Tarif Taksi Naik Rp 1.00/Km

0
1086

tariftaxiBANYUWANGI – Beroperasinya taksi Bosowa di Banyuwangi langsung disikapi Pemkab Banyuwangi. Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) bertemu pengurus Organisasi Angkutan Darat (Organda) dan pengelola taksi Osing Banyuwangi. Penemuan di rumah makan di Jalan A. Yani, Banyuwangi, tersebut bertujuan menyamakan persepsi agar tidak muncul persoalan di kemudian hari.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Kepala Dishubkominfo Suprayogi hadir bersama Ketua Organda Banyuwangi Fafan Luika, koordinator taksi Using, dan pengelola taksi Bosowa. Hasilnya, semua pihak menyepakati taxi argo taksi. Ketua Organda Fafan Luika mengatakan, pihaknya menyambut baik hadirnya taksi Bosowa di Banyuwangi. Kedatangan armada sedan yang masih mulus tersebut dinilai membantu pesatnya kunjungan wisatawan di kabupaten ujung timur Pulau Jawa. Terutama, bagi pengguna jasa transportasi angkutan darat yang memadai aman dan nyaman.

Namun, Organda juga meminta agar taksi Bosowa hendaknya sudah bernomor polisi (nopol) Banyuwangi. Dengan begitu, pajak kendaraan masuk di Kabupaten Banyuwangi. Tidak hanya itu, tenaga sopir taksi hendaknya juga berasal dari Banyuwangi. “Kehadiran taksi Bosowa itu juga akan berdampak terbukanya lapangan pekerjaan di Banyuwangi,” ujar Fafan. Mengenai keberadaan angkutan taksi Osing yang lebih dulu beroperasi, Organda sudah memiliki solusi, yakni akan membedakan spesifikasinya.

Jika taksi Osing menggunakan mobil sedan, kini secara bertahap akan menggunakan armada mobil multi purpose vehicle (MPV) mini. Mobil yang digunakan adalah baru dengan mesin harus berumur maksimal sepuluh tahun, tidak boleh lebih. “Jadi, mesin mobil dan cover-nya harus bagus agar penumpang bisa nyaman dan aman,” tegasnya. Ke depan, Organda juga akan memberikan pelatihan bagi para sopir tentang teknis melayani penumpang yang baik, dan para sopir juga akan dilatih berbahasa asing. Sehingga, ke depan, para sopir sudah terlatih jika ada penumpang wisman.

“Ini langkah kami menyambut ekonomi ASEAN 2015, dan kesiapan Organda menyambut terminal pariwisata di Banyuwangi,” terangnya. Bagaimana jika di temukan sopir tidak ramah, ugal-ugalan, dan menerapkan tarif sangat tinggi? Fafan menegaskan, Organda siap memberikan sanksi kepada armada yang bersangkutan. Jika masih terulang. Organda akan merekomendasikan Dishubkominfo mencabut izin trayek armada tersebut. Dalam pertemuan tersebut juga diputuskan, angkutan taksi menggunakan sistem argometer.

Buka pintu argo berjalan Rp 7.500, sedangkan tarif jalan Rp 5.000 per kilometer. Menangapi hal tersebut, koordinator taksi Bosowa Banyuwangi, Hariyadi, mengaku sangat senang dan tidak keberatan dengan kesepakatan Organda Banyuwangi itu. Apalagi, saat ini seluruh armada Bosowa sudah bernomor polisi Banyuwangi dan membayar pajak di Banyuwangi. Mengenai tenaga sopir, pihak Bosowa telah membuka lowongan sopir asli Banyuwangi. “Hanya saja, terkait sopir, kita ada ketentuan dan kriteria, tidak asal sekadar bisa mengemudi.

Tetapi, sopir juga harus bisa memberikan pelayanan dan memiliki attitude kepada pengguna jasa angkutan,” jelasnya. Hariyadi menambahkan, sampai saat ini taksi Bosowa sudah menyiapkan 25 unit sedan. Namun, di tahap awal, hanya akan dioperasikan sepuluh unit armada yang akan melayani seluruh wilayah di Banyuwangi. home base taksi Bosowa berada di Jalan Gatot Subroto, Kelurahan Bulusan, Kecamatan Kalipuro.

Dalam melayani pengguna jasa angkutan transportasi darat, armada yang di gunakan merupakan keluaran terbaru dan menggunakan sistem argometer mengenai besaran harga argonya akan di sesuaikan kesepakatan bersama Organda. “Kita siap bersinergi dengan taksi lain dalam melayani pengguna jasa layanan transportasi,” ujarnya. Sementara itu, Kepala Dishubkominfo Suprayogi menyambut baik kehadiran taksi Bosowa di Banyuwangi.

Dengan pertemuan tersebut, taksi Bosowa bisa bersinergi dan saling melengkapi dengan taksi lain di Banyuwangi. Dia menegaskan, ke depan, para sopir dituntut harus bim menjadi guide pariwisata di Banyuwangi. Sehingga sopir memiliki peranan penting bagi industri pariwisata di Bumi Blambangan ini. “Jadi sopir tari minimal harus tahu destinasi pariwisata di Banyuwangi,” pungkasnya.(radar)

Loading...

Kata kunci yang digunakan :