Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Tol Jember–Lumajang Senilai Rp13,6 Triliun Masuk Skema KPBU, Konsesi 50 Tahun dan Digarap dengan Pola BOT

tol-jember–lumajang-senilai-rp13,6-triliun-masuk-skema-kpbu,-konsesi-50-tahun-dan-digarap-dengan-pola-bot
Tol Jember–Lumajang Senilai Rp13,6 Triliun Masuk Skema KPBU, Konsesi 50 Tahun dan Digarap dengan Pola BOT

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Rencana pembangunan Jalan Tol Jember–Lumajang kian menemukan bentuknya.

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Direktorat Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum (DJPI) resmi memasukkan proyek strategis ini ke dalam daftar proyek Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) yang disiapkan untuk ditawarkan kepada investor.

Proyek jalan tol yang akan menjadi tulang punggung konektivitas kawasan Tapal Kuda bagian selatan ini memiliki indikasi nilai investasi sebesar Rp13,60 triliun, dengan nilai konstruksi diperkirakan mencapai Rp8,40 triliun.

Jalan tol ini dirancang untuk menghubungkan Kabupaten Jember dan Kabupaten Lumajang secara langsung, memangkas waktu tempuh sekaligus memperkuat arus logistik dan mobilitas masyarakat.

Skema KPBU, Beban APBN Lebih Ringan

Dalam dokumen resmi DJPI Kementerian PU, Jalan Tol Jember–Lumajang ditetapkan sebagai proyek Solicited KPBU, artinya proyek ini diprakarsai oleh pemerintah dan ditawarkan kepada badan usaha untuk dikerjakan bersama.

Skema yang digunakan adalah Build Operate Transfer (BOT), di mana badan usaha bertanggung jawab atas pembangunan dan pengoperasian jalan tol selama masa konsesi, sebelum akhirnya diserahkan kembali kepada pemerintah.

Masa konsesi yang ditawarkan tergolong panjang, yakni 50 tahun, dengan skema pengembalian investasi melalui user charge atau tarif tol yang dibayarkan pengguna jalan.

Penanggung Jawab Proyek Kerja Sama (PJPK) dalam proyek ini adalah Menteri Pekerjaan Umum, yang bertugas memastikan proyek berjalan sesuai regulasi serta menjamin kepastian hukum bagi investor.

Kelayakan Finansial Dinilai Menarik

Dari sisi kelayakan finansial, proyek Tol Jember–Lumajang dinilai cukup atraktif. Berdasarkan kajian yang disiapkan pemerintah:

  • Financial Internal Rate of Return (FIRR): 12,03%
  • Financial Net Present Value (FNPV): Rp1,05 triliun
  • Weighted Average Cost of Capital (WACC): 10,88%

Angka FIRR yang berada di atas WACC menunjukkan proyek ini secara finansial layak dan berpotensi memberikan imbal hasil kompetitif bagi investor jangka panjang.

Sementara itu, untuk aspek kelayakan ekonomi seperti Economic Internal Rate of Return (EIRR), Economic Net Present Value (ENPV), dan Benefit Cost Ratio (BCR) masih dalam proses pendalaman lanjutan seiring pematangan dokumen teknis.

Tahap Kesiapan Proyek Terus Dimatangkan

Sumber: simpulkpbu.pu.go.id


Page 2

Kementerian PU juga memastikan bahwa kesiapan proyek (readiness criteria) terus dimatangkan.

Sejumlah dokumen penting telah disiapkan dan masuk dalam tahapan penyiapan proyek, antara lain:

  • PPP Book
  • Basic Design
  • KA Andal (Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan)
  • DPPT
  • Usulan Penetapan Lokasi (Penlok)

Langkah ini penting untuk memberikan kepastian kepada calon investor bahwa proyek telah melalui proses perencanaan yang matang dan memiliki dasar hukum serta teknis yang kuat.

Peran Strategis bagi Kawasan Tapal Kuda

Jalan Tol Jember–Lumajang diproyeksikan menjadi pengungkit utama pertumbuhan ekonomi kawasan Tapal Kuda, khususnya Jember dan Lumajang yang selama ini mengandalkan jalur nasional non-tol dengan kepadatan lalu lintas tinggi.

Kehadiran tol ini diyakini akan:

  • Mempercepat distribusi hasil pertanian, perkebunan, dan industri
  • Menekan biaya logistik
  • Mendorong investasi baru di sektor manufaktur dan pariwisata
  • Memperkuat konektivitas antarwilayah di Jawa Timur bagian timur dan selatan

Bagi Jember, tol ini akan menjadi akses vital menuju jaringan jalan tol nasional, sekaligus memperkuat posisinya sebagai pusat ekonomi dan pendidikan di wilayah tapal kuda.

Daya Tarik bagi Investor Infrastruktur

Dengan skema KPBU, konsesi panjang, serta proyeksi lalu lintas yang menjanjikan, Tol Jember–Lumajang diproyeksikan menjadi salah satu proyek infrastruktur paling strategis di Jawa Timur dalam dekade mendatang.

Kementerian PU berharap partisipasi badan usaha nasional maupun internasional dapat mempercepat realisasi proyek ini, sekaligus mendorong pembangunan infrastruktur tanpa membebani APBN secara berlebihan.

Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, Jalan Tol Jember–Lumajang bukan hanya akan memangkas jarak, tetapi juga membuka babak baru percepatan ekonomi kawasan timur Jawa Timur. (*)

Sumber: simpulkpbu.pu.go.id


Page 3

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Rencana pembangunan Jalan Tol Jember–Lumajang kian menemukan bentuknya.

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Direktorat Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum (DJPI) resmi memasukkan proyek strategis ini ke dalam daftar proyek Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) yang disiapkan untuk ditawarkan kepada investor.

Proyek jalan tol yang akan menjadi tulang punggung konektivitas kawasan Tapal Kuda bagian selatan ini memiliki indikasi nilai investasi sebesar Rp13,60 triliun, dengan nilai konstruksi diperkirakan mencapai Rp8,40 triliun.

Jalan tol ini dirancang untuk menghubungkan Kabupaten Jember dan Kabupaten Lumajang secara langsung, memangkas waktu tempuh sekaligus memperkuat arus logistik dan mobilitas masyarakat.

Skema KPBU, Beban APBN Lebih Ringan

Dalam dokumen resmi DJPI Kementerian PU, Jalan Tol Jember–Lumajang ditetapkan sebagai proyek Solicited KPBU, artinya proyek ini diprakarsai oleh pemerintah dan ditawarkan kepada badan usaha untuk dikerjakan bersama.

Skema yang digunakan adalah Build Operate Transfer (BOT), di mana badan usaha bertanggung jawab atas pembangunan dan pengoperasian jalan tol selama masa konsesi, sebelum akhirnya diserahkan kembali kepada pemerintah.

Masa konsesi yang ditawarkan tergolong panjang, yakni 50 tahun, dengan skema pengembalian investasi melalui user charge atau tarif tol yang dibayarkan pengguna jalan.

Penanggung Jawab Proyek Kerja Sama (PJPK) dalam proyek ini adalah Menteri Pekerjaan Umum, yang bertugas memastikan proyek berjalan sesuai regulasi serta menjamin kepastian hukum bagi investor.

Kelayakan Finansial Dinilai Menarik

Dari sisi kelayakan finansial, proyek Tol Jember–Lumajang dinilai cukup atraktif. Berdasarkan kajian yang disiapkan pemerintah:

  • Financial Internal Rate of Return (FIRR): 12,03%
  • Financial Net Present Value (FNPV): Rp1,05 triliun
  • Weighted Average Cost of Capital (WACC): 10,88%

Angka FIRR yang berada di atas WACC menunjukkan proyek ini secara finansial layak dan berpotensi memberikan imbal hasil kompetitif bagi investor jangka panjang.

Sementara itu, untuk aspek kelayakan ekonomi seperti Economic Internal Rate of Return (EIRR), Economic Net Present Value (ENPV), dan Benefit Cost Ratio (BCR) masih dalam proses pendalaman lanjutan seiring pematangan dokumen teknis.

Tahap Kesiapan Proyek Terus Dimatangkan

Sumber: simpulkpbu.pu.go.id