sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Cuaca ekstrem kembali menghantui perairan Laut Selatan Jawa Timur, termasuk wilayah Banyuwangi.
BMKG Stasiun Meteorologi Kelas III Banyuwangi mengeluarkan peringatan dini terkait potensi gelombang tinggi, Jumat (20/2).
Peringatan tersebut menyusul insiden nahas yang menimpa nelayan asal Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi.
Sugiyanto, 57, meninggal dunia setelah perahunya terbalik akibat dihantam ombak tinggi di sekitar perairan Pulau Bedil, Kamis (19/2).
Peristiwa itu menjadi alarm keras bagi para nelayan dan pelaku pelayaran tradisional di wilayah selatan Banyuwangi untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca laut yang tidak bersahabat.
Gelombang Capai 2,5 Meter, Sore Hari Lebih Berbahaya
Prakirawan BMKG Banyuwangi, Ibnu Haryo, menjelaskan bahwa tinggi gelombang di perairan selatan Banyuwangi pada pagi hingga siang hari diperkirakan berkisar antara 1,5 hingga 2,5 meter.
Namun, pada sore hari, ketinggian gelombang berpotensi meningkat signifikan.
“Gelombang setinggi itu masuk kategori tinggi dan perlu diwaspadai, khususnya pada siang sampai sore,” tegas Ibnu.
Menurutnya, kondisi gelombang tinggi tidak hanya terjadi di perairan selatan Banyuwangi, tetapi juga meluas hingga perairan selatan Pulau Bali.
Faktor utama penyebabnya adalah meningkatnya embusan angin di wilayah tersebut.
“Semakin besar embusan angin yang ditransfer ke permukaan laut, akan semakin tinggi gelombangnya. Untuk wilayah selatan Banyuwangi, gelombang umum biasanya 1,25–2,5 meter pada tiga hari terakhir,” tambahnya.
Kondisi tersebut dinilai cukup berisiko bagi kapal kecil, terutama perahu nelayan tradisional yang rentan terhadap terpaan gelombang tinggi.
Potensi Siklon Tropis Nihil, Tapi Awan Cb Mengancam
BMKG juga memantau kemungkinan terbentuknya bibit siklon tropis di sekitar wilayah perairan selatan Jawa Timur.
Page 2
Namun, hingga saat ini, belum terdeteksi adanya tekanan rendah yang berpotensi berkembang menjadi siklon.
“Ada potensi terbentuknya bibit siklon tropis. Tapi dari hasil monitoring untuk beberapa hari ini kondisi tekanan rendah yang menghasilkan siklon tropis terpantau nihil,” ujar Ibnu.
Meski begitu, nelayan dan masyarakat pesisir tetap diminta waspada terhadap potensi munculnya awan Cumulonimbus (Cb).
Awan jenis ini dapat memicu hujan lebat, petir, serta angin kencang yang terjadi secara tiba-tiba.
“Awan Cb bisa muncul mendadak dan menghasilkan hujan lebat disertai petir serta angin kencang sesaat. Ini yang perlu diwaspadai,” jelasnya.
Imbauan untuk Nelayan dan Pelaku Pelayaran
BMKG mengimbau masyarakat pesisir, nelayan, serta pelaku pelayaran agar lebih berhati-hati dalam beberapa hari ke depan.
Aktivitas melaut menggunakan kapal kecil atau perahu nelayan sebaiknya ditunda sementara jika kondisi gelombang meningkat.
Selain itu, nelayan diharapkan rutin memperbarui informasi prakiraan cuaca dan tinggi gelombang melalui kanal resmi BMKG. Update terbaru akan terus disampaikan untuk meminimalkan risiko kecelakaan laut.
“Update ketinggian gelombang perairan selatan Banyuwangi akan kami sampaikan. Tetap waspada,” pungkas Ibnu.
Dengan kondisi cuaca laut yang dinamis dan cenderung ekstrem, keselamatan harus menjadi prioritas utama.
Insiden perahu terbalik yang merenggut korban jiwa menjadi pelajaran penting bahwa faktor cuaca tak boleh diabaikan saat beraktivitas di laut selatan yang dikenal memiliki karakter ombak besar dan arus kuat. (sas/sgt)
Page 3
sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Cuaca ekstrem kembali menghantui perairan Laut Selatan Jawa Timur, termasuk wilayah Banyuwangi.
BMKG Stasiun Meteorologi Kelas III Banyuwangi mengeluarkan peringatan dini terkait potensi gelombang tinggi, Jumat (20/2).
Peringatan tersebut menyusul insiden nahas yang menimpa nelayan asal Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi.
Sugiyanto, 57, meninggal dunia setelah perahunya terbalik akibat dihantam ombak tinggi di sekitar perairan Pulau Bedil, Kamis (19/2).
Peristiwa itu menjadi alarm keras bagi para nelayan dan pelaku pelayaran tradisional di wilayah selatan Banyuwangi untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca laut yang tidak bersahabat.
Gelombang Capai 2,5 Meter, Sore Hari Lebih Berbahaya
Prakirawan BMKG Banyuwangi, Ibnu Haryo, menjelaskan bahwa tinggi gelombang di perairan selatan Banyuwangi pada pagi hingga siang hari diperkirakan berkisar antara 1,5 hingga 2,5 meter.
Namun, pada sore hari, ketinggian gelombang berpotensi meningkat signifikan.
“Gelombang setinggi itu masuk kategori tinggi dan perlu diwaspadai, khususnya pada siang sampai sore,” tegas Ibnu.
Menurutnya, kondisi gelombang tinggi tidak hanya terjadi di perairan selatan Banyuwangi, tetapi juga meluas hingga perairan selatan Pulau Bali.
Faktor utama penyebabnya adalah meningkatnya embusan angin di wilayah tersebut.
“Semakin besar embusan angin yang ditransfer ke permukaan laut, akan semakin tinggi gelombangnya. Untuk wilayah selatan Banyuwangi, gelombang umum biasanya 1,25–2,5 meter pada tiga hari terakhir,” tambahnya.
Kondisi tersebut dinilai cukup berisiko bagi kapal kecil, terutama perahu nelayan tradisional yang rentan terhadap terpaan gelombang tinggi.
Potensi Siklon Tropis Nihil, Tapi Awan Cb Mengancam
BMKG juga memantau kemungkinan terbentuknya bibit siklon tropis di sekitar wilayah perairan selatan Jawa Timur.








