ngopibareng.id
BPJS Kesehatan terus memperkuat upaya peningkatan derajat kesehatan peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui Skrining Riwayat Kesehatan (SRK). Kepala BPJS Kesehatan Cabang Banyuwangi, Titus Sri Hardianto, mengatakan, skrining menjadi langkah promotif dan preventif untuk membantu peserta mengenali risiko gangguan kesehatan sejak dini, sehingga pencegahan dapat dilakukan lebih awal.
“Skrining riwayat kesehatan dapat dilakukan satu kali dalam setahun. Peserta JKN cukup menjawab pertanyaan singkat yang dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 5-10 menit, sehingga tidak mengganggu aktivitas sehari-hari peserta,” jelas Titus, Kamis, 15 Januari 2026.
Pertanyaan dalam skrining, menurutnya, mencakup riwayat kesehatan pribadi dan keluarga, serta kondisi kesehatan terkini. Selanjutnya, hasil skrining akan muncul dan memberikan gambaran awal untuk penanganan kesehatan lebih lanjut.
“Peserta dapat mengakses skrining riwayat kesehatan melalui Aplikasi Mobile JKN, layanan WhatsApp PANDAWA, dan website resmi BPJS Kesehatan. Selain itu, bagi peserta JKN yang tidak memiliki ponsel pintar atau terkendala akses online, skrining juga dapat dilakukan melalui FKTP,” tambahnya.
Titus juga mengimbau peserta JKN untuk tidak menunda pelaksanaan skrining meskipun merasa sehat. Menurutnya, banyak penyakit kronis yang tidak menunjukkan gejala pada tahap awal, sehingga deteksi dini menjadi sangat penting.
“Selain peran aktif peserta, petugas di fasilitas kesehatan juga memiliki peran penting dalam mengingatkan peserta untuk melakukan skrining, dapat himbauan secara online maupun saat peserta berkunjung. Hal ini menjadi bagian dari upaya bersama dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan,” jelas Titus.
Baca Juga
Pada kesempatan yang berbeda, salah satu peserta JKN, Anisatul Hamidah, 29 tahun, mengatakan, program skrining riwayat kesehatan membantu dirinya mengetahui gambaran awal kondisi kesehatannya. Ia pertama kali melakukan skrining melalui Aplikasi Mobile JKN beberapa hari yang lalu setelah mendapatkan informasi dari petugas Puskesmas.
“Prosesnya tidak rumit dan cepat, hasilnya pun langsung diketahui. Dari situ saya baaru tahu kalau saya berisiko terkena darah tinggi. Petugas Puskesmas mengarahkan saya untuk menjalani pemeriksaan lanjutan sekaligus mendapatkan edukasi dari dokter,” ungkap perempuan yang akrab disapa Nisa.
Menurut Nisa, program JKN mendorong dirinya untuk lebih memperhatikan kondisi kesehatan. Mulai dari memahami faktor risiko penyakit hingga lebih disiplin dalam menerapkan pola hidup sehat sehari-hari.
“Saya juga sangat mengapresiasi kemudahan layanan digital yang diberikan oleh BPJS Kesehatan. Kini tidak perlu mengantre lama lagi di fasilitas kesehatan karena sudah ada fitur antrean online. Bahkan, saat berobat cukup menunjukkan KTP saja tanpa perlu membawa banyak dokumen lagi,” pungkasnya.








