sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Kabar gembira datang bagi masyarakat Bali yang telah lama menantikan kelanjutan megaproyek Jalan Tol Gilimanuk–Mengwi.
Setelah bertahun-tahun berada dalam ketidakpastian, proyek strategis nasional (PSN) tersebut kini mulai menunjukkan titik terang.
Dilansir dari Radar Bali, Gubernur Bali Wayan Koster memastikan bahwa proses administrasi krusial menuju pelaksanaan tender akan segera dimulai dalam waktu dekat.
“Tahun ini proses tender di Kementerian Pekerjaan Umum,” tegas Koster saat memberikan keterangan di sela-sela kegiatan ground breaking proyek Shortcut 9–10 ruas Singaraja–Mengwitani di Kabupaten Buleleng.
Pernyataan tersebut menjadi angin segar bagi masyarakat, khususnya warga di wilayah Bali Barat hingga Bali Tengah, yang selama ini menunggu kepastian jalur bebas hambatan yang akan menghubungkan ujung barat Pulau Dewata dengan kawasan selatan dan tengah Bali.
Skema Baru Agar Menarik Investor
Seiring dengan komitmen tersebut, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah menetapkan strategi baru dalam pelaksanaan proyek Tol Gilimanuk–Mengwi.
Pemerintah menerapkan skema yang lebih fleksibel dengan membagi proyek menjadi beberapa segmen agar lebih menarik bagi investor.
Fokus utama lelang diarahkan pada Segmen I Pekutatan–Soka–Mengwi sepanjang 42,1 kilometer.
Ruas ini diproyeksikan memiliki volume lalu lintas tinggi dan dinilai paling layak secara ekonomi. Nilai investasi awal untuk segmen prioritas ini mencapai Rp 11,04 triliun.
Ruas tersebut ditargetkan menjadi tulang punggung baru konektivitas sekaligus pendorong pertumbuhan ekonomi wilayah Bali Barat dan Bali Tengah.
Dukungan APBN untuk Ruas Barat
Sementara itu, untuk ruas Gilimanuk–Pekutatan, yang secara komersial dinilai kurang menarik namun sangat vital bagi konektivitas nasional, pemerintah pusat berencana mengambil alih pembiayaan konstruksi melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Strategi ini diharapkan dapat menjaga kesinambungan proyek dengan penerapan skema Design–Build–Finance–Operate–Maintain–Transfer (DBFOMT) dengan masa konsesi hingga 50 tahun.
Dengan skema tersebut, beban investasi dapat dibagi secara proporsional antara pemerintah dan badan usaha.
Kejar Tenggat Penetapan Lokasi
Pemerintah saat ini juga berpacu dengan waktu. Pasalnya, Penetapan Lokasi (Penlok) proyek tol ini di 64 desa di Kabupaten Tabanan dan 33 desa di Kabupaten Jembrana akan berakhir pada 7 Maret 2026.
Page 2
Jika pembaruan Final Business Case (FBC) dan desain dasar tidak segera rampung sebelum tenggat tersebut, seluruh proses administratif—mulai dari Amdal, sosialisasi, hingga pembebasan lahan—berpotensi harus diulang dari awal.
Kepastian tender tahun ini dinilai menjadi kunci utama untuk mengakhiri keresahan masyarakat yang selama ini merasa aset lahannya seolah “terkunci” akibat bayang-bayang proyek tol.
Terintegrasi dengan Kawasan Ekonomi Baru
Tol Gilimanuk–Mengwi yang juga dikenal dengan nama Tol Jagat Kerthi tidak hanya dirancang sebagai jalur transportasi, tetapi juga akan terintegrasi dengan sejumlah kawasan strategis baru di Bali Barat.
Di antaranya adalah KBS Park (Taman Kerthi Bali Semesta) di Pekutatan yang dikembangkan melalui kolaborasi dengan Paramount Pictures dan diproyeksikan menjadi salah satu taman hiburan terbesar di Asia Tenggara.
Selain itu, tol ini akan mendukung konektivitas menuju Pelabuhan Perikanan Nusantara Pengambengan, yang menjadi simpul penting distribusi logistik hasil laut.
Target Operasional Bertahap 2029
Berdasarkan linimasa terbaru pemerintah, proyek Tol Gilimanuk–Mengwi ditargetkan berjalan dengan tahapan sebagai berikut:
-
Akhir 2026: Pelaksanaan lelang atau tender proyek
-
2027: Penandatanganan kontrak dengan investor pemenang
-
2028: Financial close dan dimulainya konstruksi fisik
-
2029: Operasional bertahap segmen awal
-
2033: Penyelesaian penuh seluruh segmen tol
Pengoperasian tahap awal pada 2029 diharapkan menjadi pembuktian bahwa proyek ambisius ini mampu menjawab persoalan kemacetan kronis di jalur barat Bali, sekaligus memberikan kepastian hukum dan ekonomi bagi ribuan warga yang terdampak proyek.
Dengan kepastian tender tahun ini, harapan baru pun menguat bahwa Tol Gilimanuk–Mengwi benar-benar akan menjadi penggerak pemerataan pembangunan dan konektivitas Pulau Dewata. (*)
Page 3
sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Kabar gembira datang bagi masyarakat Bali yang telah lama menantikan kelanjutan megaproyek Jalan Tol Gilimanuk–Mengwi.
Setelah bertahun-tahun berada dalam ketidakpastian, proyek strategis nasional (PSN) tersebut kini mulai menunjukkan titik terang.
Dilansir dari Radar Bali, Gubernur Bali Wayan Koster memastikan bahwa proses administrasi krusial menuju pelaksanaan tender akan segera dimulai dalam waktu dekat.
“Tahun ini proses tender di Kementerian Pekerjaan Umum,” tegas Koster saat memberikan keterangan di sela-sela kegiatan ground breaking proyek Shortcut 9–10 ruas Singaraja–Mengwitani di Kabupaten Buleleng.
Pernyataan tersebut menjadi angin segar bagi masyarakat, khususnya warga di wilayah Bali Barat hingga Bali Tengah, yang selama ini menunggu kepastian jalur bebas hambatan yang akan menghubungkan ujung barat Pulau Dewata dengan kawasan selatan dan tengah Bali.
Skema Baru Agar Menarik Investor
Seiring dengan komitmen tersebut, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah menetapkan strategi baru dalam pelaksanaan proyek Tol Gilimanuk–Mengwi.
Pemerintah menerapkan skema yang lebih fleksibel dengan membagi proyek menjadi beberapa segmen agar lebih menarik bagi investor.
Fokus utama lelang diarahkan pada Segmen I Pekutatan–Soka–Mengwi sepanjang 42,1 kilometer.
Ruas ini diproyeksikan memiliki volume lalu lintas tinggi dan dinilai paling layak secara ekonomi. Nilai investasi awal untuk segmen prioritas ini mencapai Rp 11,04 triliun.
Ruas tersebut ditargetkan menjadi tulang punggung baru konektivitas sekaligus pendorong pertumbuhan ekonomi wilayah Bali Barat dan Bali Tengah.
Dukungan APBN untuk Ruas Barat
Sementara itu, untuk ruas Gilimanuk–Pekutatan, yang secara komersial dinilai kurang menarik namun sangat vital bagi konektivitas nasional, pemerintah pusat berencana mengambil alih pembiayaan konstruksi melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Strategi ini diharapkan dapat menjaga kesinambungan proyek dengan penerapan skema Design–Build–Finance–Operate–Maintain–Transfer (DBFOMT) dengan masa konsesi hingga 50 tahun.
Dengan skema tersebut, beban investasi dapat dibagi secara proporsional antara pemerintah dan badan usaha.
Kejar Tenggat Penetapan Lokasi
Pemerintah saat ini juga berpacu dengan waktu. Pasalnya, Penetapan Lokasi (Penlok) proyek tol ini di 64 desa di Kabupaten Tabanan dan 33 desa di Kabupaten Jembrana akan berakhir pada 7 Maret 2026.







