Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Tol Indonesia vs Swiss: Sama-sama Berbayar, Ini 7 Perbedaan Mencolok Jalan Tol Dua Negara

tol-indonesia-vs-swiss:-sama-sama-berbayar,-ini-7-perbedaan-mencolok-jalan-tol-dua-negara
Tol Indonesia vs Swiss: Sama-sama Berbayar, Ini 7 Perbedaan Mencolok Jalan Tol Dua Negara

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Negara pegunungan di jantung Eropa, Swiss, ternyata juga memiliki jalan tol berbayar seperti Indonesia.

Namun, sistem pengelolaan, kualitas infrastruktur, hingga pengalaman berkendara di jalan tol Swiss sangat berbeda dibandingkan jalan tol di Tanah Air.

Perbedaan tersebut kian menarik dicermati di tengah pesatnya pembangunan jalan tol di Indonesia, mulai dari ruas Trans Jawa hingga proyek-proyek baru yang akan segera beroperasi, salah satunya Tol Probowangi yang menghubungkan Probolinggo–Banyuwangi.

Berikut tujuh perbedaan utama jalan tol di Indonesia dan Swiss, dirangkum dari berbagai sumber dan pengalaman pengendara, sebagaimana dilansir radarsitubondo.id.

Di Indonesia, jalan tol masih berada dalam fase pengembangan dan peningkatan kualitas.

Sejumlah ruas tol memang sudah modern dan nyaman, namun di beberapa titik masih ditemui aspal bergelombang, genangan air, hingga penerangan yang belum optimal.

Selain itu, pemeliharaan di ruas padat lalu lintas kerap menjadi tantangan tersendiri.

Sementara itu, jalan tol di Swiss dikenal memiliki kualitas infrastruktur kelas dunia.

Aspal sangat halus dan terawat, sistem drainase berfungsi optimal, rambu lalu lintas jelas, serta pencahayaan memadai. Kenyamanan dan keselamatan pengendara menjadi prioritas utama.

Indonesia menerapkan sistem pembayaran tol berbasis jarak dengan kartu elektronik (e-Toll).

Meski sistem non-tunai semakin merata, antrean di gerbang tol masih sering terjadi, terutama pada jam sibuk dan musim libur panjang.

Berbeda dengan Swiss yang menggunakan sistem vignette, yakni stiker tol tahunan yang ditempel di kaca depan kendaraan.

Tidak ada gerbang tol di jalan tol utama. Pengendara cukup membeli vignette satu kali untuk penggunaan selama satu tahun, sehingga arus lalu lintas tetap lancar tanpa harus berhenti.

Tarif jalan tol di Indonesia bervariasi, tergantung jarak tempuh dan jenis kendaraan. Beberapa ruas tol memiliki tarif yang dinilai cukup tinggi, meski pemerintah terus berupaya menjaga keterjangkauan bagi masyarakat.


Page 2

Di Swiss, biaya tol kendaraan pribadi tergolong mahal karena berbasis tahunan. Namun sistem ini dinilai adil dan praktis karena pengendara bebas menggunakan seluruh jaringan tol tanpa perhitungan jarak.

Jalan tol Indonesia kini semakin dilengkapi rest area, SPBU, tempat ibadah, dan pusat kuliner. Namun, pada ruas tol baru atau di daerah tertentu, fasilitas masih terbatas dan jaraknya cukup jauh.

Sebaliknya, fasilitas di jalan tol Swiss sangat lengkap dan tertata. Rest area tersedia setiap beberapa kilometer, dilengkapi SPBU, toilet bersih, area istirahat luas, hingga fasilitas ramah difabel. Kebersihan dan keamanan selalu terjaga.

  1. Pemeliharaan dan Keamanan

Pemeliharaan jalan tol di Indonesia menghadapi tantangan besar, terutama pada ruas dengan volume kendaraan tinggi.

Kecelakaan akibat faktor jalan dan kemacetan masih kerap terjadi, meski upaya peningkatan terus dilakukan.

Di Swiss, pemeliharaan dilakukan secara rutin dan terjadwal ketat. Kamera pengawas, sistem informasi lalu lintas, serta petugas siaga memastikan kondisi jalan selalu prima dan aman bagi pengguna.

  1. Tingkat Kepadatan Lalu Lintas

Kemacetan di jalan tol Indonesia kerap terjadi, terutama saat libur panjang dan jam sibuk. Pertumbuhan kendaraan yang cepat belum sepenuhnya diimbangi dengan perluasan infrastruktur.

Sebaliknya, meski digunakan intensif, jalan tol Swiss relatif jarang macet. Pengaturan lalu lintas yang efisien serta budaya berkendara yang tertib membuat perjalanan lebih lancar dan nyaman.

Pemandangan di sepanjang jalan tol Indonesia sangat beragam, mulai dari kawasan perkotaan padat hingga hamparan sawah, perbukitan, dan pesisir pantai yang memanjakan mata.

Namun di Swiss, jalan tol sering menawarkan panorama spektakuler khas Pegunungan Alpen.

Jalur tol dirancang menyatu dengan alam, memperhatikan estetika serta keberlanjutan lingkungan, sehingga perjalanan terasa seperti wisata tersendiri.

Perbandingan ini menunjukkan bahwa jalan tol bukan sekadar infrastruktur transportasi, tetapi juga mencerminkan sistem, budaya, dan prioritas suatu negara.

Indonesia terus berbenah memperbaiki kualitas jalan tol, sementara Swiss menjadi contoh bagaimana pengelolaan tol bisa efisien, aman, dan ramah lingkungan. (*)


Page 3

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Negara pegunungan di jantung Eropa, Swiss, ternyata juga memiliki jalan tol berbayar seperti Indonesia.

Namun, sistem pengelolaan, kualitas infrastruktur, hingga pengalaman berkendara di jalan tol Swiss sangat berbeda dibandingkan jalan tol di Tanah Air.

Perbedaan tersebut kian menarik dicermati di tengah pesatnya pembangunan jalan tol di Indonesia, mulai dari ruas Trans Jawa hingga proyek-proyek baru yang akan segera beroperasi, salah satunya Tol Probowangi yang menghubungkan Probolinggo–Banyuwangi.

Berikut tujuh perbedaan utama jalan tol di Indonesia dan Swiss, dirangkum dari berbagai sumber dan pengalaman pengendara, sebagaimana dilansir radarsitubondo.id.

Di Indonesia, jalan tol masih berada dalam fase pengembangan dan peningkatan kualitas.

Sejumlah ruas tol memang sudah modern dan nyaman, namun di beberapa titik masih ditemui aspal bergelombang, genangan air, hingga penerangan yang belum optimal.

Selain itu, pemeliharaan di ruas padat lalu lintas kerap menjadi tantangan tersendiri.

Sementara itu, jalan tol di Swiss dikenal memiliki kualitas infrastruktur kelas dunia.

Aspal sangat halus dan terawat, sistem drainase berfungsi optimal, rambu lalu lintas jelas, serta pencahayaan memadai. Kenyamanan dan keselamatan pengendara menjadi prioritas utama.

Indonesia menerapkan sistem pembayaran tol berbasis jarak dengan kartu elektronik (e-Toll).

Meski sistem non-tunai semakin merata, antrean di gerbang tol masih sering terjadi, terutama pada jam sibuk dan musim libur panjang.

Berbeda dengan Swiss yang menggunakan sistem vignette, yakni stiker tol tahunan yang ditempel di kaca depan kendaraan.

Tidak ada gerbang tol di jalan tol utama. Pengendara cukup membeli vignette satu kali untuk penggunaan selama satu tahun, sehingga arus lalu lintas tetap lancar tanpa harus berhenti.

Tarif jalan tol di Indonesia bervariasi, tergantung jarak tempuh dan jenis kendaraan. Beberapa ruas tol memiliki tarif yang dinilai cukup tinggi, meski pemerintah terus berupaya menjaga keterjangkauan bagi masyarakat.