Hidupkan Budaya Yang Sudah Mati

0
584

GLAGAH – Berbagai macam ritual bersih desa dilaksanakan untuk memperingati datangnya tanggal 1 Suro kalender  Jawa. Di Desa Kenjo, Kecamatan Glagah,  ada tradisi unik untuk memperingati datangnya tanggal 1 Suro, yakni  menggelar tradisi sapi-sapian.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Tradisi sapi-sapian merupakan salah  satu rangkaian bersih desa setempat  yang digelar setiap 1 Suro, Rabu (14/10),  kemarin. Tradisi sapi-sapian itu sudah berlangsung tiga tahun terakhir setelah  sekian puluh tahun tidak digelar.

Tahun ini kegiatan itu lebih semarak  dan tambah ramai masyarakat yang  menyaksikan. Bupati Abdullah Azwar  Anas dan beberapa jajaran forum  pimpinan daerah (forpimda) dan Forum Pimpinan Kecamatan (Forpimka) Glagah hadir menyaksikan tradisi adat Desa Kenjo itu.

Tokoh adat Desa Kenjo, Busairi, mengatakan tradisi sapi-sapian lebih  menceritakan asal-usul desa setempat. Dia mengungkapkan, awal terbentuknya  Desa Kenjo dimulai sekitar tahun 1700- an. Dulu ada tiga orang yang berasal dari  Bugis, yakni Kamisa, Mujono, dan Dakir,  datang ke lereng Cawan.

Mereka tidak bertahan lama tinggal  di Cawan karena kesulitan mencari air.   Ketiganya lantas datang ke tempat  yang menjadi cikal bakal Desa Kenjo tersebut. Kamisa, Mujono, dan Dakir,  lantas mengolah sawah untuk bercocok  tanam.

Lanjutkan Membaca : First |1 | 2 | 3 | Next → | Last