Tradisi Unik Dukuh Andong, Rebutan Ayam Sebagai Lambang Persaingan Hidup

0
1432
Warga Dusun Andon membawa 9 tumpeng ke tempat keramat yang mereka sebut petaunan. (Foto: timesbanyuwangi.com)

BANYUWANGI – Untuk menghadapi persaingan hidup di masa modern ini, nenek moyang warga Dukuh Andong, Desa Taman Suruh, Kecamatan Glagah,  Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur sebetulnya telah memberi ajaran bagaimana menghadapinya. Mereka mengajarkan agar anak-anak mereka di Dukuh Andong memiliki tujuan dalam hidup dan bekerja keras mencapai tujuan itu.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Hal itu yang tertuang dalam acara Tumpeng 9 Dukuh Andong dimana 4 ayam panggang atau disebut warga Banyuwangi sebagai Pitek Peteteng, ditaruh dalam bahtera buatan dari pohon pisang emas.

Loading...
Pemuda Dusun Andong memperebutkan daging ayam panggang sebagai lambang kompetisi dalam kehidupan. (Foto: timesbanyuwangi.com)

Perahu buatan itu, bersama 9 tumpeng diarak dari salah satu perempatan desa ke tempat keramat dusun yang disebut petaunan. Pitek Peteteng dalam bahtera yang dibawa di arak-arakan dengan jarak tempuh sekitar 300 meter itu menggambarkan impian masing-masing manusia di tengah lautan kehidupan.

“Pisang emas melambangkan kemakmuran dan masa keemasan. Sebelumnya yang memasak tumpeng tidak boleh berbicara sebagai lambang kefokusan dalam bekerja mencapai tujuan, ” kata Ismail, tokoh adat setempat, Minggu ( 13 / 8 / 2017) .

Setelah berdoa bersama di petaunan yang berupa batu besar di atas bukit kecil itu, bahtera buatan dan 9 tumpeng yang dibawa gadis-gadis setempat diarak keliling kampung, yang disebut ‘ider bumi’, hingga kembali ke perempatan.  Di situ doa bersama kembali dipanjatkan dan tumpeng dibuka untuk dimakan bersama.

Lanjutkan Membaca : 1 | 2