Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Skandal Sunyi di Balik Pupuk Subsidi: Data Berubah, Jatah Menyusut, Petani Tercekik

skandal-sunyi-di-balik-pupuk-subsidi:-data-berubah,-jatah-menyusut,-petani-tercekik
Skandal Sunyi di Balik Pupuk Subsidi: Data Berubah, Jatah Menyusut, Petani Tercekik

Banyuwangi, Jurnalnews.com – Kesulitan petani mendapatkan pupuk subsidi kian menjadi momok yang tak berkesudahan. Di tengah musim penghujan dan masa tanam yang terus bergulir, petani dipaksa berjibaku dengan realita pahit: pupuk tak sebanding dengan kebutuhan, sementara lahan harus tetap ditanami demi menyambung hidup.

Kondisi ini diungkapkan secara gamblang oleh Salehanto (51), Ketua Kelompok Tani Garuda Sakti, Dusun Krajan 2, Desa Alasbuluh, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi. Ia menyebut, persoalan pupuk kini tak sekadar soal keterlambatan, namun sudah mengarah pada kejanggalan data yang berpotensi memicu konflik internal kelompok.

“Memang pupuk itu diterima semua, tapi jumlahnya tidak sesuai. Bahkan jatah saya sendiri ikut berkurang,” ujar Salehanto kepada Jurnalnews, Sabtu (10/1/2026), dengan nada kecewa di kediamannya.

Yang lebih mencengangkan, jumlah anggota kelompok tani yang sebelumnya tercatat sebanyak 25 orang, kini tiba-tiba menyusut drastis menjadi hanya 14 orang dalam data RDKK pupuk. Padahal, di lapangan, para petani tersebut masih aktif menggarap lahan.

“Saya benar-benar bingung. Anggota saya kok tiba-tiba berkurang? Saat mereka bertanya kenapa namanya tidak ada di daftar RDKK, saya juga tidak bisa menjawab,” ungkap Salehanto penuh tanda tanya.

Situasi ini membuatnya berada di posisi sulit. Di satu sisi, ia harus mempertanggungjawabkan distribusi pupuk kepada anggotanya. Di sisi lain, ia sendiri tak memahami perubahan data yang terjadi secara misterius. Demi menjaga kepercayaan dan menghindari prasangka buruk, Salehanto memilih langkah transparan.

“Saya minta anggota ambil sendiri pupuk ke kios. Biar jelas dan tidak ada kecurigaan,” tegasnya.

Namun realita di lapangan tetap pahit. Ketika pupuk subsidi tak mencukupi, petani terpaksa mencari sendiri entah ke mana, bahkan membeli pupuk non-subsidi dengan harga jauh lebih mahal.

“Kalau pupuk kurang, ya mereka cari sendiri. Kalau tidak dapat, terpaksa beli pupuk non-subsidi,” pungkasnya. (Venus Hadi)