Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Fariz, Bocah MI Al Ma’arif Sidodadi yang Memikat Juri di BCW 2026

fariz,-bocah-mi-al-ma’arif-sidodadi-yang-memikat-juri-di-bcw-2026
Fariz, Bocah MI Al Ma’arif Sidodadi yang Memikat Juri di BCW 2026

Banyuwangi, Jurnalnews.com – Penampilan penuh pesona ditunjukkan Mohammad Fariz Al Qoyyum, siswa kelas V, MI Al Ma’arif Desa Sidodadi, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, dalam ajang Buma Competition Week 2026 (BCW’26) tingkat Jawa Timur dan Bali. Dari sekitar 500 peserta berbagai cabang lomba—mulai MIPA, IPS, English, Festival Anak Sholeh, Menggambar Poster hingga Baca Puisi—nama Fariz mencuri perhatian khusus di cabang lomba puisi.

Di antara 99 peserta lomba puisi, Fariz (11) berhasil menembus babak final. Meski belum meraih juara, penampilannya justru meninggalkan kesan mendalam bagi salah satu dewan juri, Bung Aguk Darsono. Putra pasangan Umar Qoyyum dan Isnaini Anggraini yang berdomisili di Dusun Aseman, Desa Bimorejo ini dinilai memiliki bakat seni yang kuat, meski masih sangat belia.

“Meski tidak juara, bisa masuk final dari 99 peserta itu sudah luar biasa. Fariz punya gesture, ekspresi, penghayatan, dan kepercayaan diri yang sangat baik. Ia tampil menjiwai, bahkan menggunakan properti dengan tepat. Itu yang membuat kami para juri tertarik,” ujar Bung Aguk.

Menurutnya, potensi Fariz sangat besar untuk dikembangkan. “Vokal seperti artikulasi, intonasi, dan power memang masih perlu latihan. Tapi wajar, karena dia masih pemula. Sementara peserta yang juara di sini rata-rata sudah sering ikut lomba, jadi persaingannya sangat ketat,” imbuhnya dengan nada apresiatif.

Dalam lomba tersebut, MI Al Ma’arif Sidodadi juga mengirimkan tiga peserta lain, yakni Saddam Rifqi Firdaus, El Bahrie, dan Naufal Fawwaz. Meski belum berhasil lolos ke final, keikutsertaan mereka menjadi bukti semangat dan keberanian siswa-siswi MI Al Ma’arif dalam berkompetisi di tingkat regional.

BCW’26 yang digelar oleh SMP Bustanul Makmur Genteng pada 31 Januari – 3 Februari 2026 ini juga menjadi ajang penjaringan siswa baru melalui program Golden Tiket bagi para juara hingga harapan 2 untuk otomatis diterima sebagai siswa angkatan ke-24 tahun ajaran 2026–2027.

Fariz sendiri mengaku sangat bahagia bisa mengikuti lomba tersebut. “Saya senang sekali ikut lomba ini. Banyak pengalaman, tambah ilmu, tambah teman. Saya ingat pesan Pak Aguk, tidak apa-apa berbadan kecil, tapi harus punya hati yang besar. Semoga ke depan saya lebih semangat dan bisa juara,” ungkapnya polos saat ditemui di sekolahnya, Selasa (3/2/2026).

Dalam babak final, Fariz hanya diberi waktu 30 menit untuk mempelajari puisi berjudul “Sawah” yang disediakan panitia. Sementara di babak penyisihan, ia membawakan puisi “Indahnya Indonesia” dengan penuh penghayatan.

Meski belum membawa pulang piala, langkah Fariz di BCW’26 menjadi bukti bahwa bakat besar bisa lahir dari siapa saja. Dengan pembinaan yang tepat, bukan mustahil nama Mohammad Fariz Al Qoyyum kelak akan menjadi salah satu bintang muda di dunia seni sastra Banyuwangi, bahkan Jawa Timur. (Venus Hadi).