sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Suasana Ramadan di sekitar Masjid Besar Baiturrahman, Desa Gentengwetan, Kecamatan Genteng, selalu terasa istimewa.
Warga yang tinggal di sekitar masjid legendaris tersebut masih setia meneruskan tradisi menyiapkan takjil gratis bagi para jemaah yang berbuka puasa.
Tak tanggung-tanggung, setiap hari selama bulan suci, sebanyak 800 hingga 1.000 paket makanan disediakan secara cuma-cuma untuk para jemaah dan musafir.
Setiap sore, ratusan hingga ribuan orang memadati masjid besar tersebut untuk melaksanakan ibadah. Tidak sedikit yang datang dari luar Kecamatan Genteng, bahkan dari wilayah lain di Banyuwangi.
Persiapan Dimulai Usai Salat Duhur
Sekretaris Masjid Besar Baiturrahman Genteng, Hadori, mengatakan persiapan menyambut jemaah biasanya dimulai setelah salat duhur. Panitia dan warga bahu-membahu menata kursi serta meja di halaman masjid untuk memastikan pembagian takjil berjalan tertib.
“Ini gratis untuk semua jemaah, untuk buka puasa di sini,” ujar Hadori, Selasa (24/2).
Menurutnya, jemaah yang datang berasal dari berbagai latar belakang. Mulai dari tukang roti keliling, tenaga penjual (sales), pekerja harian, hingga mahasiswa dan anak kos yang merantau di Genteng.
“Satu per satu nanti kami kasih biar tidak rebutan, semua harus antre,” katanya.
Gotong Royong Warga dan Para Agniya
Hadori menjelaskan, seluruh nasi kotak yang dibagikan berasal dari sumbangan masyarakat sekitar masjid. Untuk mencukupi kebutuhan 800 sampai 1.000 paket per hari, warga yang tinggal di lingkungan masjid biasanya diminta mengirim tiga hingga lima kotak nasi setiap hari.
Namun dalam praktiknya, para agniya atau warga yang memiliki rezeki lebih kerap menyumbang dalam jumlah besar, bahkan hingga 50 kotak nasi dalam sehari.
“Untuk jadwalnya juga sudah diatur jauh-jauh hari, jadi warga tahu kapan harus mengirim,” terangnya.
Page 2
Sistem penjadwalan tersebut membuat distribusi takjil berjalan lancar tanpa kekurangan. Bahkan saat jumlah jemaah membludak, panitia tetap berupaya memastikan semua kebagian.
Jemaah dari Berbagai Daerah
Masjid Besar Baiturrahman Genteng memang menjadi salah satu pusat kegiatan ibadah Ramadan di wilayah selatan Banyuwangi. Setiap sore, halaman masjid dipenuhi jemaah yang datang lebih awal untuk mengikuti tadarus, kajian, hingga menunggu azan magrib berkumandang.
Tidak sedikit musafir yang sengaja singgah untuk berbuka puasa di masjid tersebut. Letaknya yang strategis di pusat Kecamatan Genteng membuatnya mudah dijangkau dari berbagai arah.
Tradisi takjil gratis ini menjadi magnet tersendiri, sekaligus mempererat tali silaturahmi antarwarga.
Tradisi Puluhan Tahun, Kian Meningkat Jelang Lebaran
Menurut Hadori, tradisi berbagi takjil di masjid besar ini telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu dan terus terjaga hingga sekarang.
Setiap tahunnya, jumlah kebutuhan nasi kotak cenderung meningkat, terutama saat memasuki sepuluh hari terakhir Ramadan menjelang Lebaran.
“Setiap tahun jumlahnya meningkat, terlebih saat mendekati Lebaran,” pungkas pria yang juga berprofesi sebagai advokat tersebut.
Tradisi ini menjadi bukti kuatnya budaya gotong royong masyarakat Genteng. Di tengah kesibukan dan dinamika zaman, semangat berbagi di bulan suci tetap terawat, memastikan siapa pun yang datang ke Masjid Besar Baiturrahman dapat berbuka puasa dengan layak dan penuh kebersamaan. (sas/sgt)
Page 3
sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Suasana Ramadan di sekitar Masjid Besar Baiturrahman, Desa Gentengwetan, Kecamatan Genteng, selalu terasa istimewa.
Warga yang tinggal di sekitar masjid legendaris tersebut masih setia meneruskan tradisi menyiapkan takjil gratis bagi para jemaah yang berbuka puasa.
Tak tanggung-tanggung, setiap hari selama bulan suci, sebanyak 800 hingga 1.000 paket makanan disediakan secara cuma-cuma untuk para jemaah dan musafir.
Setiap sore, ratusan hingga ribuan orang memadati masjid besar tersebut untuk melaksanakan ibadah. Tidak sedikit yang datang dari luar Kecamatan Genteng, bahkan dari wilayah lain di Banyuwangi.
Persiapan Dimulai Usai Salat Duhur
Sekretaris Masjid Besar Baiturrahman Genteng, Hadori, mengatakan persiapan menyambut jemaah biasanya dimulai setelah salat duhur. Panitia dan warga bahu-membahu menata kursi serta meja di halaman masjid untuk memastikan pembagian takjil berjalan tertib.
“Ini gratis untuk semua jemaah, untuk buka puasa di sini,” ujar Hadori, Selasa (24/2).
Menurutnya, jemaah yang datang berasal dari berbagai latar belakang. Mulai dari tukang roti keliling, tenaga penjual (sales), pekerja harian, hingga mahasiswa dan anak kos yang merantau di Genteng.
“Satu per satu nanti kami kasih biar tidak rebutan, semua harus antre,” katanya.
Gotong Royong Warga dan Para Agniya
Hadori menjelaskan, seluruh nasi kotak yang dibagikan berasal dari sumbangan masyarakat sekitar masjid. Untuk mencukupi kebutuhan 800 sampai 1.000 paket per hari, warga yang tinggal di lingkungan masjid biasanya diminta mengirim tiga hingga lima kotak nasi setiap hari.
Namun dalam praktiknya, para agniya atau warga yang memiliki rezeki lebih kerap menyumbang dalam jumlah besar, bahkan hingga 50 kotak nasi dalam sehari.
“Untuk jadwalnya juga sudah diatur jauh-jauh hari, jadi warga tahu kapan harus mengirim,” terangnya.







