Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Update BMKG: Musim Hujan 2026 Diprediksi Berakhir April, Puncak Masih Terjadi di Sejumlah Wilayah

update-bmkg:-musim-hujan-2026-diprediksi-berakhir-april,-puncak-masih-terjadi-di-sejumlah-wilayah
Update BMKG: Musim Hujan 2026 Diprediksi Berakhir April, Puncak Masih Terjadi di Sejumlah Wilayah

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperbarui prakiraan terkait akhir musim hujan 2026.

Berdasarkan analisis terbaru, musim hujan diperkirakan masih akan berlangsung hingga sekitar April 2026, sebelum sebagian besar wilayah Indonesia memasuki masa peralihan menuju musim kemarau.

Update ini menjadi perhatian publik seiring masih tingginya curah hujan di berbagai daerah, yang dalam beberapa pekan terakhir memicu banjir, longsor, dan gangguan aktivitas masyarakat.

BMKG menegaskan bahwa meskipun kalender klimatologis menunjukkan peralihan musim mulai mendekat, intensitas hujan di sejumlah wilayah masih cukup tinggi, terutama pada periode puncak musim hujan.

Puncak Musim Hujan Berbeda Tiap Wilayah

BMKG mencatat bahwa puncak musim hujan tidak terjadi serentak di seluruh Indonesia.

Perbedaan letak geografis dan pengaruh sistem atmosfer regional membuat setiap wilayah memiliki karakter musim hujan yang berbeda.

Untuk wilayah Sumatera dan Kalimantan, puncak musim hujan sebagian besar telah terjadi lebih awal, yakni pada November hingga Desember 2025.

Sementara itu, wilayah Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Papua justru masih berada pada fase puncak hujan yang berlangsung pada Januari hingga Februari 2026.

Kondisi inilah yang menyebabkan potensi cuaca ekstrem masih perlu diwaspadai, khususnya di wilayah padat penduduk dan daerah rawan bencana.

Mayoritas Wilayah Diprediksi Curah Hujan Normal

Secara umum, BMKG memproyeksikan bahwa sekitar 94,7 persen wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan tahunan dalam kategori normal sepanjang 2026.

Curah hujan tahunan tersebut diperkirakan berada pada kisaran 1.500 hingga 4.000 milimeter per tahun.

Namun demikian, sekitar 5,1 persen wilayah lainnya diprediksi mengalami curah hujan di atas normal.

Wilayah tersebut mencakup sebagian daerah di Jawa Barat, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Daerah-daerah ini dinilai memiliki risiko lebih tinggi terhadap kejadian hidrometeorologi.


Page 2

Di sisi lain, BMKG juga mencatat bahwa sejumlah wilayah diperkirakan lebih cepat memasuki musim kemarau, bahkan sejak awal 2026.

Wilayah tersebut antara lain Aceh bagian timur, Sumatera Utara, Riau, dan sebagian Jambi.

Kondisi ini dipengaruhi oleh letak wilayah yang berada di sekitar garis khatulistiwa dan memiliki pola iklim unik, termasuk potensi dua kali pergantian musim hujan dan kemarau dalam setahun.

Risiko Bencana Masih Mengintai

BMKG mengingatkan bahwa selama musim hujan belum sepenuhnya berakhir, risiko bencana hidrometeorologi masih cukup tinggi.

Beberapa potensi bencana yang perlu diwaspadai meliputi banjir, banjir bandang, genangan air, tanah longsor, hingga angin kencang.

Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, terutama yang tinggal di wilayah rawan bencana.

Pemerintah daerah juga diharapkan meningkatkan kesiapsiagaan dengan memastikan sistem drainase berfungsi baik dan melakukan langkah mitigasi sejak dini.

Masyarakat Diminta Aktif Pantau Informasi Cuaca

BMKG mengajak masyarakat untuk secara aktif memantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG, baik melalui situs web maupun aplikasi Info BMKG.

Informasi real-time dinilai penting untuk mendukung pengambilan keputusan, terutama bagi pelaku transportasi, pertanian, dan aktivitas luar ruang.

Dengan update prediksi BMKG ini, masyarakat diharapkan dapat lebih siap menghadapi sisa musim hujan 2026.

Meski akhir musim hujan diperkirakan semakin dekat, kewaspadaan tetap menjadi kunci untuk meminimalkan risiko dan dampak bencana di berbagai daerah. (*)


Page 3

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperbarui prakiraan terkait akhir musim hujan 2026.

Berdasarkan analisis terbaru, musim hujan diperkirakan masih akan berlangsung hingga sekitar April 2026, sebelum sebagian besar wilayah Indonesia memasuki masa peralihan menuju musim kemarau.

Update ini menjadi perhatian publik seiring masih tingginya curah hujan di berbagai daerah, yang dalam beberapa pekan terakhir memicu banjir, longsor, dan gangguan aktivitas masyarakat.

BMKG menegaskan bahwa meskipun kalender klimatologis menunjukkan peralihan musim mulai mendekat, intensitas hujan di sejumlah wilayah masih cukup tinggi, terutama pada periode puncak musim hujan.

Puncak Musim Hujan Berbeda Tiap Wilayah

BMKG mencatat bahwa puncak musim hujan tidak terjadi serentak di seluruh Indonesia.

Perbedaan letak geografis dan pengaruh sistem atmosfer regional membuat setiap wilayah memiliki karakter musim hujan yang berbeda.

Untuk wilayah Sumatera dan Kalimantan, puncak musim hujan sebagian besar telah terjadi lebih awal, yakni pada November hingga Desember 2025.

Sementara itu, wilayah Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Papua justru masih berada pada fase puncak hujan yang berlangsung pada Januari hingga Februari 2026.

Kondisi inilah yang menyebabkan potensi cuaca ekstrem masih perlu diwaspadai, khususnya di wilayah padat penduduk dan daerah rawan bencana.

Mayoritas Wilayah Diprediksi Curah Hujan Normal

Secara umum, BMKG memproyeksikan bahwa sekitar 94,7 persen wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan tahunan dalam kategori normal sepanjang 2026.

Curah hujan tahunan tersebut diperkirakan berada pada kisaran 1.500 hingga 4.000 milimeter per tahun.

Namun demikian, sekitar 5,1 persen wilayah lainnya diprediksi mengalami curah hujan di atas normal.

Wilayah tersebut mencakup sebagian daerah di Jawa Barat, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Daerah-daerah ini dinilai memiliki risiko lebih tinggi terhadap kejadian hidrometeorologi.