Usaha Rajang Tembakau Menurun

0
153

usahaMUNCAR – Para petani di Desa Sumbersewu, Kecamatan Muncar, kini mulai meninggalkan tanaman tembakau. Padahal, warga di daerah itu selama ini dikenal sebagai penghasil tembakau terbesar di Kota Gandrung. Home industry rajangan tembakau yang banyak digeluti warga juga mulai ditinggalkan. Sebab, mereka kesulitan mendapat tembakau. “Sekarang tembakau sulit didapat, tidak seperti dulu, Mas,” terang Syaiful, 32, salah satu petani tembakau.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Loading...

Syaiful menyebut, tembakau yang dirajang dan dijemur di rumahnya itu tidak semua berasal dari desanya. Dia juga mendatangkan dari daerah lain. “Harga dimonopoli pabrik. Kita hanya merajang dan menjemur,” katanya. Menurut Syaiful, merajang dan menjemur tembakau memerlukan biaya. Setelah dirajang, tembakau tidak bisa langsung dijemur, tapi harus ditaburi gula pasir. “ Satu widik butuh gula pasir seperempat kilogram,” ungkapnya. 

Selama ini, jelas dia, pemerintah atau dinas terkait belum pernah melihat usaha yang mereka geluti. Padahal, warga yang memiliki home industry rajang tembakau cukup banyak. “Bukan hanya di wilayah Kecamatan Muncar, tapi juga di Kecamatan Srono dan Rogojampi,” ungkapnya. Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Sumbersewu Muhammad Dardiri membantah jika usaha warga tersebut tidak pernah mendapat perhatian sama sekali. Kunjungan dinas terkait ke tempat usaha rajangan tembakau pernah dilakukan. “Desa juga melakukan pendampingan. Tapi pengajuan modal usaha memang belum terealisasi,” katanya. (radar)

Loading...