit ogoh-ogoh berwujud buto. Patung raksasa simbol sifat angkara murka itu akan diarak mengelilingi area pura sebagai bagian dari rangkaian ritual Tawur Kesanga, sehari sebelum Nyepi.

WhatsApp-Image-2026-02-20-at-163137-3232

Ogoh-Ogoh Buto, Simbol Pembersihan Diri Jelang Nyepi

Kepala Dusun Selorejo, Muklas Afendi, menjelaskan bahwa pada perayaan Nyepi 2025 ini kampungnya sepakat membuat ogoh-ogoh berwujud buto.

“Sudah mulai buat, setiap ogoh-ogoh itu berukuran tiga meter dan dua meter,” ujarnya.

Ukuran tersebut cukup besar dan membutuhkan tenaga serta kreativitas ekstra. Proses pembuatannya dilakukan secara bertahap, mulai dari pembuatan pikulan sebagai penopang, kemudian kaki dan rangka badan, hingga perakitan kepala.

“Saat ini sudah sekitar 70 persen. Tinggal pewarnaan dan pembuatan baju untuk dipasangkan ke ogoh-ogoh,” tambahnya.

Dalam tradisi umat Hindu, ogoh-ogoh melambangkan unsur negatif dalam diri manusia. Prosesi pengarakan menjadi simbol pembersihan alam semesta dan diri sebelum memasuki Hari Raya Nyepi, yang dijalani dengan Catur Brata Penyepian.

Peran Generasi Muda, Jaga Tradisi Tetap Lestari

Muklas mengungkapkan, para tetua kampung memberikan kepercayaan penuh kepada generasi muda untuk berkreasi dalam pembuatan ogoh-ogoh. Hal itu menjadi bagian dari proses regenerasi agar tradisi tetap terjaga.

“Sekarang kebanyakan yang buat anak-anak muda. Di pura setiap kali kegiatan semuanya masih muda,” ucapnya.

Menurut dia, pelibatan generasi muda bukan sekadar membantu tenaga, tetapi juga menjadi ruang belajar tentang nilai budaya, filosofi, dan makna spiritual di balik perayaan Nyepi.


Page 2

Semangat itu juga terlihat dari antusiasme para pemuda yang rela meluangkan waktu sepulang sekolah maupun bekerja demi menyelesaikan ogoh-ogoh tepat waktu.

Toleransi Lintas Agama Warnai Proses Pembuatan

Menariknya, proses pembuatan ogoh-ogoh di Selorejo juga memperlihatkan kuatnya toleransi antarumat beragama. Sejumlah pemuda dari kalangan Muslim dan agama lain ikut membantu dalam pengerjaan rangka maupun pengecatan.

“Kadang-kadang yang dari Muslim dan agama lain juga ikut membantu. Ini bentuk kerukunan warga,” terang Muklas.

Kebersamaan tersebut menjadi cerminan harmonisasi sosial di tengah keberagaman masyarakat Banyuwangi. Nilai gotong royong yang terjalin bukan hanya mempercepat proses pengerjaan, tetapi juga mempererat hubungan antarwarga.

Imbauan Agar Tidak Menyinggung Pihak Mana Pun

Muklas menegaskan, pihak dusun tetap memberikan imbauan kepada warga agar tidak membuat ogoh-ogoh dengan karakter yang berpotensi menyinggung kelompok tertentu.

“Kami kawal dan sosialisasikan agar proses kreativitas ini warga tidak sampai menyinggung siapa pun,” tegasnya.

Langkah tersebut diambil untuk memastikan bahwa perayaan Nyepi berlangsung khidmat, aman, dan tetap menjunjung tinggi nilai toleransi.

Nyepi, Momentum Refleksi dan Keharmonisan

Hari Raya Nyepi bukan sekadar perayaan, tetapi momentum refleksi diri melalui empat pantangan utama atau Catur Brata Penyepian: amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak bersenang-senang).

Bagi warga Dusun Selorejo, persiapan ogoh-ogoh bukan hanya agenda tahunan, melainkan bagian dari pelestarian budaya sekaligus sarana memperkuat kebersamaan.

Dengan semangat gotong royong dan toleransi yang terjaga, perayaan Nyepi 2025 di lingkungan Pura Sandya Dharma diharapkan berjalan lancar dan membawa kedamaian bagi seluruh masyarakat. (sas/sgt)


Page 3

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Umat Hindu di Dusun Selorejo, Desa Kaligondo, Kecamatan Genteng, mulai menyambut Hari Raya Nyepi yang jatuh pada Kamis (19/3).

Suasana religius sekaligus penuh semangat gotong royong tampak di lingkungan Pura Sandya Dharma, tempat warga mulai menyiapkan ogoh-ogoh untuk diarak pada malam sebelum Nyepi.

Sejak Rabu (25/3), para pemuda bersama warga setempat sudah bergotong royong merakit ogoh-ogoh berwujud buto. Patung raksasa simbol sifat angkara murka itu akan diarak mengelilingi area pura sebagai bagian dari rangkaian ritual Tawur Kesanga, sehari sebelum Nyepi.

WhatsApp-Image-2026-02-20-at-163137-3232

Ogoh-Ogoh Buto, Simbol Pembersihan Diri Jelang Nyepi

Kepala Dusun Selorejo, Muklas Afendi, menjelaskan bahwa pada perayaan Nyepi 2025 ini kampungnya sepakat membuat ogoh-ogoh berwujud buto.

“Sudah mulai buat, setiap ogoh-ogoh itu berukuran tiga meter dan dua meter,” ujarnya.

Ukuran tersebut cukup besar dan membutuhkan tenaga serta kreativitas ekstra. Proses pembuatannya dilakukan secara bertahap, mulai dari pembuatan pikulan sebagai penopang, kemudian kaki dan rangka badan, hingga perakitan kepala.

“Saat ini sudah sekitar 70 persen. Tinggal pewarnaan dan pembuatan baju untuk dipasangkan ke ogoh-ogoh,” tambahnya.

Dalam tradisi umat Hindu, ogoh-ogoh melambangkan unsur negatif dalam diri manusia. Prosesi pengarakan menjadi simbol pembersihan alam semesta dan diri sebelum memasuki Hari Raya Nyepi, yang dijalani dengan Catur Brata Penyepian.

Peran Generasi Muda, Jaga Tradisi Tetap Lestari

Muklas mengungkapkan, para tetua kampung memberikan kepercayaan penuh kepada generasi muda untuk berkreasi dalam pembuatan ogoh-ogoh. Hal itu menjadi bagian dari proses regenerasi agar tradisi tetap terjaga.

“Sekarang kebanyakan yang buat anak-anak muda. Di pura setiap kali kegiatan semuanya masih muda,” ucapnya.

Menurut dia, pelibatan generasi muda bukan sekadar membantu tenaga, tetapi juga menjadi ruang belajar tentang nilai budaya, filosofi, dan makna spiritual di balik perayaan Nyepi.