Suka-duka Petugas Perempuan di Lapas Banyuwangi

0
2046

sukaSudah Dianggap sebagai Ibu Para Napi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Banyuwangi memiliki hampir seratus petugas. Dari sekian banyak petugas lapas, tiga di antaranya sipir perempuan. Seperti apa kerja mereka?

PAGI itu suasana Lapas Banyuwangi terlihat biasa saja. Tak ada yang istimewa di kompleks bangunan bertembok tebal di Jalan Letkol Istiqlah 59, Banyuwangi, itu. Para pembesuk napi masih belum terlalu ramai. Areal parkir juga masih belum begitu padat. Maklum, pagi itu memang belum waktunya jam kunjungan para keluarga napi. Namun demikian, kegiatan lapas sudahdimulai sejak pagi. Geliat kegiatan para warga binaan sudah terasa saat memasuki dua lapis gerbang besar untuk pengunjung. Petugas tampak siaga sejak di gerbang pertama.

Setelah melakukan pemeriksaan standar, identitas tamu didata dan mendapat kartu pengunjung. Begitu dapat izin, barulah pengunjung boleh memasuki gerbang lapis kedua. Kebetulan, pagi itu ada acara yang cukup sakral di Lapas Banyuwangi. Selepas pintu ke dua, mulai terdengar lantunan ayat Suci Al quran yang berasal dari arah musala khusus napi perempuan. Menurut para petugas jaga, kegiatan di musala itu adalah program pembinaan napi perempuan.

Saat itu sedang berlangsung sira man rohani yang dilakukan petugas atau penceramah dari kantor Kementerian Agama (Kemenag) Banyuwangi. Memang, para napi perempuan dan taha nan perempuan titipan kejaksaan dan pol res dikumpulkan di musala sektor ti mur  kompleks lapas tersebut. Mereka tampak serius menyimak ceramah agama dan siraman rohani dari penceramah perempuan dari Kemenag tersebut.

Ketika semua fokus menyimak pengajian, ha dir sipir perempuan ikut berbaur ber sama mereka. Meski tampilannya tampak santai, tapi bahasa tubuh sipir perempuan tersebut tetap menunjukkan sikap waspada. Duduknya tetap tegak meski membaur dengan napi. Wajah dan tatapan matanya tajam dan lurus ke depan. Berbeda dengan sikap para napi perempuan yang hampir se mua menunduk. Ada juga yang menutupi se bagian wajahnya dengan kerudung.

Entahlah, apakah sikap mereka yang seperti itu lantaran malu atau justru mereka menutupi wajah untuk menahan tangis karena penyesalan mendalam atas dosa yang telah diperbuat. Nah, terlepas dari mulusnya acara tersebut, peran petugas alias sipir perempuan tak bisa diremehkan. Dengan sentuhan dan per lakuan khusus, petugas perempuan itu bisa mempertahankan situasi di dalam sel khusus perempuan itu tetap kondusif. Salah satu sipir perempuan, Dyah Mulyani, 48, mengakui, membina para napi bukanlah hal mudah.

‘’Kita harus bisa memahami mereka,” ujar petugas yang tinggal di Jalan Kopral Talab, Banyuwangi, itu. Sama seperti sipir lelaki, Dyah juga menge nakan seragam petugas lapas. Kali ini dia mengenakan setelan lengkap warnabiru. Nah, selama acara siraman rohani berlangsung, Dyah membaur bersama para napi perempuan. Meski berisiko tinggi, Dyah tetap pede duduk bersama para warga binaan. Rupanya Dyah punya jurus jitu untuk mengendalikan suasana saat berbaur dengan para napi perempuan.

Maklum, Dyah sudah banyak makan asam garam menjadi petugas lapas. Dia sudah menekuni pekerjaan sebagai petugas lapas selama 26 tahun. Dyah mengakui, hubungan dirinya dengan para napi perempuan di lapas tersebut sudah layaknya saudara. Para warga bi naan itu menganggap Dyah sebagai sosok ibu. ‘’Saya anggap mereka yang ada di sini sebagai saudara,’’ tutur Dyah. Rupanya, pendekatan kekeluargaan yang dilakukan Dyah cukup manjur.

Banyak warga binaan yang sudah lama kembali ke masyarakat ternyata masih menjalin tali silaturahmi dengannya. ‘’Saat napi keluar dari tahanan, ternyata ada juga yang tetap menjalin komunikasi dengan kami,’’ jelas Dyah. Namun, pendekatan kekeluargaan itu bukan berarti selalu mulus tanpa risiko. Ada beberapa hal yang terasa pahit ketika dia menjalankan tugas sebagai petugas menjaga warga binaan. ‘’Saya harus tega terhadap napi ketika menutup pintu sel tahanan,” tuturnya. (radar)