Tiap Hari Jalan Kaki Tempuh Jarak 5 Km

0
212
Pulang dari sekolah, nanik dan enam temannya, harus berjalan kaki sejauh 5 Km menuju rumahnya.

TUNTUTLAH ilmu hingga ke Negeri China. Peribahasa tersebut sangat melekat dengan penjuangan sisea-siswi SDN 1 Bulusari. Semangat sang murid mencari ilmu membuat para guru terkejut dan terharu.

Bayangkan, setiap hari mereka harus berjalan kaki dengan menempuh jarak 5 Km. Tujuh pelajar sekolah dasar tersebut seolah tak menghiraukan jarak yang harus di tempuh. Seperti pengakuan Nina, salah satu siswa yang rumahnya jauh dari SDN 1 Bulusari.

Dia harus menempuh jarak 5 Km dari rumahnya ke sekolah. Enam temannya juga sama, tetapi ada salah satu siswa membawa sepeda motor. Padahal, anak seusia tersebut belum diperbolehkan membawa kendaraan roda dua. Ironisnya, jalan yang harus dilalui oleh para siswa pejalan kaki tersebut hancur.

Jalannya bebatuan yang sangat sulit dilalui oleh kendaraan roda dua. Apalagi saat cuaca buruk yang melanda di Desa Bulusari, Kecamatan Kalipuro, jalan tidak bisa dilalui oleh kendaraan apa pun.

Kendaraan bisa akan terpeleset karena tanah yang dilalui berupa tanah berlumpur. Tetapi, siswa yang membawa kendaraan itu pun nekat berangkat ke sekolah. Karena untuk menuntut ilmu yang mereka inginkan.

“Saya nekat, karena saya tidak mau ketinggalan pelajaran di sekolahan, lagian saya diberikan kepercayaan oleh keluarga untuk membawa kendaraan sendiri untuk sekolah,” ujar Lucky, siswa pengendara sepeda motor.

Beda dengan dan enam teman lainnya. Dia tak peduli degan kondisi jalan yang becek dan bebatuan tersebut. Mereka tetap akan pergi ke sekolah untuk menuntut ilmu. Mereka sangat bersemangat untuk menuntut ilmu.

“Banyaknya teman jalan kaki membuat kami merasa tak menghiraukan rasa letih,” kata Nanik. Bukan hanya Nanik dan enam temannya berjalan kak. Orang tua yang mengantarkan anaknya juga menempuh jarak 5 Krn dengan jalan kaki.

Mereka mengantarkan anaknya untuk menuntut ilmu. Karena rumahnya yang dekat dengan perkebunan Kalibendo, dia memilih sekolah di SDN 1 Bulusari daripada sekolah dasar lainnya.

Nanik menuturkan, jarak yang jauh bukan jadi halangan buat menuntut ilmu. Orang tua menyuruh sekolah membuat rasa jarak yang jauh tersebut tak dihiraukan. “Saya ingin pintar, jadi tak peduli harus menempuh jarak yang jauh,” kata Nanik.

Sekolahan paling dekat dari daerah pelosok desa dekat Perkebunan Kalibendo sebelah utara hanya SDN 1 Bulusari. Bukan hanya anak kelas enam saja yang jalan menempuh jarak tersebut. Anak kelas satu juga terlihat berjalan kaki untuk menuntut ilmu.

“Mulai dari kelas satu hingga kelas enam pasti ada salah satu anak yang rumahnya dekat perkebunan Kalibendo,” ujar Nanik. Pernah suatu ketika siswa-siswi tersebut terlambat ke sekolah, karena jaraknya yang jauh.

Guru akhirnya memberikan dispensasi kepada para murid. Jam masuk sekolah pukul 06.30, membuat para siswa yang rumahnya jauh harus berangkat lebih pagi. “Pukul 05.00, saya dan keenam teman saya sudah mulai berangkat,” tegas Nanik.

Pihak kepala sekolah memberikan dispensasi kepada para siswa yang rumahnya berjarak 5 Km tersebut. Dispensasi bahkan melebihi sekolah manapun. karena Kepala Sekolah (Kasek) tak pernah menutup pintu gerbang.

“Kami menghargai perjuangan para siswa-siswi yang berjarak jauh, tak ada aturan yang sangat ketat kepada para siswa tersebut,” ujar Muhtar, Kasek SDN 1 Bulusari. Sekolah dasar membebaskan para siswa-siswi yang jauh untuk membawa kendaraan motor. Kendaraan yang dibawa boleh dibawa masuk ke sekolah.

“Untuk lebih aman, mereka memarkirkan kendaraannya di dalam sekolah,” kata Muhtar. Tetapi, pihak sekolah tak memperbolehkan saat jam istirahat kendaraan tersebut dihidupkan bahkan dibawa keluar. Sebab, sekolah sudah memberikan dispensasi yang cukup banyak kepada para siswa.

“Kami harap anak-anak selalu hati-hati dalam mengendarai kendaraan yang dibawanya. Akses jalan yang jauh bahkan rusak menyulitkan anak-anak,” tandas Muhtar. (radar)

Loading...