Sempat Membubung, Harga Telur Mulai Turun

  • Bagikan
Foto: Radar Banyuwangi – Jawa Pos

BANYUWANGI – Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) yang disalurkan Pemkab Banyuwangi kepada masyarakat miskin terdampak COVID-19 berpengaruh positif terhadap harga-harga bahan kebutuhan pokok di pasaran. Setidaknya itu tergambar dari fluktuasi harga telur ayam ras di kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini.

Dilansir dari Radar Banyuwangi – Jawa Pos, informasi yang berhasil dikumpulkan, harga telur ayam ras sempat membubung tinggi beberapa hari terakhir.

Pada akhir Juni lalu, tepatnya Selasa (30/6/2020) harga telur eceran ‘hanya’ sebesar 22 ribu per kilogram (kg). Sedangkan satu peti telur (isi 15 kg) dijual seharga Rp 315 ribu atau setara Rp 21 ribu per kilogram (kg).

Pada perkembangan selanjutnya harga telur terus merangsek naik hingga pertengahan bulan ini. Harga eceran telur sempat menembus Rp 24 ribu per kg dan harga per peti sebesar Rp 345 ribu atau Rp 23 ribu per kg. Harga itu sempat bertahan beberapa hari hingga Rabu lalu (15/7/2020).

Namun kemarin (17/7/2020) harga telur ayam ras turun cukup signifikan. Secara eceran telur dijual seharga Rp 23.200 per kg, sedangkan jika konsumen membeli satu peti, maka harga per kg telur tersebut dipatok sebesar Rp 22.200.

Pemilik toko sembako di Pasar Pujasera, Davina mengatakan, ada beberapa faktor yang menyebabkan harga telur ayam ras turun. Salah satunya pasokan yang tetap terjaga sehingga tidak sampai terjadi kelangkaan telur.

Selain itu, imbuh Davina, penurunan harga telur ini juga diakibatkan daya beli masyarakat yang turun. Dia mengaku banyak pelanggan yang menyatakan enggan membeli telur lantaran tidak punya cukup uang.

“Banyak pelanggan yang bilang, daripada untuk beli telur, uangnya untuk beli kebutuhan yang lain dulu,” ujarnya.

Bukan itu saja, Davina menduga penurunan harga telur ayam ras juga terjadi akibat banyaknya warga yang menerima bantuan sembako dari pemerintah. Termasuk bantuan berupa paket berisi beras dan telur.

“Karena sudah punya telur, akhirnya mereka tidak membeli telur di warung atau toko,” duganya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan (Diskop UMP) Banyuwangi RR. Nanin Octaviantie mengatakan, pemkab selalu memonitor harga-harga kebutuhan pokok di Banyuwangi.

Selain memonitor, pemkab juga berusaha mengendalikan harga kebutuhan pokok dengan cara bekerja sama dengan beberapa pihak, misalnya dengan daerah lain dan dengan produsen.

“Dengan kerja sama tersebut, ketersediaan barang terjaga sehingga tidak terjadi kelangkaan yang ujung-ujungnya membuat harga barang melambung,” ujarnya.

Khusus untuk telur, kata Nanin, beberapa hari lalu sempat terjadi kendala produksi yang dialami produsen lokal Banyuwangi. Akibatnya, sabagian kecil pasokan telur harus dibeli dari luar daerah.

“Harga sempat naik cukup signifikan karena permintaan meningkat dan pasokan lokal tidak cukup,” ujarnya.

Namun saat ini, kata Nanin, produksi telur di Banyuwangi sudah kembali lancar. Salah satunya dibuktikan dari hasil pemantauan yang dilakukan Bupati Abdullah Azwar Anas di salah satu produsen telur di Desa Watukebo, Kecamatan Blimbingsari beberapa hari lalu.

“Ternyata produksinya lancar dan mencapai 6 ton per hari,” pungkasnya.

  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: