Sapi Jadi-jadian Kenjo Nyingkal Sawah

0
1377
Loading...

”Peran pawang air di pertanian desa sangat penting. Dia harus bersikap adil dalam mengatur air yang mengalir ke sawah warga. Kalau tidak adil biasanya terjadi perselisihan,” kata Kepala Desa Kenjo, Gojali. Selain sebagai selamatan desa, ritual sapi-sapian  ini dilakukan juga sebagai bentuk penghormatan  warga kepada leluhur mereka.

Sebab, pada zaman  dahulu warga Desa Kenjo tidak banyak yang memiliki  sapi. Jadi untuk membajak sawah, warga pun bertindak layaknya sapi yang untuk menarik singkal di lahan pertanian. ”Mayoritas warga Desa Kenjo  memang petani sejak dulu, 80  persen lahan di sini adalah lahan pertanian. Ini juga untuk nguri-nguri  leluhur kita yang dulu membajak sawah dengan  bantuan manusia,” tandas Gojali.

Dalam tradisi sapi-sapian kemarin, ada beberapa pria yang didandani ala sapi. Sapi jadi-jadian  tersebut memikul bajak dan diarak keliling kampung. Di belakang sapi-sapian diikuti rombongan warga yang berperan sebagai, tukang semprot sawah, tukang tandur padi, pemasang  kincir, hingga penjual jamu gendong.

Nah, untuk menambah semarak, ditampilkan juga kesenian barong dan gandrung milik warga Desa Kenjo di barisan paling belakang dengan diiringi musik  kuntulan untuk keliling kampung. Camat Glagah, Setyo Puguh Widodo yang datang di acara sapi-sapian bersama rombongan  Disbudpar Banyuwangi mengatakan, tradisi  sapi-sapian ini bisa untuk mendongkrak   pariwisata di Desa Kenjo sendiri.

Selain tradisi sapi-sapian, potensi lain seperti  sistem pertanian yang masih tradisional juga   bisa dijadikan hal yang menarik bagi wisatawan  yang datang. ”Kami ingin yang jadi sapi-sapian tahun depan bisa lebih banyak lagi. Ini biar semakin semarak,” pungkasnya. (radar)

Lanjutkan Membaca : First | ← Previous | 1 |2 | 3 | Next → | Last