Adakan Pertandingan Tarkam Sambil Arisan

0
149
HAK BELUM DIPENUHI: Pemain lokal Persewangi tetap menggelar silaturahmi guna menjaga kekompakan.

Sedianya mereka akan Selama 10 bulan membela Persewangi, para pemain hanya menikmati gaji selama 2,5 bulan. Selebihnya, nihil. Bagaimana usaha para pemain dalam bertahan hidup?


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

-NIKLAAS ANDRIES, Banyuwangi-

TATAPAN kosong terlihat jelas di mata 10 pemain Persewangi yang mendatangi kantor DPRD Senin (4/6) lalu. Mengenakan jaket berlogo Persewangi, mereka duduk di bawah pohon mangga yang berdiri persis di belakang kantor dewan. Sedianya mereka akan melakukan hearing dengan DPRD terkait nasib mereka selama membela tim kebanggaan masyarakat Banyuwangi tersebut.

Tidak banyak kata yang terlontar dari mulut mereka. Mereka hanya diam membisu. Obrolan baru lepas saat seseorang menanyakan eksistensi Persewangi dan kabar mereka saat ini. Keluh-kesah pun dituangkan. Satu per satu menceritakan kondisi keluarga mereka dalam bertahan hidup tanpa gaji. Tentu kebutuhan hidup mereka sehari-hari tidak sedikit.

Sebagai kepala keluarga, kebutuhan rumah tangga, pendidikan anak, biaya persalinan anak, dan lain-lain, harus mereka penuhi semua. Tanpa gaji, maka itu menjadi pekerjaan rumah yang harus mereka pikirkan. Nyatanya, harapan memperoleh gaji dan persekot kontrak ibarat api jauh dari panggang. Sejumlah langkah sudah ditempuh; menemui manajemen, wakil bupati, dan memperjuangkan hearing.

Meski telah banyak upaya yang ditempuh, tapi hasilnya masih belum bisa dilihat. “Entah kapan kondisi ini berakhir,” ujar Nurcahyo, pemain senior Persewangi. Sembari menunggu niat baik pihak manajemen, tidak jarang mereka melakukan kerja sampingan. Melakoni pertandingan tarikan antar kampung (tarkam) pun dilakoni.

Selain itu, tidak jarang mereka melakukan kerja kasar. Semua itu hanya untuk satu semangat; demi menyambung hidup dan dapur tetap mengepul. Kerja sampingan itu memberi sedikit ruang pagi para pemain untuk bernapas. Dompet yang kering pun menjadi sedikit basah. Hasilnya memang lumayan. Dalam sekali pertandingan tarkam, minimal mereka membawa pulang Rp 250 ribu.

Tetapi, itu tergantung klasifikasi babak dan tim yang dibela. Jika menang, otomatis uang yang dibawa pulang untuk istri di rumah menjadi bertambah. Namun, pekerjaan sampingan itu hanya seumur jagung. Sebab, tenggat waktu kompetisi tarkam sangat pendek, ditambah turnamen tarkam intensitasnya sangat rendah. “Tapi lumayan sekadar agar tetap pegang uang,” ujar Raul Setiawan, bintang lini tengah Persewangi.

Ternyata nasib ngenes itu menambah solidaritas para pemain, ini tampak dengan adanya arisan yang digelar 10 pemain lokal Persewangi. Demi menjaga silaturahmi dan membantu nasib sesama, mereka sepakat berkumpul dalam wadah tersebut. Namanya juga pemain bola, model arisannya tidak jauh dari lapangan hijau. Arisan dijadwalkan seminggu sekali.

Dengan uang Rp 100 ribu atau Rp 200 ribu dari tiap dalam sekali kocokan, arisan akan diputar ke setiap rumah pemain yang tersebar di wilayah Banyuwangi. Selepas arisan, tuan rumah wajib menyediakan satu tim sepak bola dari daerah asalnya untuk melakukan pertandingan persahabatan. “Jadi yang dapat arisan wajib menyediakan satu tim untuk melawan pemain Persewangi yang ikut arisan,” beber Heri Viandoyo, gelandang Persewangi.

Tentu arisan tersebut, selain menjaga ikatan emosional antar pemain, juga akan menjaga sentuhan mereka terhadap bola. Bila musim depan masih dibutuhkan Persewangi, mereka sudah siap. Mereka berharap, hak pemain yang saat ini tertunggak akan dipenuhi manajemen. “Ini dekat Lebaran, mudah-mudahan nasib kami diperhatikan,” pinta Ikrom Syafi’i, bomber Laskar Blambangan. (radar)

Loading...